Bangun Kebijakan Berbasis Data, Langkah Awal Rancang Indeks Literasi Al-Qur'an

Batam, Bimas Islam -- Peneliti Lembaga Kajian Kurikulum dan Kebijakan Pendidikan Universitas Indonesia, Farhan Mustafa memaparkan materi Pemetaan Literasi Baca Tulis Al-Qur'an pada Masyarakat Muslim di Indonesia dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ), Senin (5/6/2023), di Batam.
 
Farhan membahas mengenai rancangan indeks, evaluasi program, dan membuat survei untuk menentukan indeks literasi baca tulis Al-Qur'an secara tepat, efektif, dan efisien.
 
“Indeks baca tulis Al-Qur'an dapat membantu dalam mengidentifikasi masalah pendidikan dan keterampilan membaca dan menulis di kalangan umat muslim. Dengan mengetahui indeks baca tulis Al-Quran dari suatu populasi, dapat membantu untuk merancang program-program pendidikan yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Quran,” ujarnya.
 
Menurutnya, penting untuk mengukur indeks baca tulis Al-Quran, karena akan memberi gambaran tentang kualitas pemahaman seorang muslim terhadap ajaran agamanya, di samping dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur'an.
 
Untuk membentuk indeks baca dan tulis Al-Qur'an pertama kali, imbuhnya, yang perlu dilakukan yaitu membuat konstruksi kemampuan literasi Al-Qur'an umat Islam di Indonesia, kemudian diturunkan ke dalam sejumlah dimensi, seperti mengenali huruf dan harakat, hingga menulis kata dan kalimat dalam Al-Qur'an. Setelah itu, menurunkan dimensi ke indikator yang membantu memunculkan nilai dan angka pada masing-masing dimensi.
 
“Kalau pengukuran membandingkan obyek terhadap alat ukur, kalau penilaian bagaimana menetapkan status pengukuran. Misal, kalau saya punya 10 indikator yang menggambarkan sebuah lingkungan rukun. Indikatornya, saling mengenal tetangga, saling sapa, saling bantu, saling berbagi, sampai 10 poin saya petakan di Batam. Nanti kita lihat orang Batam mengerjakan, kemudian hasilnya 4 dari 10 indikator. Artinya orang batam baru mengerjakan 4. Nah, pemerintah perlu concern ke 6 lainnya,” paparnya.
 
Terakhir, ia menjelaskan mengenai sampling. "Penyebaran data tidak dilakukan sembarangan, harus ada metode yang akurat dalam menentukan siapa sampling-nya," tuturnya dilanjutkan dengan memperlihatkan contoh kuesioner.
 
Sesi ini dihadiri Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Quran Rijal Ahmad Rangkuty beserta jajaran Subdit, Kasubdit Kemitraan Umat Islam Ali Sibromalisi, dan Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta Darwis Hude. Kegiatan ini diikuti perwakilan LPTQ se-Indonesia.
الوسوم المتعلقة:
#39#KUA#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Inisial FN · Tim Peliput
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Setditjenعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua