Bireuen, Bimas Islam — Subdit Kemitraan Umat Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menggelar dialog dengan lembaga sosial keagamaan Islam terdampak bencana alam di Kabupaten Bireuen, Aceh, Kamis (22/10/2026). Pertemuan ini menjadi ruang bagi penerima manfaat untuk menyampaikan kondisi lembaga, kebutuhan pemulihan, serta keberlanjutan kegiatan keagamaan setelah bencana.
Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan, dampak bencana masih dirasakan sejumlah lembaga, mulai dari kerusakan bangunan dan perlengkapan belajar hingga terganggunya aktivitas pendidikan keagamaan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pemulihan setiap lembaga berbeda, bergantung pada tingkat kerusakan dan kegiatan yang perlu dipulihkan.
Hal itu sejalan dengan pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menilai bahwa bencana alam tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan dan peribadatan masyarakat. Menurut Menag, kehadiran pemerintah untuk meringankan beban warga terdampak perlu disertai semangat gotong royong dan kepedulian bersama agar proses pemulihan dapat berjalan dan masyarakat kembali menjalankan aktivitasnya.
Muchlis mengatakan, penerima manfaat menyampaikan penggunaan bantuan dan kebutuhan lanjutan yang masih diperlukan. “Aspirasi ini menjadi bagian penting untuk melihat kondisi lembaga secara langsung, tidak hanya dari sisi penyaluran bantuan, tetapi juga dampaknya terhadap keberlangsungan pelayanan keagamaan di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KPBI) Pengurus Daerah Kabupaten Bireuen Saifan Nur mengatakan, bencana turut berdampak pada kader dan lingkungan tempat organisasi menjalankan aktivitas. Menurutnya, sejumlah warga masih menghadapi persoalan pemulihan rumah dan kegiatan pendidikan yang belum sepenuhnya kembali normal.
“Kemenag hari ini hadir untuk menjaga kelembagaan dan menjaga kesinambungan aktivitas antara lembaga sehingga pluralisme yang ada dalam agama ini akan dapat berjalan seiring,” ujar Saifan.
Saifan menjelaskan, bantuan tersebut direncanakan untuk mendukung rehabilitasi sekretariat organisasi yang pengerjaannya belum tuntas, sekaligus menunjang kegiatan pengaderan.
Menurutnya, dampak bencana tidak hanya dirasakan pada bangunan, tetapi juga oleh kader yang berada di sejumlah wilayah terdampak, termasuk kawasan Peusangan. Sebagian kader juga terlibat dalam upaya penanganan bencana dan penyaluran bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat.
Ia berharap dukungan Kemenag dapat berlanjut pada penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia. Saifan juga menilai koordinasi antarlembaga diperlukan agar kegiatan penanganan dampak bencana dapat berjalan saling melengkapi dan tidak tumpang tindih.
Pimpinan Balai Pengajian Darul Muta’allimin, Almuna Diaz, mengatakan, lembaga yang berada di Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, membutuhkan dukungan untuk memulihkan ruang belajar yang terdampak banjir. Ia menyebut bantuan dari Kemenag direncanakan untuk rehabilitasi bangunan tersebut.
Menurut Almuna, banjir menyebabkan Al-Qur’an, kitab, dan sejumlah perlengkapan belajar terendam air serta lumpur. Kondisi itu sempat mengganggu kegiatan pengajian yang selama ini menjadi tempat belajar agama bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 70 peserta didik dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Sejumlah mahasiswa juga mengikuti pengajian pada malam hari, meskipun lembaga tersebut tidak menyediakan asrama.
“Kegiatan belajar biasanya berlangsung pada pukul 15.00–16.30 WIB untuk anak-anak. Materi yang diajarkan mencakup membaca Al-Qur’an dan mempelajari kitab keagamaan dengan kurikulum yang disusun sesuai kebutuhan lingkungan setempat,” jelasnya.
Almuna menuturkan, bantuan Al-Qur’an dari Kemenag turut membantu kegiatan belajar setelah bencana. Sekitar 20 mushaf diterima dari Kemenag, kemudian jumlahnya bertambah melalui sumbangan dan wakaf dari pihak lain. Ia berharap dukungan bagi lembaga pendidikan keagamaan yang dikelola masyarakat dapat terus diperhatikan agar kegiatan belajar tetap berjalan.
Di lembaga lain, Pimpinan Majelis Taklim Ariaya Rosali mengatakan, banjir juga merusak bagian bangunan dan koleksi bacaan yang digunakan untuk kegiatan pengajian. Menurutnya, bagian bawah dinding berbahan papan mengalami kerusakan setelah terendam, meskipun kegiatan majelis taklim kini telah kembali berlangsung.
Rosali menyebut sekitar 300 buku dan kitab dari koleksi pribadinya terdampak banjir. Bacaan tersebut selama ini digunakan untuk mendukung kegiatan pengajian dan pembelajaran agama bagi anak-anak maupun jamaah dewasa.
Ia menjelaskan, majelis taklim diikuti lebih dari 50 orang dengan jadwal belajar yang disesuaikan berdasarkan kelompok peserta. Anak-anak mengikuti kegiatan pada siang hari, sedangkan jamaah dewasa belajar pada malam hari.
Materi pengajian meliputi amaliah, fikih, dasar-dasar akidah, dan tasawuf. Menurut Rosali, keberlanjutan kegiatan tersebut perlu didukung dengan pemulihan sarana belajar, termasuk perlengkapan pengeras suara yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas majelis.
Rosali menyampaikan apresiasi atas perhatian Kemenag kepada lembaga keagamaan yang terdampak bencana. Ia berharap kebutuhan pemulihan yang masih tersisa dapat menjadi perhatian agar kegiatan pendidikan dan pengajian di tengah masyarakat tetap berjalan.
“Pemulihan lembaga keagamaan pascabencana tidak berhenti pada perbaikan bangunan. Ketersediaan bahan ajar, sarana pendukung, serta keberlanjutan kegiatan pendidikan dan pengaderan juga menjadi kebutuhan yang disampaikan oleh lembaga terdampak,” tandasnya.
An/Mr
Berita



