Direktur NU Online: 94 Persen Masyarakat Indonesia Menganggap Agama Sangat Penting

Tangerang, Bimas Islam --– Direktur NU Online Savic Ali mengatakan, berdasarkan data Pew Research Center tahun 2018, 94 persen orang di Indonesia menganggap agama sangat penting, hanya 6 persen yang menganggap agama tidak penting, ia menyimpulkan masyarakat Indonesia sangat religius.

“Seperti dikatakan pak Direktur Urais Binsyar tadi, Indonesia kalau sudah urusannya agama pasti ramai, dan memang Indonesia ini masyarakatnya religius, dalam artian adalah teosentris jika dilihat dari sejarah perkembangan masyarakat yang dari dulu kosmosentris (orang menyembah alam)” ujar Savic saat menjadi narasumber pada acara Focus Group Discussion (FGD) Finalisasi Penyusunan Buku Konflik Paham Keagamaan Islam dan Penanganannya di Indonesia di Hotel Horison Grand Serpong, Tangerang, Rabu (14/4).

Sedangkan dari barat yang sekuler itu antroposentris, kata Savic, mereka percaya pada sains, dan menganggap dirinya sebagai pusat dari segalanya, dan mereka mencari penjelasan atas nasib yang menimpa dirinya juga pada penjelasan ilmiah bukan pada kehendak Tuhan.

“Jadi dibanding dengan masyarakat Indonesia, jauh semakin religius, fakta itu terjadi sejak pasca kepemimpinan presiden Soeharto, kehidupan umat Islam menjadi lebih Islami. Kita menyaksikan ada banyak sekali sekolah-sekolah Islam daripada dulu. Begitu juga perempuan muslim yang memakai jilbab lebih banyak ditemui saat ini,” ungkapnya.

Lebih jauh, Savic menjelaskan, tren religius saat ini juga berdampak pada perkembangan menguatnya ultra konservatisme, jadi fanatisme terhadap aliran pahamnya itu menguat, bahkan sampai level yang ekstrim.

“Seperti kasus pembunuhan di Gresik karena punya pandangan yang berbeda maka dianggap darahnya halal, waktu itu saya memutarkan videonya ke para pengurus NU terutama Kiai-kiai, dan video itu mempengaruhi sikap NU, melihat betapa kekejaman sangat luar biasa, artinya kita tidak melihat ajaran agama dalam kejadian itu. Meskipun berbeda paham, NU tidak pernah mendorong orang untuk membenci aliran tersebut, apalagi melakukan kekerasan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Savic, mungkin ini akan menjadi pemantik terhadap finalisasi penyusunan buku konflik paham keagamaan Islam dan penanganannya di Indonesia, “semoga perspektif ini dapat memperkaya tim penyusun buku sesuai yang diharapkan oleh Kemenag,” pungkasnya.

(Anty)
الوسوم المتعلقة:
#ProdukHalal#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Bimas Islam
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Redaksi Ditjen Bimas Islam
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Setditjenعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua