Jakarta, bimasislam --- Imam Masjidil Haram Syekh Shaleh Abdullah bin Humaid memberikan ceramah tentang Wasathiyah Islam di Masjid Istiqlal usai Salat Jumat. Dalam kesempatan itu, Syekh Shaleh berkisah tentang sikap Rasulullah terhadap Arab Badui (A’raby) yang buang air kecil di Masjid.
“Pada zaman Rasulullah, ada seorang A'raby yang datang ke masjid lalu buang air kecil di hadapan para sahabat. Saat itu, para sahabat marah, tapi dicegah Rasulullah,” kisahnya diterjemahkan oleh Abdullah Baharmuz dari Staf Kedutaan Arab Saudi di Indonesia, Jumat (04/05).
“Rasulullah membiarkan orang itu buang air hingga selesai. Setelah itu, A’raby itu dipanggil dan diberi nasihat bahwa tempat ini adalah rumah Allah, tempat yang suci sehingga tidak boleh buang najis,” lanjutnya.
Bukannya dimarahi, kata Syekh Shaleh, Arab Badui itu justru diberi nasihat dengan baik oleh Rasulullah. Semantara para sahabat yang melihat diminta untuk membersihkan tempat yang terkena najis dengan air hingga suci kembali.
Mendengar nasihat Rasulullah, Arab Baui itu lalu berdoa. Dia memohon agar Allah memberikan rahmat kepada dirinya dan Nabi Muhammad SAW.
Menurut Syekh Shaleh seorang muslim yang memegang teguh sifat wasthiyah, dia akan jadikan wasathiyah sebagai perilaku sehari-hari. Dia akan seimbang dalam semua tindakannya, baik kepada Tuhannya, dirinya, keluarganya, tetangganya, dan masyarakatnya.
“Dia akan selalu jadikan sifat keseimbangan ini sehingga kebaikannya merata dan tidak berlebihan,” jelasnya.
Syekh Shaleh menambahkan bahwa banyak hukum Islam yang memberikan keringanan kepada umat Muhammad dalam pelaksananaannya. Menurutnya, dalam kondisi normal, umat Muhammad dituntut melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Namun dalam keadaan sakit dan bepergian, Islam juga memberikan banyak kemudahan.
“Ini membuktikan Islam sangat wasathiyah, tidak ingin memberatkan umatnya. Islam memberi banyak kemudahan agar umatnya bisa melaksanakan sebaik mungkin. Tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak meremehkan,” tuturnya.
“Tujuannya agar umat ini menjadi umat yang mustaqim, lurus. Tidak seorang melakukan sesuatu berlebihan, kecuali dia akan menghancurkan dirinya sendiri,” lanjutnya.
Syekh Shaleh mengingatkan bahwa pertengahan adalah hal yang benar agar umat Muhammad istiqamah dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Wasathiyah dalam Islam bukan berarti menggampangkan gama, berbasa-basi dalam agama apalagi yang berhubungan dengan akidah dan hukum.
“Wasathiyah artinya dalam melaksanakan Islam, kita tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan. Islam adalah Islam yang harus dilaksanakan sebaik mungkin, termasuk akhlakul karimah yang harus dijunjung,” tandasnya.
Sumber : kemenag.go.id
Penulis : Khoiron
Editor : Khoiron
Bahas Wasathiyah Islam, Imam Masjidil Haram Cerita Sikap Rasul terhadap Badui
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSambut Hari Toleransi Internasional, Ada Nikah Akbar hingga Masjid Ramah Pemudik Nataru
Mengusung tema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri”, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kerukunan umat beragama melalui dialog lintas iman, pemberdayaan masyarakat, penguatan keluarga, hingga layanan keagamaan yang inklusif.
Literasi Halal Kosmetik dan Peralatan Rumah Tangga Masih Rendah, Kemenag: Perlu Edukasi Masif
Survei Katadata Insight Center (KIC) tahun 2026 mencatat hanya 51,5 persen responden mengetahui kosmetik wajib bersertifikat halal. Sementara itu, pada kategori peralatan rumah tangga, angkanya hanya 14,5 persen.
Menyiapkan Bekal dan Mental sebelum Akad Pernikahan
Menyiapkan Bekal dan Mental sebelum Akad Pernikahan. Tanggal akad sudah disepakati. Gedung mulai dicari, warna busana diperdebatkan, daftar tamu bertambah setiap hari.






