Ambon, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Tarmizi menyampaikan pentingnya pemahaman siyasah wilayah bagi para penyuluh agama islam maupun pendakwah khususnya dalam memberikan layanan keagamaan di masyarakat.
Pemahaman tentang siyasah wilayah yang dimaksudkan Tarmizi adalah terkait pengimplementasian bahasa agama yang harus disesuaikan dengan peta atau identitas kultur keagamaan dan adat masyarakat setempat. Pesan penting itu disampaikan Tarmizi dihadapan 100 orang peserta Dialog Nasional Keagamaan dan Kebangsaan Se-Wilayah Indonesia Timur, bertempat di Hotel Santika Kota Ambon, Maluku, Selasa (22/10).
“Salah satu hal yang paling berharga, yang diwariskan oleh para penduhulu negeri ini adalah tradisi sosial keagamaan yang lebih mengedepankan semangat penghargaan atas adanya perbedaan” ujar Tarmizi. Semangat itu menurutnya tidak lahir begitu saja, ia lalu mengumpamakan bagaimana Walisongo yang lebih memilih budaya wayang dan gamelan sebagai media dakwah, atau ulama melayu yang menjadikan syair sebagai pengantar pesan-pesan agama. Kemampuan itu kemudian disimpulkan oleh Tarmizi sebagai bentuk siyasayah wilayah.
“Para penyuluh agama Islam yang ada di lapangan hendaknya melakukan layanan keagamaan berdasarkan siyasah wilayah atau pemetaan atas identitas kultur keagamaan dan adat setempat, metode ini selain terbukti menjadi estafet keberhasilan dakwah para wali songo dahulu, namun juga sebagai sikap membangun harmoni sebagai adab dalam berbangsa dan bernegara”, ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama Kepala Kanwil Kementerian Agama Fesal Musaad memberikan konteks pembahasan yang sejalan tentang bagaimana siyasah wilayah itu dipahami dan diterjemahkan dalam merawat keharmonisan masyarakat di Kota Ambon Maluku.
“Dalam upaya menciptakan keharmonisan antar maupun internal umat beragama di Maluku, kita sama-sama mengenal beberapa nilai adat yang hingga saat ini senantiasa menjaga kita dalam kerukunan, seperti misalnya pela gandong, ale rasa beta rasa, ain ni ain (saling memiliki), potong di kuku rasa di dagang, salam seng lengkap kalo seng ada sarane dan sarane seng lengkap kalo seng ada salam, hingga Vuut anmehe ngifun, manut an mehe tilur (kita berasal dari satu nenek moyang)”, ungkap Fesal.
Dengan mengedepankan modal-modal sosial yang melekat pada tradisi yang ada di sekitar lingkungan masyarakat tersebut, Fesal meyakini bahwa moderasi beragama sejatinya telah ada sejak lama, dan tugas selanjutnya adalah bagaimana agar dapat terus mempertahankan dan merawatnya dengan metode dan kemasan yang sesuai dengan pola komunikasi saat ini.
Dijadikannya Kota Ambon sebagai tuan rumah wilayah Indonesia Timur dalam Dialog Nasional tersebut, selain didasarkan pada faktor geografis namun juga atas potensi keragaman kultur masyarakat beragama yang ada, serta kekuatan tradisi dialog terbuka yang dibangun bersama antara pemuka agama dengan negara.
Pada kegiatan ini hadir pula sejumlah narasumber lainnya, seperti Kepala Bidang Urais Binsyar Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Tokoh Pemuka Islam Abidin Wakano, Rektor IAIN Ambon Hasbollah Toisuta dan Sekretaris Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme Abdul Rouf.
Hadir sebagai peserta kegiatan ini antara lain, para pejabat Kementerian Agama se-wilayah Indonesia Timur seperti Provinsi Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku Utara, Unsur Polda Maluku, Lakspesdam PBNU,c Yayasan Insklusif, Maarif Institute, BKPRMI, PMII, IMM, HMI, Fatayat NU, serta Penyuluh Agama Islam, dosen, mahasiswa, tokoh Ormas Islam.
Penulis: syafaat
Editor: syafaat
Foto: bimasislam
Membangun Moderasi Beragama, Tarmizi Ingatkan Pentingnya Memahami Siyasah Wilayah
Baca Selanjutnya
Lihat semuaGelar The Wonder of Harmony, Kemenag: Upaya Perbanyak Ruang Perjumpaan
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.
Kemenag Dorong Beasiswa Zakat Terintegrasi di SatuBeasiswa, Cegah Pendanaan Ganda
Kemenag dan Kemdiktisaintek Perluas Akses Kuliah melalui SatuBeasiswa
Dari Sumpah ke Teladan: Pemuda sebagai Perekat Persatuan
Dari Sumpah ke Teladan: Pemuda sebagai Perekat Persatuan
Di Grup Kita Diam, di Japri Kita Panjang Bicara: Ada Apa?
Di Grup Kita Diam, di Japri Kita Panjang Bicara: Ada Apa?






