Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam Kementerian Agama, M. Fuad Nasar mendorong dai menggunakan bahasa ramah dalam berdakwah di media sosial (medsos). Fuad mengatakan, mereka yang lagi mencari jati diri dalam beragama tidak tepat jika didekati dengan pendekatan dakwah secara hitam-putih dan menghakimi.
“Akibat pendekatan dakwah yang salah, masyarakat dapat menjauh dari agama. Meskipun, materi dakwah yang disampaikan tidak salah,” kata Fuad di Jakarta, Senin (05/09).
Fuad menjelaskan, medsos merupakan ruang terbuka. Oleh karenanya dakwah melalui medsos harus inspiratif agar menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat.
"Dai yang memiliki digital skill dan aktif mengisi konten media sosial sebetulnya berperan sebagai influencer kebaikan dan menjadi representasi dakwah di dunia informasi,” ujarnya.
Fuad menilai, konten yang disampaikan di medsos haruslah memberi inspirasi dan nilai tambah bagi masyarakat. Medsos agar dimanfaatkan untuk menampilkan informasi yang dibutuhkan publik, termasuk dalam rangka syiar agama. Dai yang aktif di medsos tentu tidak hanya dekat dengan umat di dunia maya, tetapi juga harus dekat dengan umat di dunia nyata.
“Saat ini kita berada di zaman medsos ikut mempengaruhi sikap, cara pandang, dan praktik beragama di tengah masyarakat,” tutupnya.
(Tommy)
Contributors & Work Unit
Click any contributor or work unit to explore related news.







