Jakarta, Bimas Islam -- Menggantung foto ulama jamak kita jumpai di rumah makan, toko, rumah, dan kantor perusahaan. Lantas bagaimana pandangan fikih terkait hukum menggantung gambar ulama? Menurut fikih, hukum memajang foto ulama hukumnya adalah boleh. Pasalnya, memandang wajahnya para ulama ini mengandung banyak manfaat.
Dalil kebolehan ini sebagaimana legitimasi disampaikan oleh maha guru Nusantara, Syekh Nawawi Al-bantani dalam kitab Nadzam Aqidatul Awam, menuliskan:
وثالثها مندوب وهو ما تناولته قواعد الندب وأدلته كصلاة التراويح جماعة واقامة صور الائمة والقضاة وولاة الامور على خلاف ما كان عليه الصحابة رضوان الله عليهم بسبب ان المصالح والمقاصد الشرعية لا تحصل الا بعظمة الولاة في نفوس الناس وكان الناس في زمان الصحابة رضي الله عنهم انما يعظمون بالدين وسابق الهجرة والاسلام ثم اختل النظام حتى صاروا لا يعظمون الا بالصور
“Bid’ah ketiga adalah bid’ah yang dianjurkan. Yaitu bid’ah yang masuk dalam cakupan kaidah amalan sunnah dan dalil-dalilnya, seperti praktik shalat tarawih berjamaah dan memasang foto para imam, hakim dan para penguasa yang berbeda dengan praktik para sahabat nabi. Hal ini disebabkan bahwa kemaslahatan dan prinsip-prinsip syariat tidak dapat diwujudkan kecuali dengan menumbuhkan citra kewibawaan para penguasa dalam hati masyarakat.
Masyarakat pada zaman sahabat nabi dihormati karena agama serta senioritas dalam hijrah dan Islam. Kemudian aturan menjadi rusak sampai pada tahap para pemimpin tidak dihormati kecuali dengan cara memasang gambar mereka.” (Syekh Nawawi Al-bantani, Nuruzh Zhalam Syarah Aqidatil Awwam. (Beirut: Dar Al-Hawi, 1996) Halaman. 27).
Akan tetapi penting juga diperhatikan bahwa jangan sampai foto ulama tadi direndahkan, semisal diinjak-injak, diduduki dan lain-lain. Dan memajangnya pun tidak boleh ada unsur merendahkannya atau membuka aibnya. Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Murtadha Al-Zabidin:
وَاِنَّمَا المُحَرَّمُ اسْتِصْغَارٌ يَتَأَذَّي بِهِ المُسْتَهْزَأَ بِهِ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَحْقِيرِ وِالتَهَاوُنِ وَذلك تَارّةً علي كَلَامِهِ إِذَا تَخَبَّطَ فِيْهِ وَلَمْ يَنْتَظِمْ أَوْ عَلَي أَفْعَالِهِ إِذَا كُنْتَ مُشَوَّشَةً كَالضَحَكِ علي خَطِّهِ اَوْ عَلي صَنْعَتِهِ اَو عَلَي صُوْرَتِهِ وَخُلقَتِهِ اِذَا كَانَ قَصِيْرًا اَوْ نَاقِصًا لِعَيْبٍ مِنَ العُيُوْبِ فَالضَحَكُ مِن جَمِيعِ ذَلِك دَاخِلًا في السَخْرِيَّةِ.
“Yang diharamkan yakni, melecehkan berupa meremehkan dan merendahkan obyek, hingga berujung pada sakit hati kepada yang dilecehkan. Terkadang pelecehan atas ucapannya, menertawakan gerak-geriknya, tulisannya, hasil karyanya, foto (gambarnya), dan kepribadian yang menjadi aibnya. Tertawa terhadap hal tersebut termasuk ke dalam pelecehan”. (Syekh Murtadha Al-Zabidi, Ithaf al-Sadat al-Muttaqin bi syarh Ihya’ Ulum al-Din. (Beirut: Dar Al-kutub Al-Ilmiyah, t.t) Juz 9, hal. 233)
Sebagai kesimpulan akhir, memajang foto ulama hukumnya boleh, asalkan tidak ada unsur merendahkannya atau membuka aibnya. Semoga bermanfaat.
(Tim Layanan Syariah)
المساهمون وجهة العمل
انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.







