Bimas IslamDirectorate General of Islamic Community Guidance

Direktur Urais Binsyar: Ilmu Falak dan Astronomi Penting Dipelajari Masyarakat

Cirebon, Bimas Islam --- Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama, Adib menyampaikan bahwa ilmu Falak dan astronomi penting diperkuat di tengah masyarakat. Sebab, kegiatan penting dalam kehidupan umat Islam ditentukan oleh ilmu tersebut.

“Ilmu Falak adalah ilmu yang unik dan langka, manfaatnya sangat dibutuhkan oleh umat Muslim untuk kepentingan ibadah,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Hisab Rukyat Tahun 2022 di Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (19/5/22) malam.

Menurutnya, mempelajari ilmu Falak bertujuan memperkuat ibadah. "Tujuannya agar semakin mantap dalam beribadah," kata pria kelahiran Indramayu, 48 tahun yang lalu itu.

Sebab, dalam keseharian ibadah, umat Islam tidak bisa melepaskan diri dari kajian hisab rukyat yang berlandaskan pada teori ilmu Falak. "Ini sangat penting dalam praktik peribadatan," ujarnya.

Hal yang menjadi pembahasan dalam ilmu pengetahuan ini adalah penentuan arah kiblat, penentuan waktu salat, gerhana matahari dan bulan, hingga awal bulan Hijriah.

Dalam menentukan arah kiblat, misalnya, masyarakat dilatih untuk memosisikan arah kiblat dengan presisi yang akurat. Hal ini bisa dilakukan dengan perangkat teodolit.

"Memang sudah ada di handphone, kompas dan lain-lain. Itu rentan magnet. Tapi teodolit presisinya tinggi. Membangun musala dan masjid lebih akurat menggunakan alat ini," ujarnya.

Lebih lanjut, Adib juga menyampaikan, perbedaan pandangan mengenai hisab dan rukyat juga kerap mengombang-ambingkan masyarakat. Di sinilah, menurutnya, urgensi memperkuat ilmu hisab dan rukyat di tengah masyarakat.

"Hari-hari ini ketika kemudian menyikapi perbedaan pandangan mengenai awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, kalau umat Islam tidak memahami akan mudah diombang-ambingkan perpecahan. Mudah diadu domba," katanya.

Terlebih dengan adanya kelompok yang tidak memahami metodologi. "Umat Islam harus betul-betul memahami praktik," ujarnya.

Misalnya, soal hilal terlihat lebih tinggi di Arab Saudi ketimbang di Indonesia karena memang posisi geografis negara tersebut lebih barat sehingga memengaruhi terhadap posisi hilal.

“Jadi, hal-hal seperti itu penting kita berikan penjelasan kepada masyarakat melalui pemahaman ilmu Falak,” pungkasnya.

(Anty)
Related Hashtags:
#InfoMasjid#KUA#Ramadan#BinaSyariah#BimasIslam#KemenagRI

Contributors & Work Unit

Click any contributor or work unit to explore related news.

Reporter
Bimas Islam
Reporting & News WritingView reporter articles
Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Copy Editing & CurationView editor articles
Photographer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Visual & Photo DocumentationView photo archives
Work Unit
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenView unit news
Officially published by the Ministry of Religious Affairs RI.

Baca Selanjutnya

Lihat semua