“Kita harus punya rasa senasib sepenanggungan dengan umat Islam di seluruh dunia. Ketika ada yang menderita, seperti di Palestina, kita semua merasakan betapa pedihnya. Kita seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan,” ujarnya.
Pria yang akrab disebut Gus Fahrur itu menyebut, pembagian peran dalam perjuangan mesti proporsional. Dikatakannya, tidak semua orang bisa menjadi pemimpin, tetapi setiap orang dapat berperan dalam membantu saudara-saudara seiman.
“Nabi menyebut umat ini seperti satu bangunan yang saling menguatkan. Mesti ada pembagian tugas, tidak mungkin semua menjadi jenderal, harus ada yang menjadi pasukan,” ungkapnya.
Terkait itu, ia menegaskan pentingnya membangun hubungan sosial yang kuat. Menurutnya, hubungan sosial yang kuat dapat menciptakan kerukunan dan mewujudkan perdamaian di tengah umat.
“Rasulullah mengajarkan kita untuk saling menyapa, baik mengenal atau tidak. Beliau juga mengajarkan pentingnya menjamu tamu dan menyambung tali silaturahmi, sebagai bagian dari ajaran damai,” imbuhnya.
Maulid Nabi 1446 Hijriah beetajuk “Pesan Damai Rasulullah, Menguatkan Karakter Nusantara Baru, Indonesia Maju” dihadiri Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki, pejabat eselon I dan II Kemenag, Duta Besar (Dubes) negara sahabat, perwakilan kementerian/lembaga, serta tamu undangan lainnya.
Wcp/Mr



