Jakarta, Bimas Islam — Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama menyiapkan manajemen talenta sebagai pendekatan baru dalam pengembangan karier aparatur sipil negara (ASN). Melalui sistem ini, rekam jejak, kompetensi, dan portofolio pegawai akan menjadi bagian dari pemetaan untuk menyiapkan kandidat pengisian jabatan di lingkungan Kemenag.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan, penerapan manajemen talenta merupakan bagian dari penguatan sistem pengelolaan ASN di Kemenag. Sistem tersebut memungkinkan kementerian memiliki basis data mengenai kompetensi dan kesiapan pegawai untuk kebutuhan pengembangan karier.
“Ke depan, mulai sekarang, kemungkinan tidak ada lagi lelang di Kementerian Agama. Kita akan menggunakan manajemen talenta. Jadi, teman-teman rajin-rajin mengisi portofolionya,” ujar Kamaruddin saat memberikan pembinaan kepada pegawai Ditjen Bimas Islam di Auditorium KH Rasjidi, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Kamaruddin menjelaskan, Kemenag telah memperoleh kewenangan untuk menerapkan manajemen talenta setelah sistem tersebut dipresentasikan dan dinilai oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Dengan sistem ini, data pegawai tidak hanya menjadi administrasi kepegawaian, tetapi juga menjadi basis pemetaan talenta dan kesiapan karier.
Ia menggambarkan, pegawai akan dipetakan berdasarkan kinerja, kompetensi, dan rekam jejaknya. Kandidat yang memenuhi tingkat kesiapan tertentu dapat masuk dalam daftar talenta untuk dipertimbangkan dalam pengisian jabatan. Proses tersebut tetap mengikuti mekanisme dan kewenangan yang berlaku, termasuk penetapan oleh BKN sesuai ketentuan.
Karena itu, ia meminta ASN Kemenag aktif memperbarui dan melengkapi portofolio masing-masing. Menurutnya, rekam jejak yang terdokumentasi dengan baik akan membantu organisasi mengenali kapasitas pegawai sekaligus menyiapkan kader untuk kebutuhan jabatan pada masa mendatang.
Penerapan manajemen talenta ini sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa pengembangan jabatan dan karier ASN ke depan akan semakin ditentukan oleh portofolio, kompetensi, dan kinerja. Menag juga meminta ASN proaktif melengkapi rekam jejak profesional, termasuk bukti pengembangan diri, agar potensi dan kapasitas masing-masing dapat terbaca dalam sistem manajemen talenta.
Di luar aspek administratif dan kompetensi, Kamaruddin menempatkan integritas sebagai fondasi pengembangan karier ASN. Integritas, menurutnya, mencakup kepatuhan terhadap regulasi, loyalitas dalam menjalankan amanah, serta kemampuan memperlakukan pimpinan, kolega, dan bawahan secara profesional.
“Kalau diberi amanah, amanah apa pun itu, kita menjalankannya dengan integritas. Integritas itu bukan hanya persoalan uang, bukan hanya persoalan materi. Taat kepada pimpinan, loyal kepada pimpinan, loyal kepada regulasi, bagi saya itu bagian dari integritas,” katanya.
Ia juga mengingatkan pejabat agar tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk menuntut penghormatan. Sebaliknya, penghormatan perlu dibangun melalui sikap saling menghargai. Budaya kerja semacam itu dinilai penting untuk menciptakan hubungan yang sehat antara pimpinan dan staf sekaligus mendukung kinerja organisasi.
Menurut Kamaruddin, kemampuan teknis bukan satu-satunya ukuran dalam menilai kualitas seorang calon pejabat. Karakter, cara berinteraksi, kemampuan bekerja sama, serta sikap menghargai orang lain juga menjadi bagian penting yang perlu dibangun dalam perjalanan karier ASN.
Ia meminta pegawai Ditjen Bimas Islam terus meningkatkan kapasitas personal melalui pembelajaran berkelanjutan. Setiap unit kerja perlu menguasai isu sesuai bidang tugasnya, sehingga pegawai tidak hanya memahami pekerjaan administratif, tetapi juga memiliki kemampuan membaca persoalan dan merumuskan respons yang relevan.
“Belajar, belajar. Personal capacity tidak boleh berhenti. Di Penais harus menguasai isu-isu di Penais, di KUA harus menguasai isu-isu KUA, di Zawa harus menguasai isu-isu zakat dan wakaf. Menguasai secara serius, belajar secara serius,” tuturnya.
Pembinaan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembinaan Pegawai Ditjen Bimas Islam Tahun 2026 yang berlangsung Rabu (30/9/2026) di Auditorium KH Rasjidi, Jakarta.
Kegiatan itu diikuti seluruh pegawai Ditjen Bimas Islam dan menghadirkan Hearty Service Training sebagai narasumber. Melalui pembinaan ini, Ditjen Bimas Islam mendorong penguatan kapasitas aparatur sekaligus membangun budaya kerja yang berintegritas, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kinerja.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



