Bimas IslamDirectorate General of Islamic Community Guidance

Media Sosial Harus Jadi Ekosistem Pengarusutamaan Moderasi Beragama

Lombok Barat, Bimas Islam --- Era digitalisasi sangat rentan terjadinya konflik sosial keagamaan. Generasi milenial dianggap lebih sensitif dalam persoalan nilai-nilai keagamaan, sehingga mudah terpengaruh. Dosen Universitas Negeri Surabaya, Siti Nur Azizah Ma’ruf menekankan agar aktor penggerak moderasi beragama lebih aktif di media sosial untuk memberikan konten yang moderat.

Hal itu dikatakannya saat menjadi narasumber pada acara Dialog Nasional Keagamaan dan Kebangsaan yang bertema ‘Pengarusutamaan Moderasi Beragama dalam Meneguhkan Islam Rahmatan lil Alamin’ di Lombok Barat, NTB, Selasa (2/11/2021).

“Pengarusutamaan moderasi beragama harus dominan di media sosial, sebab jika tidak, maka muncul pemuka agama yang baru paham agama kemudian dianggap sebagai tokoh agama. Kita berharap para tokoh agama secara kapasitas keagamaan yang bisa mendominasi,” katanya di depan 70 peserta yang mengikuti secara hybrid itu.

Menurutnya, tokoh agama yang lebih mumpuni malah paling sungkan bersuara di media sosial, padahal media sosial saat ini paling efektif untuk kesadaran kolektif tentang moderasi beragama.

“Jadi kita perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga narasi-narasi beragama yang disampaikan bisa tersampaikan dengan tepat, serta dapat menumbuhkan sikap moderat kepada umat beragama,” katanya.

Peran Tokoh Agama
Nur Azizah mengatakan, tokoh agama sangat berperan dalam penanganan konflik, misalnya membantu proses perdamaian dan rekonsiliasi baik selama dan setelah konflik, dan mendukung dialog konstruktif dan demokratis antara kelompok dengan posisi beragam dan biasanya berlawanan.

“Mereka juga memiliki kemampuan untuk menjadi penghubung secara vertikal maupun horizontal dalam menyelesaikan konflik,” katanya.

Selain memediasi, lanjutnya, tokoh agama juga bisa mengarahkan pihak-pihak yang berkonflik untuk tetap konstruktif, dialogis dan tidak terpancing kepada potensi-potensi yang merugikan dan melanggar hukum.

“Dalam implementasinya, saya kira tidak bisa dilakukan sendirian, pemerintah juga harus mendukung peran para tokoh agama tersebut. Selain itu pemerintah dengan tokoh agama bisa menjadi konstruksi dalam pengarusutamaan moderasi beragama ini. Terutama dalam membangun toleransi beragama dan juga keselarasan antar umat beragama,” pungkasnya.

(Anty)
Related Hashtags:
#Toleransi#ModerasiBeragama#BimasIslam#KemenagRI

Contributors & Work Unit

Click any contributor or work unit to explore related news.

Reporter
Bimas Islam
Reporting & News WritingView reporter articles
Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Copy Editing & CurationView editor articles
Photographer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Visual & Photo DocumentationView photo archives
Work Unit
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
SetditjenView unit news
Officially published by the Ministry of Religious Affairs RI.

Baca Selanjutnya

Lihat semua