Kamaruddin Amin menjelaskan, selain bantuan kemanusiaan, kerja sama dengan Al-Azhar akan difokuskan pada peningkatan kapasitas penghulu, penyuluh, dan imam masjid di Indonesia. "Kita akan berkolaborasi dengan Al-Azhar dalam peningkatan kapasitas penghulu, penyuluh, dan imam masjid di Indonesia," ungkapnya.
Kamaruddin menegaskan, akan digelar pelatihan bagi ketiga kelompok tersebut atas kerja sama dengan Pusat Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA).
Pada kesempatan tersebut, Kamaruddin Amin, yang juga merupakan Komisioner BAZNAS (ex-Officio), juga mengoordinasikan pendistribusian bantuan masyarakat Indonesia untuk Palestina melalui BAZNAS, baik secara langsung maupun melalui Mitra BAZNAS dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir. Koordinasi dianggap penting mengingat kompleksitas pendistribusian dan tingginya risiko keamanan di wilayah konflik.
Bantuan kemanusiaan ini akan disalurkan dalam tiga skema, dengan 40% untuk tanggap darurat, 10% untuk recovery, dan 50% jangka recovery dalam bentuk rekonstruksi.
Duta Besar RI untuk Mesir, Lutfi Rauf, menjelaskan, penyaluran bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Palestina mengalami kesulitan, terutama karena kendala diplomasi dan kompleksitas hubungan Mesir dengan Palestina dan Israel. Mesir hanya berperan sebagai negara transit bagi bantuan kemanusiaan masyarakat Indonesia, karena Gaza termasuk dalam wilayah kerja KBRI Yordania.
Lutfi Rauf menyampaikan apresiasinya terhadap BAZNAS yang telah memberi bantuan berupa tenda bagi pengungsi dan beasiswa untuk mahasiswa Palestina di Al-Azhar Mesir.
"Penyaluran bantuan ke Palestina merupakan proses diplomasi yang paling sulit. Hal ini dikarenakan Mesir tidak memiliki kontrol penuh atas Palestina dan hubungannya dengan Israel yang berjalan dalam keadaan rumit pula," ujarnya.
Ba/Mr



