Peringatan Hari Santri, Sesditjen: Pengakuan Atas Perjuangan Kaum Santri

Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar menyampaikan, peringatan Hari Santri Nasional merupakan pengakuan negara atas peran ulama, kiai, dan santri dalam perjuangan merintis, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan maupun dalam pembinaan bangsa.

"Tidak hanya itu, Hari Santri sekaligus peneguhan komitmen serta tanggung jawab santri terhadap masa depan beragama dan berbangsa yang baik dan benar," papar Fuad kepada tim pemberitaan Bimas Islam, Jumat (22/10/2021).

Fuad memaparkan, dalam perjuangan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kaum santri dari berbagai daerah, suku, dan golongan, memberikan andil dan pengorbanan yang tak ternilai.

Kepeloporan santri pejuang terbentuk secara estafet, seperti Pangeran Diponegoro,  Tuanku Imam Bonjol, Syekh Yusuf, HOS Tjokroaminoto, H. Samanhoedi, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H.A. Wahid Hasjim, K.H. Mas Mansur, K.H.A Wahab Chasbullah, K.H. Masjkur, Mukhtar Lutfi,  K.H. Ahmad Surkati, K.H. Faqih Usman, K.H. Abdul Halim, K.H. Achmad Sanusi, K.H. Noer Ali, K.H. Sholeh Iskandar, Ki Bagus Hadikusumo, dan banyak lagi nama lainnya yang turut menanamkan benih kesadaran nasional dan membela kemerdekaan tanah air. Juga para santri perempuan, seperti Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Hj. Rahmah El Yunusiyah dan lainnya terpahat abadi jasa dan kepeloporannya dalam perjalanan sejarah bangsa.

"Dalam sejarah perjuangan bangsa yang heroik, baik sebelum maupun setelah proklamasi, banyak ulama dan santri yang gugur sebagai syuhada dalam membela kehormatan Tanah Air dengan jiwa dan raganya karena panggilan jihad fi sabilillah di masa revolusi fisik," lanjutnya.
 
Menurut Fuad, kalau di masa penjajahan Hindia Belanda dan pendudukan Jepang dilukiskan pesantren sebagai kubu pertahanan mental umat Islam terhadap kolonialisme dan imperialisme. Maka, di masa kini dan mendatang pesantren diharapkan berfungsi sebagai kubu pertahanan mental umat dalam menghadapi ekses globalisasi di bidang politik, ekonomi, budaya, informasi dan sebagainya.
 
Saat ini, Fuad mengamati dikotomi dan sekat sosial antara kaum santri dan abangan kini semakin cair dan membaur. Hal ini, menurutnya, menjadi positif bagi dakwah dan persatuan umat serta integrasi bangsa.

"Hari Santri milik semua golongan umat dan bangsa Indonesia. Semangat memperingati Hari Santri Nasional mengingatkan kita semua tentang arti penting pembangunan karakter, akhlak, dan kemandirian umat yang dijiwai nilai-nilai agama dan kesadaran nasional," tutupnya.

(Boy)

*Keterangan Foto: M. Fuad Nasar bersama almaghfurlah K.H. Salahuddin Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.
الوسوم المتعلقة:
#KUA#Pesantren#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Bimas Islam
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Redaksi Ditjen Bimas Islam
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Setditjenعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua