Bimas IslamDitjen Bimbingan Masyarakat Islam · Kemenag RI

Di Grup Kita Diam, di Japri Kita Panjang Bicara: Ada Apa?

Dr. Nur Kumala Dewi, S. Kom., M. Pd

Analis Kebijakan Ahli Madya

Kementerian Agama RI

“Ada masukan sebelum pembagian tugas ini ditetapkan?” Pesan itu masuk ke grup kerja. Beberapa menit berlalu. Satu orang menjawab, “Siap.” Yang lain menyusul dengan jempol. Tidak lama kemudian, ponsel seorang anggota tim justru ramai oleh pesan pribadi: jadwal berbenturan, data belum tersedia, pembagian pekerjaan belum jelas. Di grup terlihat sepakat. Di japri, persoalan baru mulai dibicarakan.

Ilustrasi itu mungkin dekat dengan keseharian kita. Ada pegawai yang sudah mengetik keberatan, lalu menghapusnya karena khawatir dianggap membantah. Ada pula pimpinan yang merasa sudah membuka kesempatan, tetapi tidak menerima informasi yang dibutuhkan. Ketika pekerjaan tersendat, keduanya sama-sama terkejut: “Mengapa tidak bilang dari awal?” dan “Memangnya boleh berbeda pendapat?”

Pada episode pertama, kita membahas cara mengoreksi pekerjaan tanpa melukai martabat. Sekarang, mari melihat apa yang terjadi sesudah pertanyaan dilemparkan. Apakah orang merasa bisa menjawab dengan jujur, atau hanya sedang memilih jawaban yang paling aman?

Sebagian dari kita pernah berada di kedua kursi itu: menunggu arahan atasan, lalu meminta jawaban anggota tim. Kita ingin didengarkan, tetapi saat lelah justru memotong penjelasan orang lain. Menyadarinya memberi kesempatan memperbaiki respons berikutnya.

Diam belum tentu sepakat.

Seseorang mungkin belum membaca pesan, sedang melayani masyarakat, atau membutuhkan waktu memeriksa data. Pegawai baru bisa belum memahami konteks pembicaraan. Ada yang lebih nyaman menyusun pikiran sebelum menjawab. Karena itu, jangan tergesa-gesa memberi cap tidak peduli, penakut, atau tidak kompeten kepada orang yang belum bersuara. Namun, kendala yang diketahui tetap perlu menemukan jalan untuk disampaikan.

Tulisan Sulistyo Widyanti tentang “Komunikasi Asertif” di situs BKN, 13 Juni 2025, menggambarkan pegawai yang enggan memberi masukan saat rapat dan atasan yang menyimpan kekecewaan. Ilustrasi edukatif tersebut menunjukkan bahwa persoalan komunikasi perlu diperhatikan dari kedua arah; bukan survei tentang banyaknya pegawai yang memilih diam.

James Detert dan Ethan Burris, dalam Academy of Management Journal pada 2007, meneliti 3.149 pegawai dan 223 manajer di sebuah jaringan restoran. Keterbukaan manajer berkaitan dengan keberanian menyampaikan masukan, melalui rasa aman untuk berbicara. Bayangkan orang dapat mengingatkan kesalahan tanpa takut dipermalukan. Temuan ini bukan ukuran khusus kantor Indonesia, tetapi memberi bekal untuk memeriksa respons kita ketika seseorang berbeda pendapat.

Diamnya seseorang bisa menyimpan pertimbangan tentang apa yang terjadi setelah ia berbicara. Pengalaman dipotong atau dicap sulit diajak bekerja sama dapat terbawa ke percakapan berikutnya. Sebaliknya, pimpinan bisa menghadapi masukan yang terlambat atau menyerang pribadi. Jadi, setelah seseorang berani berbicara, apa yang terjadi pada masukannya? Pertanyaan itu layak diajukan kepada diri sendiri dan tim.

Lalu, apakah japri selalu keliru?

Tentu tidak. Japri bisa membantu kita meminta penjelasan, membahas hal sensitif, atau menenangkan diri sebelum menyusun jawaban. Yang perlu ditanyakan adalah ke mana informasi pergi setelah kita selesai bercerita. Jika menyangkut kendala kerja, siapa yang perlu mengetahuinya agar dapat mengambil tindakan? Percakapan pribadi bisa menjadi langkah awal menuju penyelesaian.

Rekan yang menerima cerita punya peran penting. Daripada segera menyimpulkan, “Memang begitu orangnya,” kita bisa bertanya, “Bagian tugas mana yang sulit? Sudah sempat dikonfirmasi?” Jika diperlukan, tawarkan bantuan menata penjelasan. Jaga kepercayaan dengan tidak menyebarkan tangkapan layar atau identitas tanpa kebutuhan yang jelas. Dukungan menjadi lebih berguna ketika membantu persoalan memperoleh jalan keluar.

Pertanyaan tersebut mendapat gambaran nyata dalam laporan panel ahli yang diterbitkan FAA, otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat, pada Februari 2024. Dalam kajian terhadap Boeing, panel mencatat sebagian pegawai ragu melaporkan masalah keselamatan karena takut pembalasan. Pelapor juga tidak selalu diberi tahu hasil laporannya. Panel merekomendasikan umpan balik tepat waktu mengenai perkembangan dan penyelesaian laporan, serta proses pemeriksaan yang cukup mandiri untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap perlindungan dari pembalasan.

Konteks penerbangan berbeda dari grup kantor. Namun, pelajarannya dekat: keberadaan kanal belum menjawab kebutuhan orang yang menunggu kepastian setelah berbicara. Masukan perlu diterima, dipertimbangkan, lalu dikabarkan tindak lanjutnya. Usulan boleh tidak disetujui, tetapi penjelasan memberi orang pegangan untuk melanjutkan pekerjaan.

Dalam Strategi dalam Krisis: Model Manajemen Pendidikan di Tengah Dinamika Era 4.0 (2025, hlm. 31), Siti Sanisah dan Nur Kumala Dewi membahas kemampuan pemimpin membangun komunikasi terbuka, mendengarkan, dan memfasilitasi dialog. Berangkat dari pendidikan, pembahasan ini mengajak kita merawat komunikasi melalui tindakan sehari-hari.

Mari kembali ke pembagian tugas tadi. Seorang anggota tim mencoba menulis, “Saya melihat jadwal verifikasi berbenturan dengan layanan lapangan. Jika dikerjakan bersamaan, pemeriksaan data berisiko terlambat. Apakah verifikasi bisa dijadwalkan ulang atau dibagi dengan rekan lain?” Ia menyampaikan keadaan, dampak, dan usulan. Pendapatnya belum tentu diterima seluruhnya, tetapi kini ada sesuatu yang dapat dibahas.

Pimpinan dapat menjawab, “Terima kasih sudah mengingatkan. Bagian mana yang membutuhkan bantuan?” Jika usul belum dapat digunakan, jelaskan pertimbangannya. Orang lebih mudah memahami keputusan ketika mengetahui alasannya. Pertanyaan “Ada masukan?” juga dapat dibuat lebih spesifik: “Bagian jadwal mana yang berisiko?” Beri waktu untuk memeriksa, terutama ketika bahan baru dibagikan. Pertanyaan mendadak tidak selalu menghasilkan jawaban yang matang.

Dalam ilustrasi tadi, pimpinan memeriksa jadwal dan membagi sebagian verifikasi kepada rekan yang tersedia. Ringkasan perubahan dikirim ke grup. Beban belum hilang seluruhnya, tetapi kini ada pembagian yang jelas. Pegawai itu membaca balasan tanpa perlu menghapus penjelasannya lagi. Pimpinan pun mendapat informasi sebelum tenggat lewat. Percakapan kecil tersebut memberi pengalaman bahwa kendala dapat dibahas bersama.

Pegawai yang belum siap bisa menyampaikan, “Saya perlu memeriksa datanya dahulu. Saya kirim catatan sebelum pukul dua.” Setelah itu, tepati waktunya atau kabarkan kendalanya. Untuk masalah sensitif, pilih percakapan terbatas melalui saluran yang sesuai. Hasil yang memengaruhi jadwal dan pembagian kerja tetap perlu dikabarkan kepada tim agar semua mempunyai pegangan yang sama.

Bagaimana jika masukan belum ditanggapi? Kirim pengingat singkat yang memuat kendala dan keputusan yang diperlukan: “Mohon konfirmasi prioritas, karena jadwal layanan berbenturan dengan verifikasi.” Pastikan pesannya sampai dan simpan catatan kerja seperlunya. Bila hambatan berulang dan berisiko mengganggu layanan, gunakan jalur koordinasi yang berlaku. Hindari menyebarkan keluhan atau mempermalukan orang untuk memancing jawaban.

Dalam lingkungan ASN, dialog memiliki dasar profesional. Pasal 42 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 memasukkan dialog kinerja yang intensif antara pimpinan dan pegawai sebagai salah satu orientasi pengelolaan kinerja. Artinya, komunikasi tentang pekerjaan patut dirawat secara berkelanjutan. Pelaksana menjelaskan keadaan dengan jujur, sementara pimpinan menggunakan informasi itu untuk menentukan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan.

QS Al-Ahzab ayat 70 mengingatkan agar kita mengucapkan perkataan yang benar. Rasulullah juga mengajarkan agar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkata baik atau diam, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 6018. Dalam pekerjaan, mari memeriksa informasi sebelum menyampaikan, memilih kata yang menghormati orang, dan meneruskan kendala kepada pihak yang tepat. Adab perlu menyertai keberanian berbicara maupun kewenangan menjawab.

Kita tidak harus langsung berani berbicara panjang. Satu pertanyaan yang jelas dapat menjadi awal. Pimpinan bisa menahan jawaban sesaat agar penjelasan selesai. Jika pernah salah membaca maksud rekan, masih ada kesempatan mengklarifikasi. Bila ada ancaman atau pembalasan, cari dukungan melalui mekanisme organisasi yang sesuai; keberanian individu tetap membutuhkan perlindungan.

Grup kerja mungkin tetap sepi sesekali. Yang perlu kita periksa adalah apakah kendala diketahui, keputusan dijelaskan, dan tindak lanjutnya berjalan. Dalam pelayanan publik, itulah kesempatan memperbaiki pekerjaan sebelum masyarakat ikut menunggu. Mari membangun kepercayaan dan cinta kepada Kementerian Agama melalui kejujuran menyampaikan keadaan, kesediaan mendengar, serta pelayanan yang dituntaskan.

Sesudah orang berani berbicara, semoga ada langkah yang benar-benar bergerak. Lalu, ketika semua pekerjaan disebut mendesak, mana yang harus dikerjakan dahulu? Kita lanjutkan pada episode ketiga.

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Bagaimana Ijtihad Ulama Berperan dalam Penetapan Status Halal Produk?
Berita · 26 Okt 2026

Bagaimana Ijtihad Ulama Berperan dalam Penetapan Status Halal Produk?

Menurut Fuad, bahan konsumsi dan produk pangan olahan berpotensi masuk kategori syubhat apabila asal-usul dan proses pengolahannya tidak dapat dipastikan. Ia menjelaskan, fatwa halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi dasar bagi Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dalam menerbitkan sertifikat halal.