Mengenal Budaya Patamma, Tradisi Jelang Pernikahan Masyarakat Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan, Bimas Islam --- Indonesia merupakan negara yang kaya adat budaya. Salah satu budaya yang beragam di Indonesia adalah berbagai adat pernikahan dan tradisi yang unik-unik, contohnya tradisi Patamma.

Menurut Rahman, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tradisi Patamma atau Mappanre Temme dalam Bahasa Bugis artinya mengkhatamkan Al-Qur’an. Patamma merupakan perpaduan budaya dan agama dalam rangkaian prosesi pernikahan adat masyarakat muslim suku bugis Sulawesi Selatan. Seperti apa tradisi Patamma lebih jelasnya?

Tradisi Patamma dalam Pernikahan Adat Suku Bugis

Menurut Rahman, Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun sejak dahulu, dan diyakini sebagai permohonan doa kepada Allah SWT agar rencana pernikahan berjalan lancar.

Rahman menuturkan, dirinya kerap diundang untuk memimpin pelaksanaan acara tersebut. Patamma biasanya dilaksanakan sebelum seseorang melangsungkan akad nikah, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, seseorang tidak boleh melakukan pernikahan sebelum melakukan prosesi tersebut.

“Patamma juga diyakini sebagai salah satu cara sebagai penyucian sang pengantin sebelum akad nikah esok harinya,” jelas Rahman kepada bimasislam, Jumat (5/8/22).

Dikatakannya, makna dan tujuan tradisi Patamma juga menjadi motivasi yang diartikan sebagai penyemangat dalam diri seseorang yang akan menikah.

Acara Patamma dilakukan di rumah masing-masing kedua calon mempelai pengantin laki-laki dan perempuan, serta dihadiri oleh seluruh sanak keluarga dan kerabat. Rahman menjelaskan, kedua calon pengantin harus mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan.

Sebelum memulai prosesi tersebut, seluruh tamu undangan dibagi menjadi lima tim dengan surah-surah yang akan dibaca. “Bahkan ada yang menghadirkan lima tokoh agama Islam yang diundang untuk memimpin setiap timnya,” imbuh Rahman.

“Setetah itu seorang imam harus mengawali dengan membaca Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim lalu membaca Surah Ad-Duha, Surah Al-Insyirah, dan Al-'Alaq, kemudian lanjut ke surah Al-Baqarah,” jelasnya.

Setiap peralihan dari satu surat ke surat lainnya, imam membaca La Ilaha Illallahu Wallahu Akbar. Menurut memaparkan, pada saat yang sama satu orang perwakilan keluarga yang mendampingi calon mempelai akan melemparkan beras ke atas kepala calon mempelai diiringi kata-kata Salamakki ri Puang (mohon keselamatan dari Tuhan).

“Jadi ada perpaduan budaya dengan Khataman Al-Qur’an yang dilakukan oleh masyarakat di sini,” pungkasnya.

(Anty)
الوسوم المتعلقة:
#InfoNikah#PenyuluhAgama#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Bimas Islam
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Redaksi Ditjen Bimas Islam
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Setditjenعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua