Bangkok, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) berkomitmen mendukung keberlanjutan International Partnership on Religion and Sustainable Development (PaRD), kemitraan internasional yang mendorong keterlibatan agama dan aktor keagamaan dalam pembangunan berkelanjutan. Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian PaRD Leadership Meeting, General Assembly of Members, dan PaRD Annual Forum 2026 di Bangkok, Thailand, pada 9–12 Oktober 2026.
Nodal Officer atau perwakilan resmi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama dalam PaRD, Nuria Isna Asyar, mengatakan, Indonesia siap melanjutkan kontribusinya untuk menjaga keberlanjutan kemitraan tersebut.
“Indonesia memandang PaRD sebagai ruang strategis untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, lembaga akademik, dan aktor keagamaan. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus berkontribusi sesuai kapasitas dan kewenangan yang dimiliki Kementerian Agama,” ujar wanita yang juga merupakan anggota Steering Board sekaligus Co-Chair of Governmental Entities PaRD itu, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, dukungan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pendanaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kontribusi nonfinansial, pertukaran pengetahuan, berbagi praktik baik, dan penguatan kerja sama strategis.
“Kami ingin memastikan pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan umat beragama, mengembangkan moderasi beragama, dan membangun dialog lintas agama dapat menjadi bagian dari kontribusi nyata bagi PaRD dan agenda pembangunan berkelanjutan,” lanjutnya.
Hal itu sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan pentingnya diplomasi keagamaan dan dialog lintas agama untuk membangun perdamaian serta memperkuat kerukunan global. Menurutnya, nilai-nilai agama dapat menjadi landasan untuk mempererat kerja sama kemanusiaan dan merespons berbagai tantangan dunia.
Komitmen tersebut menjadi penting seiring dengan rencana Pemerintah Jerman mengakhiri perannya sebagai penyandang dana utama PaRD pada 2027. Kondisi ini mendorong para anggota untuk membahas model keberlanjutan kemitraan, termasuk melalui transisi menuju PaRD 2.0.
Pembahasan mengenai arah kepemimpinan, tata kelola, dan keberlanjutan PaRD menjadi bagian dari PaRD Leadership Meeting pada 9 Oktober 2026. Pertemuan tersebut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron Syamsuddin, dan Nuria Isna Asyar.
Agenda berlanjut dengan General Assembly of Members pada 10–11 Oktober 2026 dan PaRD Annual Forum pada 12 Oktober 2026. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para anggota dan pemangku kepentingan membahas penguatan kolaborasi serta kontribusi kemitraan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Delegasi Kemenag terdiri atas Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron Syamsuddin, Kasubdit Bina Lembaga dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf Muhibuddin, Kasubdit Kemitraan Umat Islam Nur Rahmawati, serta Nuria Isna Asyar.
Delegasi Indonesia juga melibatkan Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian, Dicky Sofjan yang mewakili ICRS UGM dan Globethics, serta Destya Nawriz yang mewakili Baha’i International.
Keterlibatan pemerintah dan organisasi mitra tersebut mencerminkan kontribusi beragam aktor Indonesia dalam memperkuat hubungan agama dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui partisipasi dalam PaRD, Kemenag berharap kerja sama internasional ini terus menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan kemitraan lintas sektor. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi aktor keagamaan dalam mewujudkan perdamaian, kerukunan, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Mr
foto: © PaRD/GIZ
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
ISEF 2026, Tiga Strategi Perkuat Zakat Produktif untuk Kemandirian Mustahik
Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama mendorong tiga strategi penguatan zakat produktif, yaitu peningkatan kualitas program pemberdayaan, penguatan…



