Oleh:
M Fuad Nasar*
M Fuad Nasar*
Jenderal Besar TNI (Purn) Dr. H. Abdul Haris Nasution (1918–2000) adalah pejuang kemerdekaan, tokoh militer, negarawan, pemikir kebangsaan, dan Pahlawan Nasional. Sejarah hidupnya meninggalkan jejak pengabdian dan karya penting bagi bangsa Indonesia yang layak diteladani. Pak Nas merupakan tokoh yang mengalami tiga zaman; masa penjajahan Hindia Belanda, masa pendudukan militer Jepang, serta masa kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Semasa hidupnya setelah menyelesaikan segala tugas jabatan negara, Pak Nas tetap berbuat untuk bangsa dan agama sebagai pejuang masyarakat yang tidak tinggal diam dalam berbagai episode perjalanan bangsa hingga menjelang akhir hayatnya. Ia mengungkapkan, “bagi pejuang tiada tugas akhir dan tiada akhir tugas”.
Seperempat abad setelah kepergiannya menghadap Ilahi Rabbi, pemikiran dan kiprah Pak Nas, termasuk di bidang dakwah, kembali diangkat melalui dua buah buku yang mengulas pesan dan kontribusinya dalam pembangunan umat. Buku yang menyingkap pemikiran dan jejak dakwah A.H. Nasution disusun dengan ketekunan dan kegigihan luar biasa oleh H. Syafaruddin Lubis, S.H., M.Si., analis hukum ahli madya pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara.
Sewaktu proses penulisan buku, Syafaruddin Lubis beberapa kali menghubungi saya dan konsultasi melalui sambungan telepon mengenai bahan bacaan, walaupun di antara kami belum pernah bertemu muka. Kesan dan pengalaman perjumpaan saya dengan Bapak Abdul Haris Nasution dan buku-buku cinderamata dari beliau makin terasa bermanfaat ketika berdiskusi dengan orang lain tentang perjuangan dan keteladanan Pak Nas.
Dua buah buku karya Syafaruddin Lubis berjudul: Jenderal Besar Dr. H. Abdul Haris Nasution: Pesan dan Jejak Dakwah Seorang Da’i (editor Aisiyah Aztry), dan Mengenang Pak Nas Yang Religius (editor Winarti), penerbit UMSU Press, Medan, terbit Agustus 2026.
Legasi pemikiran almarhum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution digali dan dihimpun oleh Syafaruddin Lubis dari sumber primer, terutama buku, brosur naskah ceramah/khotbah dan pidato. Bahan-bahan tersebut diolah, disunting dan diperkaya dengan kesaksian tertulis dari kolega dan sahabat Pak Nas dalam beberapa literatur yang telah diterbitkan. Pak Nas sering menghadiri undangan khotbah, peringatan hari-hari besar Islam dan ceramah di sejumlah kampus perguruan tinggi. Majalah Berita Mingguan Tempo menjuluki Pak Nas yang merupakan purnawirawan jenderal bintang lima, “jenderal tanpa pasukan, politisi tanpa partai”.
Pandangan Hidup Manusia Beragama
Salah satu sumber rujukan Syafaruddin Lubis adalah buku Pak Nas, Pembangunan Moral Inti Pembangunan Nasional (1995). Di dalam buku ini Pak Nas menjelaskan bahwa dalam Islam manusia dapat menemukan dirinya, menemukan posisinya yang tepat dalam harmoni dengan alam sekelilingnya, dengan sesama manusia, dengan hati nuraninya, dengan Allah, Tuhan Penciptanya. Juga, menemukan kompas hidup dan perjuangannya. Karena, identitas Islam adalah kehidupan dan perjuangan yang sesuai dengan fitrah manusia.
K.H. Hasan Basri dalam buku Solichin Salam A.H. Nasution, Prajurit, Pejuang dan Pemikir (1990) mengungkapkan walaupun Jenderal A.H. Nasution bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan agama, tapi bisa menghayati agama Islam dengan baik dan serius. Keagamaannya baik sekali dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di masa Orde Baru itu terkesan ketika Pak Nas menjawab pertanyaan Menteri Pertahanan Australia tentang siapa tokoh yang dikaguminya, Pak Nas menjawab, Nabi Muhammad Saw.
Dalam acara silaturahmi dengan veteran Siliwangi di Bandung, Pak Nas menuturkan: “Ketika saya menjadi Pangdam Siliwangi pada usia 28 tahun, Siliwangi adalah merupakan kebanggaan kami. Ketika saya terpilih menjadi Wakil Panglima Besar pada usia 30 tahun, TNI adalah kebanggaan saya. Ketika saya terpilih sebagai Ketua MPRS, saya menekankan dedikasi saya kepada rakyat. Tapi sekarang, dengan semakin bertambahnya usia, Tuhan adalah yang paling penting buat saya,” ujar Pak Nas yang semenjak muda memegang teguh ketaatan dalam beragama sebagai seorang muslim.
Suatu ketika Pak Nas menuturkan bahwa ia dapat meloloskan diri dan selamat dari penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa 30 September 1965 atau terkenal G.30.S/PKI, bukan karena mengetahui adanya rencana penculikan itu, bukan karena adanya informasi, baik resmi maupun tidak resmi. Ia terhindar dari bahaya maut dan sergapan pasukan Tjakrabirawa yang mengepung kediamannya di Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat, pada dini hari 1 Oktober 1965 adalah semata-mata karena lindungan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Khotbah Idul Adha 1440 H/1980 M yang disampaikan Pak Nas di Ibukota Jakarta mengangkat judul, “Kebenaran Itu Hanya Dari Allah, Untuk Allah, dan Karena Allah, dan Janganlah Kamu Ragu-Ragu”. Ada sebuah kalimat penegasan yang kerap diulang Pak Nas dalam beberapa tulisannya, yakni: “....bagi orang beriman, ridha Allah-lah mahkota segala amalan”.
Dalam menjaga hubungan antarumat beragama, Pak Nas berpendapat, janganlah sampai dipersoalkan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan agama masing-masing. Bahwa yang perlu dikelola bersama adalah aspek kemasyarakatan dalam hubungan antarumat beragama. Oleh karena itu, Pak Nas memandang penting adanya badan kontak yang representatif di tingkat pusat maupun daerah, yang difasilitasi oleh Kementerian Agama, untuk mendeteksi secara dini berbagai persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik dan sekaligus merumuskan langkah-langkah penyelesaiannya.
Setelah satu setengah dekade berlalu pasca peristiwa G.30.S./PKI, dalam kunjungan dinas ke Filipina tahun 1971, di airport Manila, ditanya oleh wartawan dalam konperensi pers, apa musuh utama Indonesia saat ini? Pak Nas menjawab, musuh utama negara kami saat ini bukan lagi komunis, melainkan ketidakadilan sosial.
Di depan Perdana Menteri Jepang, Eisaku Sato, Pak Nas mengemukakan bahwa ketidakadilan bukanlah sekadar soal ekonomi, melainkan keseluruhan kualitas hidup. Jika kita tidak berhasil mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka komunis berpeluang hidup kembali. Menurut Pak Nas, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah gong dari tujuan kemerdekaan, yaitu mewajudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata adil disebut lebih dahulu daripada makmur.
Dalam perspektif Pak Nas, pembangunan dalam arti sebenarnya adalah pembaharuan dan pembangunan kemanusiaan/kemasyarakatan. Titik sentral serta titik pangkalnya ialah pembaruan dan pembangunan mentalitas manusia. Bagi kita bangsa yang ber-Pancasila dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, agama adalah unsur mutlaknya.
Gagasan dan pemikiran Pak Nas mengenai pembangunan bangsa sebagaimana dikemukakannya sejak era 1970-an masih tetap relevan hingga kini. Menurut Pak Nas, moral/akhlak harus menjadi “panglima dalam pembangunan”, bukan politik atau ekonomi, meski dua hal itu penting. “Sudah banyak contoh, pembangunan yang sukses di mana-mana, tapi justru membawa krisis keluarga, masyarakat dan krisis akhlak, akibat tidak dikembangkannya sikap hidup, akhlak kepada Tuhan, sesama manusia dan diri sendiri, karena kesibukan membangun sarana-sarana fisik, ekonomi, teknik, dan lain-lain dibanding pengembangan manusia, mentalitas, dan akhlaknya.”
Menurut pandangan beliau, pembangunan yang menghasilkan kemewahan bagi segelintir elite saja dan sebagainya, tidak akan menimbulkan rasa maju dan bahagia, tapi justru rasa kemerosotan kualitas hidup manusia. Pak Nas mengingatkan bahwa pada hakikatnya penyebab berbagai krisis adalah ketamakan dalam memuaskan hawa nafsu yang semakin diperbesar oleh kemajuan teknologi. Teknologi memang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan, tetapi juga dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan.
Pemikiran Pendidikan Islam
Jenderal Besar A.H. Nasution memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan pendidikan. Pendidikan disebutnya adalah kunci kemajuan bangsa. Melalui pendidikanlah dapat dikembangkan kepribadian (moral) serta kesanggupan dan kemampuan manusia. Untuk itu bangsa Indonesia perlu mewujudkan sistem pendidikan nasional yang demokratis, membangun manusia-manusia Indonesia yang bermental dan bermoral dengan keyakinan beragama yang tinggi, cerdas dan terampil, sehat dan kuat jasmaniahnya.
Masalah krusial dalam pendidikan, menurut Pak Nas, bukan sekadar menambah anggaran belanja, tenaga baru, ruang belajar, dan sebagainya. Masalah pertama ialah penetapan strategi dan organisasi. Pendidikan adalah masalah nasional yang harus dipecahkan pada tingkat nasional pula.
Dalam ceramah di Pondok Karya Pembangunan DKI Jakarta tanggal 23 Oktober 1977 dikemukakan peranan madrasah dan pesantren dalam pembangunan umat. Pak Nas menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan unsur mutlak dalam sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu: membangun karakter manusia dan mengembangkan kecerdasan, keterampilan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman serta memenuhi kebutuhan moral dan material masyarakat. Madrasah dan pesantren bukan hanya sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan agama sejak dahulu, melainkan juga sebagai basis perjuangan umat dan bangsa. Di masa kini, sistem pendidikan madrasah khususnya swasta dan pesantren mengisi kebutuhan pendidikan bangsa kita yang tidak dapat seluruhnya diisi oleh pemerintah.
Tantangan bagi negara berkembang, lanjut Pak Nas, bukan sekadar maju dalam ilmu dan teknologi, industri dan kebudayaan materi, tetapi juga memiliki mentalitas dan moralitas yang bermartabat. Pembangunan nasional kita bukan sekadar untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, tetapi untuk menemukan jalan yang berdayaguna bagi upaya membangun kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Ketika membahas pendidikan Islam, Pak Nas mensitir ucapan Rektor Universitas Al-Azhar Cairo, Syaikh Badawi Abdul Latif Awad, dalam pertemuan pemuka-pemuka Islam sedunia di Arab Saudi pada musim haji tahun 1971, bahwa tugas pendidikan yang pertama dan utama ialah mendidik pribadi-pribadi muslim, baru kemudian mengajarinya menjadi dokter, insinyur, dan lain-lain.
Menurut Pak Nas, pendidikan pesantren adalah mendidik pribadi-pribadi muslim: petani, pedagang, pekerja, lurah, polisi dan seterusnya, yang terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih jauh diungkapkan, “Pendidikan berarti membangun pribadi-pribadi yang memiliki garis-garis prinsip, tidak boleh terombang-ambing oleh angin yang hilir-mudik, tidak boleh tergoyahkan oleh pancingan benda dan pangkat, tidak mudah hanyut karena arus sebagaimana buih di atas air, tidak menyerah kepada kondisi dan situasi, tidak mengubah pendirian menurut kondisi dan situasi. Karena itu, lebih-lebih lagi, tugas pendidikan menuntut keteladanan dari para pembina, pembimbing dan pengajarnya.”
Pak Nas jauh hari telah mengingatkan sebelum muncul teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) bahwa pendidikan kepribadian diperlukan di zaman modern ini, terutama akibat pesatnya pertumbuhan ilmu dan teknologi. “Pembangunan mental dan akhlak menjadi terasa lebih mendesak, agar manusia jangan sampai menjadi budak dari kebudayaan materiil yang diciptakannya. Manusia harus tetap tegak, tidak diperbudak oleh kemajuan materiil itu,” ujar beliau. Pada waktu peresmian bangunan Perguruan As-Syafiiyah tahun 1976 di Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur, yang dihadiri para menteri dan tokoh bangsa, Pak Nas menyumbangkan pikiran tentang masa depan madrasah sebagai berikut: Pertama, sasaran pertama pendidikan madrasah adalah pendidikan pribadi-pribadi muslim menjadi berakhlak, setelah itu berilmu dan berketerampilan. Kedua, lembaga pendidikan yang maju dan berkembang, seperti di luar negeri, misalnya Universitas Al-Azhar Mesir, bukan karena bantuan pemerintah atau pihak lain, melainkan karena swadaya dari pengurus, pengelola dan pembina lembaga bersangkutan. Menurut Pak Nas, madrasah dan pesantren perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman modern, yaitu meningkatkan pengajaran ilmu pengetahuan umum dan keterampilan sejajar dengan sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi. Madrasah dan pesantren harus tetap menjamin bahwa lulusannya memiliki kepribadian muslim, berilmu, terampil, serta mampu menjadi pendidik atau pengajar.
Pak Nas menekankan pentingnya menjaga identitas pesantren yang merupakan usaha swadaya umat. Walaupun berbagai bantuan pemerintah kepada pesantren digiatkan, sifat dan identitas kemandirian pesantren harus senantiasa terjaga.
Pesantren di mata Pak Nas harus menjamin tamatannya sekurangnya dalam tiga hal, yaitu: Pertama, memiliki kepribadian muslim. Kedua, berilmu dan berketerampilan. Ketiga, mampu menjadi pendidik dan pengajar dalam pengertian luas. Untuk mengejar ketertinggalan umat, Pak Nas memandang pendidikan keagamaan yang berlangsung di masyarakat memiliki peran penting, di samping pendidikan formal. Pesan beliau, umat Islam perlu memperbanyak pengajian-pengajian di tiap lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja, termasuk pengajian yang bersifat ilmiah dan dialogis di kalangan komunitas mahasiswa.
Pengajian memiliki kegunaan untuk meng-upgrade pribadi jamaahnya. Pengajian mempunyai fungsi sosial sebagai forum pertemuan berkala di masyarakat guna menumbuhkan persaudaraan dan persatuan umat dalam menghadapi berbagai persoalan bersama. Dalam bahasa Pak Nas, kegiatan keagamaan berfungsi untuk “membetoni umat” baik mental, moral maupun sosial. Pengajian dan majelis taklim di masyarakat dalam konteks perundang-undangan pendidikan nasional dewasa ini dikategorikan sebagai pendidikan nonformal.
Mengingat pendidikan dipengaruhi oleh tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, maka sistem pesantren menurut Pak Nas tetap merupakan yang terbaik untuk menggarap ketiga lingkungan tersebut, secara utuh, terpadu dan searah.
Pak Nas mengapresiasi kekhususan pendidikan pesantren yang bersifat swadaya, mewujudkan semangat gotong royong masyarakat serta menjadikan guru dan peserta didik hidup bersama dengan kedua kaki berada di tengah-tengah rakyat. Saya berkeyakinan, ucap Pak Nas, identitas pesantren-pesantren kita itu perlu terus dibina dan diperbaiki. Sistem ini menghasilkan para kiai yang mandiri, bukan yang berorientasi mencari pekerjaan atau menjadi pegawai. Para kiai berakar dan tumbuh di tengah masyarakatnya sendiri.
Sewaktu diadakan Tasyakkur 80 Tahun Mohammad Natsir pada 17 Juli 1988 di aula Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45 Jakarta, Pak Nas hadir, dan menyiapkan sebuah tulisan berjudul “Bung Natsir 80 Tahun”. Tulisan yang disiapkannya mengutarakan kesan dan pesan kepada lintas generasi.
Pak Nas menulis, dalam acara ini hendaklah kita naik dari lembah-lembah rutin sehari-hari ke puncak ketinggian guna dapat menoleh jauh ke belakang demi menarik hikmah dari pengalaman guna bekal generasi baru dalam memperjuangkan hari esok yang lebih baik yang diridhai Allah Swt.
Lebih jauh diungkapkan sekitar pentingnya pembinaan sikap mental bangsa yang dijiwai oleh moral Pancasila, khususnya Ketuhanan Yang Masa Esa.
Pesan Pak Nas: “Alangkah idealnya masyarakat kita, jika setiap orang, apalagi setiap petugas negara sungguh-sungguh berikhtiar untuk bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang berarti setiap pegawai, setiap prajurit, setiap kepala, setiap wakil rakyat, setiap menteri, setiap karyawan politik/ekonomi/sosial/kultural, dan sebagainya, sungguh-sungguh menegakkan takwa, yakni di satu pihak selalu berikhtiar untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang dan di pihak lain selalu berikhtiar memperbanyak perbuatan-perbuatan yang terpuji. Maka menjauhlah perbuatan korupsi, penyalahgunaan wewenang, penindasan, dan lain-lain kezaliman. Mendekatlah keamanan, keadilan, dan kesejahteraan, yang jadi cita-cita Republik kita sejak semula.”
Abdul Haris Nasution dalam riwayat dinasnya lahir tanggal 3 Desember 1918 di Desa Hutapungkut, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Tapanuli Selatan (sekarang Mandailing Natal), Provinsi Sumatera Utara, dari pasangan ibu dan ayah, Hj. Zaharah Lubis dan H.A. Halim Nasution. Pak Nas pernah menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi (1946 – 1948), KSAD (1949 – 1952 dan 1956 – 1963), Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/KASAB (1963 – 1966), dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1966 – 1972). Dalam tugas jabatan Ketua MPRS, Jenderal Nasution melantik Jenderal Soeharto sebagai Presiden Ke-2 Republik Indonesia.
Tokoh pelaku sejarah dan pencetus konsep Jalan Tengah TNI, penggagas Kembali Ke Undang-Undang Dasar 1945 tahun 1959 serta Pendiri/Pembina Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta itu, wafat dalam perawatan di RSPAD Gatot Soebroto tanggal 6 September 2000 pada usia 82 tahun. Dalam liputan meninggalnya A.H. Nasution, Harian Kompas (7/10/2000) mengangkat topik, “Kesederhanaan Hidupnya Patut Ditiru”.
Syafaruddin Lubis dalam buku Mengenang Pak Nas Yang Religius mengutip wasiat Pak Nas kepada keluarganya, (1) Jangan tinggalkan shalat. (2) Berbuatlah adil. (3) Hiduplah sederhana. (3) Selalu berhati jujur, dan (4) Selalu ingat pada kepentingan orang lain. Pada tahun 2002 Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai penghargaan atas jasa-jasa dan pengorbanannya yang melampaui panggilan tugas kepada tanah air, negara dan bangsa. Wallahu a’lam bisshawab.
*Direktur Jaminan Produk Halal, Kemenag
Semasa hidupnya setelah menyelesaikan segala tugas jabatan negara, Pak Nas tetap berbuat untuk bangsa dan agama sebagai pejuang masyarakat yang tidak tinggal diam dalam berbagai episode perjalanan bangsa hingga menjelang akhir hayatnya. Ia mengungkapkan, “bagi pejuang tiada tugas akhir dan tiada akhir tugas”.
Seperempat abad setelah kepergiannya menghadap Ilahi Rabbi, pemikiran dan kiprah Pak Nas, termasuk di bidang dakwah, kembali diangkat melalui dua buah buku yang mengulas pesan dan kontribusinya dalam pembangunan umat. Buku yang menyingkap pemikiran dan jejak dakwah A.H. Nasution disusun dengan ketekunan dan kegigihan luar biasa oleh H. Syafaruddin Lubis, S.H., M.Si., analis hukum ahli madya pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara.
Sewaktu proses penulisan buku, Syafaruddin Lubis beberapa kali menghubungi saya dan konsultasi melalui sambungan telepon mengenai bahan bacaan, walaupun di antara kami belum pernah bertemu muka. Kesan dan pengalaman perjumpaan saya dengan Bapak Abdul Haris Nasution dan buku-buku cinderamata dari beliau makin terasa bermanfaat ketika berdiskusi dengan orang lain tentang perjuangan dan keteladanan Pak Nas.
Dua buah buku karya Syafaruddin Lubis berjudul: Jenderal Besar Dr. H. Abdul Haris Nasution: Pesan dan Jejak Dakwah Seorang Da’i (editor Aisiyah Aztry), dan Mengenang Pak Nas Yang Religius (editor Winarti), penerbit UMSU Press, Medan, terbit Agustus 2026.
Legasi pemikiran almarhum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution digali dan dihimpun oleh Syafaruddin Lubis dari sumber primer, terutama buku, brosur naskah ceramah/khotbah dan pidato. Bahan-bahan tersebut diolah, disunting dan diperkaya dengan kesaksian tertulis dari kolega dan sahabat Pak Nas dalam beberapa literatur yang telah diterbitkan. Pak Nas sering menghadiri undangan khotbah, peringatan hari-hari besar Islam dan ceramah di sejumlah kampus perguruan tinggi. Majalah Berita Mingguan Tempo menjuluki Pak Nas yang merupakan purnawirawan jenderal bintang lima, “jenderal tanpa pasukan, politisi tanpa partai”.
Pandangan Hidup Manusia Beragama
Salah satu sumber rujukan Syafaruddin Lubis adalah buku Pak Nas, Pembangunan Moral Inti Pembangunan Nasional (1995). Di dalam buku ini Pak Nas menjelaskan bahwa dalam Islam manusia dapat menemukan dirinya, menemukan posisinya yang tepat dalam harmoni dengan alam sekelilingnya, dengan sesama manusia, dengan hati nuraninya, dengan Allah, Tuhan Penciptanya. Juga, menemukan kompas hidup dan perjuangannya. Karena, identitas Islam adalah kehidupan dan perjuangan yang sesuai dengan fitrah manusia.
K.H. Hasan Basri dalam buku Solichin Salam A.H. Nasution, Prajurit, Pejuang dan Pemikir (1990) mengungkapkan walaupun Jenderal A.H. Nasution bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan agama, tapi bisa menghayati agama Islam dengan baik dan serius. Keagamaannya baik sekali dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di masa Orde Baru itu terkesan ketika Pak Nas menjawab pertanyaan Menteri Pertahanan Australia tentang siapa tokoh yang dikaguminya, Pak Nas menjawab, Nabi Muhammad Saw.
Dalam acara silaturahmi dengan veteran Siliwangi di Bandung, Pak Nas menuturkan: “Ketika saya menjadi Pangdam Siliwangi pada usia 28 tahun, Siliwangi adalah merupakan kebanggaan kami. Ketika saya terpilih menjadi Wakil Panglima Besar pada usia 30 tahun, TNI adalah kebanggaan saya. Ketika saya terpilih sebagai Ketua MPRS, saya menekankan dedikasi saya kepada rakyat. Tapi sekarang, dengan semakin bertambahnya usia, Tuhan adalah yang paling penting buat saya,” ujar Pak Nas yang semenjak muda memegang teguh ketaatan dalam beragama sebagai seorang muslim.
Suatu ketika Pak Nas menuturkan bahwa ia dapat meloloskan diri dan selamat dari penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa 30 September 1965 atau terkenal G.30.S/PKI, bukan karena mengetahui adanya rencana penculikan itu, bukan karena adanya informasi, baik resmi maupun tidak resmi. Ia terhindar dari bahaya maut dan sergapan pasukan Tjakrabirawa yang mengepung kediamannya di Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat, pada dini hari 1 Oktober 1965 adalah semata-mata karena lindungan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Khotbah Idul Adha 1440 H/1980 M yang disampaikan Pak Nas di Ibukota Jakarta mengangkat judul, “Kebenaran Itu Hanya Dari Allah, Untuk Allah, dan Karena Allah, dan Janganlah Kamu Ragu-Ragu”. Ada sebuah kalimat penegasan yang kerap diulang Pak Nas dalam beberapa tulisannya, yakni: “....bagi orang beriman, ridha Allah-lah mahkota segala amalan”.
Dalam menjaga hubungan antarumat beragama, Pak Nas berpendapat, janganlah sampai dipersoalkan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan agama masing-masing. Bahwa yang perlu dikelola bersama adalah aspek kemasyarakatan dalam hubungan antarumat beragama. Oleh karena itu, Pak Nas memandang penting adanya badan kontak yang representatif di tingkat pusat maupun daerah, yang difasilitasi oleh Kementerian Agama, untuk mendeteksi secara dini berbagai persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik dan sekaligus merumuskan langkah-langkah penyelesaiannya.
Setelah satu setengah dekade berlalu pasca peristiwa G.30.S./PKI, dalam kunjungan dinas ke Filipina tahun 1971, di airport Manila, ditanya oleh wartawan dalam konperensi pers, apa musuh utama Indonesia saat ini? Pak Nas menjawab, musuh utama negara kami saat ini bukan lagi komunis, melainkan ketidakadilan sosial.
Di depan Perdana Menteri Jepang, Eisaku Sato, Pak Nas mengemukakan bahwa ketidakadilan bukanlah sekadar soal ekonomi, melainkan keseluruhan kualitas hidup. Jika kita tidak berhasil mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka komunis berpeluang hidup kembali. Menurut Pak Nas, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah gong dari tujuan kemerdekaan, yaitu mewajudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata adil disebut lebih dahulu daripada makmur.
Dalam perspektif Pak Nas, pembangunan dalam arti sebenarnya adalah pembaharuan dan pembangunan kemanusiaan/kemasyarakatan. Titik sentral serta titik pangkalnya ialah pembaruan dan pembangunan mentalitas manusia. Bagi kita bangsa yang ber-Pancasila dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, agama adalah unsur mutlaknya.
Gagasan dan pemikiran Pak Nas mengenai pembangunan bangsa sebagaimana dikemukakannya sejak era 1970-an masih tetap relevan hingga kini. Menurut Pak Nas, moral/akhlak harus menjadi “panglima dalam pembangunan”, bukan politik atau ekonomi, meski dua hal itu penting. “Sudah banyak contoh, pembangunan yang sukses di mana-mana, tapi justru membawa krisis keluarga, masyarakat dan krisis akhlak, akibat tidak dikembangkannya sikap hidup, akhlak kepada Tuhan, sesama manusia dan diri sendiri, karena kesibukan membangun sarana-sarana fisik, ekonomi, teknik, dan lain-lain dibanding pengembangan manusia, mentalitas, dan akhlaknya.”
Menurut pandangan beliau, pembangunan yang menghasilkan kemewahan bagi segelintir elite saja dan sebagainya, tidak akan menimbulkan rasa maju dan bahagia, tapi justru rasa kemerosotan kualitas hidup manusia. Pak Nas mengingatkan bahwa pada hakikatnya penyebab berbagai krisis adalah ketamakan dalam memuaskan hawa nafsu yang semakin diperbesar oleh kemajuan teknologi. Teknologi memang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan, tetapi juga dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan.
Pemikiran Pendidikan Islam
Jenderal Besar A.H. Nasution memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan pendidikan. Pendidikan disebutnya adalah kunci kemajuan bangsa. Melalui pendidikanlah dapat dikembangkan kepribadian (moral) serta kesanggupan dan kemampuan manusia. Untuk itu bangsa Indonesia perlu mewujudkan sistem pendidikan nasional yang demokratis, membangun manusia-manusia Indonesia yang bermental dan bermoral dengan keyakinan beragama yang tinggi, cerdas dan terampil, sehat dan kuat jasmaniahnya.
Masalah krusial dalam pendidikan, menurut Pak Nas, bukan sekadar menambah anggaran belanja, tenaga baru, ruang belajar, dan sebagainya. Masalah pertama ialah penetapan strategi dan organisasi. Pendidikan adalah masalah nasional yang harus dipecahkan pada tingkat nasional pula.
Dalam ceramah di Pondok Karya Pembangunan DKI Jakarta tanggal 23 Oktober 1977 dikemukakan peranan madrasah dan pesantren dalam pembangunan umat. Pak Nas menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan unsur mutlak dalam sistem pendidikan Indonesia. Pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu: membangun karakter manusia dan mengembangkan kecerdasan, keterampilan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman serta memenuhi kebutuhan moral dan material masyarakat. Madrasah dan pesantren bukan hanya sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan agama sejak dahulu, melainkan juga sebagai basis perjuangan umat dan bangsa. Di masa kini, sistem pendidikan madrasah khususnya swasta dan pesantren mengisi kebutuhan pendidikan bangsa kita yang tidak dapat seluruhnya diisi oleh pemerintah.
Tantangan bagi negara berkembang, lanjut Pak Nas, bukan sekadar maju dalam ilmu dan teknologi, industri dan kebudayaan materi, tetapi juga memiliki mentalitas dan moralitas yang bermartabat. Pembangunan nasional kita bukan sekadar untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, tetapi untuk menemukan jalan yang berdayaguna bagi upaya membangun kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Ketika membahas pendidikan Islam, Pak Nas mensitir ucapan Rektor Universitas Al-Azhar Cairo, Syaikh Badawi Abdul Latif Awad, dalam pertemuan pemuka-pemuka Islam sedunia di Arab Saudi pada musim haji tahun 1971, bahwa tugas pendidikan yang pertama dan utama ialah mendidik pribadi-pribadi muslim, baru kemudian mengajarinya menjadi dokter, insinyur, dan lain-lain.
Menurut Pak Nas, pendidikan pesantren adalah mendidik pribadi-pribadi muslim: petani, pedagang, pekerja, lurah, polisi dan seterusnya, yang terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih jauh diungkapkan, “Pendidikan berarti membangun pribadi-pribadi yang memiliki garis-garis prinsip, tidak boleh terombang-ambing oleh angin yang hilir-mudik, tidak boleh tergoyahkan oleh pancingan benda dan pangkat, tidak mudah hanyut karena arus sebagaimana buih di atas air, tidak menyerah kepada kondisi dan situasi, tidak mengubah pendirian menurut kondisi dan situasi. Karena itu, lebih-lebih lagi, tugas pendidikan menuntut keteladanan dari para pembina, pembimbing dan pengajarnya.”
Pak Nas jauh hari telah mengingatkan sebelum muncul teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) bahwa pendidikan kepribadian diperlukan di zaman modern ini, terutama akibat pesatnya pertumbuhan ilmu dan teknologi. “Pembangunan mental dan akhlak menjadi terasa lebih mendesak, agar manusia jangan sampai menjadi budak dari kebudayaan materiil yang diciptakannya. Manusia harus tetap tegak, tidak diperbudak oleh kemajuan materiil itu,” ujar beliau. Pada waktu peresmian bangunan Perguruan As-Syafiiyah tahun 1976 di Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur, yang dihadiri para menteri dan tokoh bangsa, Pak Nas menyumbangkan pikiran tentang masa depan madrasah sebagai berikut: Pertama, sasaran pertama pendidikan madrasah adalah pendidikan pribadi-pribadi muslim menjadi berakhlak, setelah itu berilmu dan berketerampilan. Kedua, lembaga pendidikan yang maju dan berkembang, seperti di luar negeri, misalnya Universitas Al-Azhar Mesir, bukan karena bantuan pemerintah atau pihak lain, melainkan karena swadaya dari pengurus, pengelola dan pembina lembaga bersangkutan. Menurut Pak Nas, madrasah dan pesantren perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman modern, yaitu meningkatkan pengajaran ilmu pengetahuan umum dan keterampilan sejajar dengan sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi. Madrasah dan pesantren harus tetap menjamin bahwa lulusannya memiliki kepribadian muslim, berilmu, terampil, serta mampu menjadi pendidik atau pengajar.
Pak Nas menekankan pentingnya menjaga identitas pesantren yang merupakan usaha swadaya umat. Walaupun berbagai bantuan pemerintah kepada pesantren digiatkan, sifat dan identitas kemandirian pesantren harus senantiasa terjaga.
Pesantren di mata Pak Nas harus menjamin tamatannya sekurangnya dalam tiga hal, yaitu: Pertama, memiliki kepribadian muslim. Kedua, berilmu dan berketerampilan. Ketiga, mampu menjadi pendidik dan pengajar dalam pengertian luas. Untuk mengejar ketertinggalan umat, Pak Nas memandang pendidikan keagamaan yang berlangsung di masyarakat memiliki peran penting, di samping pendidikan formal. Pesan beliau, umat Islam perlu memperbanyak pengajian-pengajian di tiap lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja, termasuk pengajian yang bersifat ilmiah dan dialogis di kalangan komunitas mahasiswa.
Pengajian memiliki kegunaan untuk meng-upgrade pribadi jamaahnya. Pengajian mempunyai fungsi sosial sebagai forum pertemuan berkala di masyarakat guna menumbuhkan persaudaraan dan persatuan umat dalam menghadapi berbagai persoalan bersama. Dalam bahasa Pak Nas, kegiatan keagamaan berfungsi untuk “membetoni umat” baik mental, moral maupun sosial. Pengajian dan majelis taklim di masyarakat dalam konteks perundang-undangan pendidikan nasional dewasa ini dikategorikan sebagai pendidikan nonformal.
Mengingat pendidikan dipengaruhi oleh tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, maka sistem pesantren menurut Pak Nas tetap merupakan yang terbaik untuk menggarap ketiga lingkungan tersebut, secara utuh, terpadu dan searah.
Pak Nas mengapresiasi kekhususan pendidikan pesantren yang bersifat swadaya, mewujudkan semangat gotong royong masyarakat serta menjadikan guru dan peserta didik hidup bersama dengan kedua kaki berada di tengah-tengah rakyat. Saya berkeyakinan, ucap Pak Nas, identitas pesantren-pesantren kita itu perlu terus dibina dan diperbaiki. Sistem ini menghasilkan para kiai yang mandiri, bukan yang berorientasi mencari pekerjaan atau menjadi pegawai. Para kiai berakar dan tumbuh di tengah masyarakatnya sendiri.
Sewaktu diadakan Tasyakkur 80 Tahun Mohammad Natsir pada 17 Juli 1988 di aula Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45 Jakarta, Pak Nas hadir, dan menyiapkan sebuah tulisan berjudul “Bung Natsir 80 Tahun”. Tulisan yang disiapkannya mengutarakan kesan dan pesan kepada lintas generasi.
Pak Nas menulis, dalam acara ini hendaklah kita naik dari lembah-lembah rutin sehari-hari ke puncak ketinggian guna dapat menoleh jauh ke belakang demi menarik hikmah dari pengalaman guna bekal generasi baru dalam memperjuangkan hari esok yang lebih baik yang diridhai Allah Swt.
Lebih jauh diungkapkan sekitar pentingnya pembinaan sikap mental bangsa yang dijiwai oleh moral Pancasila, khususnya Ketuhanan Yang Masa Esa.
Pesan Pak Nas: “Alangkah idealnya masyarakat kita, jika setiap orang, apalagi setiap petugas negara sungguh-sungguh berikhtiar untuk bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang berarti setiap pegawai, setiap prajurit, setiap kepala, setiap wakil rakyat, setiap menteri, setiap karyawan politik/ekonomi/sosial/kultural, dan sebagainya, sungguh-sungguh menegakkan takwa, yakni di satu pihak selalu berikhtiar untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang dan di pihak lain selalu berikhtiar memperbanyak perbuatan-perbuatan yang terpuji. Maka menjauhlah perbuatan korupsi, penyalahgunaan wewenang, penindasan, dan lain-lain kezaliman. Mendekatlah keamanan, keadilan, dan kesejahteraan, yang jadi cita-cita Republik kita sejak semula.”
Abdul Haris Nasution dalam riwayat dinasnya lahir tanggal 3 Desember 1918 di Desa Hutapungkut, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Tapanuli Selatan (sekarang Mandailing Natal), Provinsi Sumatera Utara, dari pasangan ibu dan ayah, Hj. Zaharah Lubis dan H.A. Halim Nasution. Pak Nas pernah menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi (1946 – 1948), KSAD (1949 – 1952 dan 1956 – 1963), Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/KASAB (1963 – 1966), dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1966 – 1972). Dalam tugas jabatan Ketua MPRS, Jenderal Nasution melantik Jenderal Soeharto sebagai Presiden Ke-2 Republik Indonesia.
Tokoh pelaku sejarah dan pencetus konsep Jalan Tengah TNI, penggagas Kembali Ke Undang-Undang Dasar 1945 tahun 1959 serta Pendiri/Pembina Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta itu, wafat dalam perawatan di RSPAD Gatot Soebroto tanggal 6 September 2000 pada usia 82 tahun. Dalam liputan meninggalnya A.H. Nasution, Harian Kompas (7/10/2000) mengangkat topik, “Kesederhanaan Hidupnya Patut Ditiru”.
Syafaruddin Lubis dalam buku Mengenang Pak Nas Yang Religius mengutip wasiat Pak Nas kepada keluarganya, (1) Jangan tinggalkan shalat. (2) Berbuatlah adil. (3) Hiduplah sederhana. (3) Selalu berhati jujur, dan (4) Selalu ingat pada kepentingan orang lain. Pada tahun 2002 Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai penghargaan atas jasa-jasa dan pengorbanannya yang melampaui panggilan tugas kepada tanah air, negara dan bangsa. Wallahu a’lam bisshawab.
*Direktur Jaminan Produk Halal, Kemenag



