Sukoharjo, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) meningkatkan kapasitas dai untuk memperkuat moderasi beragama melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Dakwah Khusus untuk Penguatan Dakwah Damai. Kegiatan yang bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin Surakarta (STIM) ini digelar di Sukoharjo, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan bertema “Memperkuat Pemahaman Keagamaan dan Keterampilan Dakwah untuk Meneguhkan Islam sebagai Rahmat” ini bertujuan membekali dai dengan pemahaman keagamaan yang mendalam dan keterampilan dakwah yang bijaksana untuk menjaga kerukunan serta memperkuat komitmen kebangsaan.
Ketua STIM Surakarta, Zahrodin Fanani, mengatakan, STIM Surakarta bersama Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki berkomitmen mendidik dai, ustaz, dan kader umat yang berilmu, berakhlak, serta siap mengabdi kepada agama, masyarakat, dan bangsa.
“Para dai dan ustaz yang kami didik akan terus berjuang melalui ilmu, pendidikan, dan dakwah untuk menjaga persatuan serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jalan perjuangan kami adalah dakwah dan pengabdian, bukan pemberontakan; membangun umat, bukan merusak bangsa,” ujar Zahrodin.
Ia mengungkapkan, kecintaan terhadap Islam dan komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak perlu dipertentangkan. Menurutnya, dakwah dan pendidikan dapat menjadi jalan untuk membangun umat sekaligus merawat persatuan bangsa.
Zahrodin juga menjelaskan, dakwah tidak hanya menuntut penyampaian kebenaran, tetapi juga cara penyampaian yang tepat dan bijaksana. Karena itu, para dai perlu menerapkan prinsip bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan, sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 125.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam, Husni, mengatakan, dai dan Penyuluh Agama Islam memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan keagamaan, membina akhlak, dan memperkuat kerukunan. Peran tersebut perlu didukung pemahaman agama yang mendalam dan keterampilan komunikasi yang baik.
“Dai dan Penyuluh Agama Islam perlu memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam serta keterampilan komunikasi yang mampu menumbuhkan penghormatan terhadap martabat manusia dan tanggung jawab menjaga kehidupan bersama,” kata Husni.
Ia menambahkan, penyebaran pesan keagamaan melalui berbagai media menuntut kemampuan memahami dalil secara utuh. Pemotongan teks, pengabaian konteks, dan penggunaan dalil tanpa memperhatikan penjelasan ulama dapat memicu pemahaman yang keliru, termasuk narasi yang membenarkan kebencian dan kekerasan.
Hal itu sejalan dengan pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan pentingnya menyelaraskan pemahaman keagamaan dengan komitmen kebangsaan. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi landasan untuk memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, dan menghormati perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui kegiatan ini, peserta dibekali kemampuan memahami teks keagamaan secara utuh, menelaah hadis berdasarkan kesahihan dan konteksnya, serta mengenali dan merespons narasi yang membenarkan kekerasan. Peserta juga diarahkan untuk mengembangkan keterampilan dialog dan pendampingan keagamaan yang persuasif berdasarkan prinsip fikih dakwah.
Kemenag berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat mendorong para dai menyampaikan dakwah secara tegas dalam prinsip, santun dalam penyampaian, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan. Dengan demikian, dakwah dapat berkontribusi dalam memperkuat moderasi beragama, menjaga kerukunan, dan meneguhkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Fauji Ridwan Juara MTQ Internasional, Diharap Jadi Inspirasi Generasi Muda
Jakarta, Bimas Islam — Prestasi Muhammad Fauji Ridwan yang meraih juara pertama cabang Tilawah Al-Qur’an Putra pada ajang internasional di Malaysia…



