Panduan Lengkap Iktikaf di Masjid

Jakarta, Bimas Islam — Ulama dari kalangan Mazhab Syafi’i mendefinisikan iktikaf sebatas sebuah ibadah dengan berdiam diri di masjid disertai niat. Tanpa diwajibkan puasa baik wajib maupun sunnah.

Sementara itu kalangan ulama Mazhab Hanbali mendefinisikan iktikaf dengan berdiam di masjid dalam bentuk ketaatan kepada Allah yang dilakukan oleh muslim yang tamyiz, berakal, suci dari hadas dan durasi paling sedikit adalah satu jam.

Dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 187 dijelaskan tentang ibadah iktikaf, Allah berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ


”Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Menurut ulama, iktikaf hukumnya adalah sunnah. Ibadah ini dapat dikerjakan setiap waktu yang memungkinkan terutama pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ


”Dari Aisyah RA. istri Nabi SAW. menuturkan, ‘Sesungguhnya Nabi SAW melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan iktikaf sepeninggal beliau.’” (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006).

Rukun Iktikaf

Menurut ulama ada 4 rukun iktikaf:

1) niat;
2) berdiam diri di masjid sekurang-kurangnya selama tumaninah shalat;
3) masjid; dan
4) orang yang beriktikaf.

Syarat Sah Iktikaf

Menurutr Syekh Wahbah Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, terdapat 7 syarat sah iktikaf:

Pertama: Islam. Tidak sah iktikaf orang kafir dan non muslim;
Kedua: Berakal dan Tamyiz yaitu bisa membedakan yang baik dan buruk;
Ketiga: iktikaf dilakukan di dalam masjid. Tidak sah i’tikaf di rumah, kecuali mazhab Hanafiyah yang membolehkan wanita iktikaf dalam masjid rumahnya. Yaitu ruang atau tempat yang dikhususkan mendirikan shalat dalam rumah;
Keempat: Niat. Tidak sah iktikaf tanpa disertai niat. Pasalnya iktikaf tergolong ibadah yang khusus maka tidak sah jika dilakukan tanpa niat sama halnya seperti shalat dan puasa;
Kelima: puasa. Puasa secara mutlak disyaratkan oleh mazhab Malikiyah baik dalam iktikaf sunah atau wajib, sementara mazhab Hanafiyah hanya mensyaratkannya pada iktikaf wajib. Sedangkan dalam mazhab Syafi’iyah dan Hanabilah tidak disyaratkan, iktikaf tetap sah meski tanpa dibarengi puasa;
Keenam: Suci dari junub, haid, dan nifas menurut mayoritas ulama. Kecuali mazhab Malikiyah yang memandang bahwa bebas dari junub merupakan syarat dibolehkan untuk berdiam diri di masjid bukan syarat sah iktikaf sehingga jika saat itikaf seseorang mimpi basah ia wajib mandi; dan
Ketujuh: izin suami untuk istri. Menurut mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah tidak sah i’tikaf seorang istri tanpa izin suami. Kecuali menurut mazhab Malikiyah yang memandang iktikaf istri tanpa izin suami tetap sah tapi disertai dosa.

Perkara Membatalkan Iktikaf

Ada 6 hal yang membatalkan iktikaf di masjid:
1) Melakukan hubungan intim dengan istri, berdasarkan firman Allah SWT:

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ


”Dan janganlah kamu campuri mereka (istrimu) itu, sedang kamu beri’tikaf di masjid, itulah ketuntuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa”. (QS. al-Baqarah, 2:187);

2) Keluar dari masjid tanpa uzur atau halangan yang dibolehkan syariat. Namun, bila keluar dari masjid karena ada uzur, misalnya buang hajat atau buang air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan iktikaf.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ


’Dari Aisyah RA menuturkan, “Nabi SAW apabila beriktikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)’”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445);

3) mabuk yang disengaja;
4) murtad;
5) haidh, selama waktu i’tikaf cukup dalam masa suci biasanya;
6) nifas.

Sumber: https://islam.nu.or.id/ramadhan/tata-cara-itikaf-dan-keutamaannya-di-bulan-ramadhan-MBUzH

Niat Iktikaf

Adapun niat Iktikaf berikut:

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى


Nawaitul i’tikaafa fii haadzal masjidi lillaahi ta’aalaa

Aku niat iktikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala


(Tim Layanan Syariah)
الوسوم المتعلقة:
#InfoMasjid#Ramadan#BinaSyariah#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Bimas Islam
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Redaksi Ditjen Bimas Islam
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Setditjenعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua