Oleh:
Dr. Nur Kumala Dewi, S. Kom., M.Pd.*
Dr. Nur Kumala Dewi, S. Kom., M.Pd.*
Rapat sudah selesai, tetapi satu kalimat masih ikut pulang. Laptop ditutup, pekerjaan dikirim, lalu pikiran memutar ulang percakapan yang sama: mengapa gagasan kita dilewati? Mengapa yang bekerja justru paling sedikit disebut? Di perjalanan, layar ponsel menampilkan pencapaian orang lain. Kita ikut tersenyum, tetapi diam-diam bertanya: sudah berusaha sejauh ini, kok rasanya masih di sini?
Pertanyaan itu akrab bagi pegawai, mahasiswa, maupun anak muda yang baru memasuki dunia kerja. Ada hari ketika semuanya terasa bergerak. Ada pula hari ketika usaha seperti kehilangan alamat. Kita mungkin sedang lelah, kecewa, atau membutuhkan arah baru. Menyebut diri gagal terlalu cepat bisa menutup kesempatan untuk membaca apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bayangkan sebuah ilustrasi: seorang pegawai menyiapkan bahan rapat sampai malam. Besoknya, usul yang ia sampaikan nyaris tidak dibahas. Ketika gagasan serupa muncul dari rekan lain, ruangan justru menyambutnya. Ia ingin menyela, tetapi memilih mencatat. Sore itu, seorang rekan baru meminta bantuan memahami alur pekerjaan. Ia menarik napas dan mulai menjelaskan. Kekecewaan belum hilang, tetapi ada orang yang tetap membutuhkan kehadirannya.
Di sinilah perjalanan terasa menanjak. Kita ingin bekerja dengan baik, tetapi juga ingin diperlakukan adil. Dalam hati muncul hitung-hitungan: “Kok aku terus? Dia mengerjakan apa?” Pertanyaan itu tidak selalu lahir dari iri. Bisa jadi pembagian tugas memang bermasalah. Namun, ketika seluruh perhatian tersedot pada pekerjaan orang lain, kita bisa lupa menilai pekerjaan sendiri. Mana beban yang perlu dibicarakan, mana prasangka yang perlu diperiksa?
Pegawai dalam ilustrasi tadi tidak harus menelan semuanya. Ia dapat menunjukkan dokumen, menjelaskan kontribusinya, dan meminta pembagian tugas yang lebih jelas. Menjaga niat perlu berjalan bersama keberanian menyampaikan persoalan. Ikhlas tidak menghapus hak untuk dihargai. Ia membantu kita memperjuangkan hak tanpa menjadikan kemarahan sebagai pengemudi setiap keputusan.
Lalu, bagaimana jika ukuran kemajuan kita diperluas?
Selain menanyakan siapa yang mendapat panggung, tanyakan apa yang bertambah dalam diri hari ini. Adakah pengetahuan baru, cara kerja yang lebih rapi, atau kesalahan yang berhasil diperbaiki? Pertanyaan sederhana ini mengubah arah perhatian. Kita tetap peduli pada keadilan, sambil memastikan pertumbuhan diri tidak menunggu suasana kantor menjadi sempurna.
Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung pengakuan yang belum datang, sampai lupa mengenali kemampuan yang sudah bertambah. Pencapaian tetap penting. Namun, ilmu yang bertambah dan manfaat yang kita berikan juga layak menjadi ukuran kemajuan.
Sebab, pengakuan tidak selalu datang tepat waktu. Kerja baik pun tidak otomatis membuat setiap kesempatan terbuka. Karena itu, kontribusi perlu dicatat dan disampaikan secara wajar. Namun, membangun reputasi dengan membuka aib atau menginjak rekan akan meninggalkan persoalan baru. Kita boleh terlihat melalui karya. Kita juga perlu memberi kredit kepada mereka yang ikut bekerja. Rekam jejak lebih dapat dipercaya ketika orang lain tidak perlu direndahkan untuk membuat kita tampak tinggi.
Dalam kajian Richard M. Ryan dan Edward L. Deci di American Psychologist (2000), motivasi dan kesejahteraan berkaitan dengan kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Secara sederhana, manusia membutuhkan ruang untuk bertindak dengan kesadaran, merasa mampu, dan memiliki hubungan yang mendukung. Bagi kita, ini menjadi pengingat: merawat semangat membutuhkan latihan kemampuan sekaligus lingkungan yang sehat. Kemauan pribadi perlu ditopang kesempatan belajar dan relasi yang menghargai.
Tetapi bagaimana bila lingkungan belum memberi dukungan itu? Mulailah dari langkah yang masih terjangkau. Buat catatan singkat pada akhir hari: apa yang dipelajari dan apa yang perlu dibicarakan besok? Catatan itu membantu membedakan kemajuan nyata dari perasaan tertinggal. Dalam sepekan, mungkin pekerjaan belum berubah, tetapi kemampuan menyelesaikannya sudah bertambah. Pertumbuhan kecil layak dikenali, meskipun belum menjadi pencapaian yang diumumkan.
Minta umpan balik yang spesifik. Cari rekan diskusi yang dapat dipercaya. Pelajari satu keterampilan yang tertunda. Bila beban melampaui kemampuan, sampaikan batas dan kebutuhan bantuan. Mengambil jeda juga bagian dari menjaga mutu kerja. Kita tidak harus membuktikan nilai diri dengan selalu tersedia untuk semua orang.
Di ruang pengabdian ASN, persoalan ini memiliki dimensi publik. Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 memuat nilai dasar ASN, termasuk kompeten, harmonis, dan kolaboratif. Nilai tersebut terasa nyata saat kita membantu rekan belajar, menghargai perbedaan, dan memberi ruang kontribusi. Ketika beban kerja timpang, pembenahan pembagian tugas ikut menjaga mutu pelayanan. Masyarakat membutuhkan aparatur yang mampu bekerja bersama, termasuk ketika hubungan di dalam kantor sedang diuji.
Untuk memahami pengalaman, kita perlu memisahkan kejadian dari penafsiran. Gagasan yang tidak dibahas adalah kejadian; anggapan bahwa semua orang meremehkan kita adalah kesimpulan yang masih perlu diuji. Adakah informasi yang terlewat? Apakah waktu penyampaian kurang tepat? Pertanyaan seperti ini memberi jarak antara rasa sakit dan keputusan. Pengalaman tetap berharga, tetapi akan lebih menolong ketika diperiksa dengan jernih. Kita dapat belajar tanpa harus membenarkan setiap perlakuan orang lain.
Tentu, bercermin tidak selalu nyaman. Mungkin orang lain memang keliru. Mungkin cara kita menjelaskan juga perlu diperbaiki. Tidak setiap penolakan berarti ada yang iri; tidak setiap hambatan muncul karena seseorang menghalangi. Memeriksa kemungkinan itu membuat kita lebih bebas mengambil langkah. Kita dapat mempertahankan prinsip sambil mengubah cara berkomunikasi. Kita juga dapat meminta penjelasan tanpa lebih dahulu mengadili niat orang lain.
Lalu, bagaimana menjaga diri ketika ucapan seseorang telanjur menyakitkan? Sedih dan kesal bisa muncul tanpa diminta. Kita tidak perlu merasa gagal karena mengalaminya. Yang dapat dilatih ialah respons setelahnya: menunda balasan, membatasi percakapan yang merusak, atau mencari dukungan. Ada pintu dalam diri yang perlu dijaga. Orang lain boleh mengetuk; kita belajar menentukan seberapa jauh penilaian mereka diberi ruang untuk mengatur arah hidup kita.
Mengenali diri menjadi penting di sini. Apa nilai yang ingin kita pertahankan ketika sedang marah? Apa yang membuat kita bangga pada proses sendiri? Harga diri perlu berpijak pada pengenalan yang jujur atas kemampuan dan kekurangan. Satu komentar tidak merangkum seluruh perjalanan. Satu hari yang buruk juga tidak membatalkan kebaikan yang telah kita kerjakan. Kita berhak pulih, sambil tetap bertanggung jawab atas pilihan berikutnya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah [94]: 5–6). Kita dapat membaca pengingat itu sebagai ajakan menjaga harapan sambil berikhtiar. Saat jalan terasa sempit, kemungkinan pertolongan tetap perlu dicari: melalui percakapan yang jujur, pembelajaran, atau keberanian memperbaiki keadaan. Menyebut pengalaman sebagai tempaan tidak membenarkan perlakuan yang merugikan. Harapan justru membantu kita bergerak, termasuk mencari bantuan ketika persoalan tidak mampu ditangani sendiri.
Kembali kepada pegawai tadi. Menjelang tidur, ia mungkin masih mengingat rapat yang mengecewakan. Tetapi ia juga ingat rekan baru yang akhirnya memahami alur pekerjaannya. Besok, ia akan membicarakan pembagian tugas dan mencatat kontribusi dengan lebih tertib. Hari itu tidak berubah menjadi indah seketika. Meski demikian, ada manfaat yang telah diberikan dan langkah yang mulai terlihat. Ia belum memperoleh semua jawaban, tetapi tidak lagi menyerahkan seluruh penilaian dirinya kepada satu rapat.
Barangkali kedewasaan tumbuh seperti itu: perlahan, melalui keputusan sehari-hari. Kita belajar menjaga diri, menyampaikan batas, dan tetap hadir untuk pekerjaan yang bermakna. Kita bangga pada proses tanpa merasa paling benar. Hari yang berat tidak harus menjadi hari yang sia-sia, jika ada pelajaran yang dibawa pulang dan manfaat yang ditinggalkan. Semangat inilah yang perlu kita hadirkan dalam pengabdian. Mari terus percaya dan mencintai Kementerian Agama dengan ikut merawat pelayanan yang jujur, saling menghargai, dan terus membaik. Besok mungkin masih menantang. Kita melangkah dengan lebih mengenal diri dan tujuan pengabdian.
*Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Agama
Pertanyaan itu akrab bagi pegawai, mahasiswa, maupun anak muda yang baru memasuki dunia kerja. Ada hari ketika semuanya terasa bergerak. Ada pula hari ketika usaha seperti kehilangan alamat. Kita mungkin sedang lelah, kecewa, atau membutuhkan arah baru. Menyebut diri gagal terlalu cepat bisa menutup kesempatan untuk membaca apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bayangkan sebuah ilustrasi: seorang pegawai menyiapkan bahan rapat sampai malam. Besoknya, usul yang ia sampaikan nyaris tidak dibahas. Ketika gagasan serupa muncul dari rekan lain, ruangan justru menyambutnya. Ia ingin menyela, tetapi memilih mencatat. Sore itu, seorang rekan baru meminta bantuan memahami alur pekerjaan. Ia menarik napas dan mulai menjelaskan. Kekecewaan belum hilang, tetapi ada orang yang tetap membutuhkan kehadirannya.
Di sinilah perjalanan terasa menanjak. Kita ingin bekerja dengan baik, tetapi juga ingin diperlakukan adil. Dalam hati muncul hitung-hitungan: “Kok aku terus? Dia mengerjakan apa?” Pertanyaan itu tidak selalu lahir dari iri. Bisa jadi pembagian tugas memang bermasalah. Namun, ketika seluruh perhatian tersedot pada pekerjaan orang lain, kita bisa lupa menilai pekerjaan sendiri. Mana beban yang perlu dibicarakan, mana prasangka yang perlu diperiksa?
Pegawai dalam ilustrasi tadi tidak harus menelan semuanya. Ia dapat menunjukkan dokumen, menjelaskan kontribusinya, dan meminta pembagian tugas yang lebih jelas. Menjaga niat perlu berjalan bersama keberanian menyampaikan persoalan. Ikhlas tidak menghapus hak untuk dihargai. Ia membantu kita memperjuangkan hak tanpa menjadikan kemarahan sebagai pengemudi setiap keputusan.
Lalu, bagaimana jika ukuran kemajuan kita diperluas?
Selain menanyakan siapa yang mendapat panggung, tanyakan apa yang bertambah dalam diri hari ini. Adakah pengetahuan baru, cara kerja yang lebih rapi, atau kesalahan yang berhasil diperbaiki? Pertanyaan sederhana ini mengubah arah perhatian. Kita tetap peduli pada keadilan, sambil memastikan pertumbuhan diri tidak menunggu suasana kantor menjadi sempurna.
Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung pengakuan yang belum datang, sampai lupa mengenali kemampuan yang sudah bertambah. Pencapaian tetap penting. Namun, ilmu yang bertambah dan manfaat yang kita berikan juga layak menjadi ukuran kemajuan.
Sebab, pengakuan tidak selalu datang tepat waktu. Kerja baik pun tidak otomatis membuat setiap kesempatan terbuka. Karena itu, kontribusi perlu dicatat dan disampaikan secara wajar. Namun, membangun reputasi dengan membuka aib atau menginjak rekan akan meninggalkan persoalan baru. Kita boleh terlihat melalui karya. Kita juga perlu memberi kredit kepada mereka yang ikut bekerja. Rekam jejak lebih dapat dipercaya ketika orang lain tidak perlu direndahkan untuk membuat kita tampak tinggi.
Dalam kajian Richard M. Ryan dan Edward L. Deci di American Psychologist (2000), motivasi dan kesejahteraan berkaitan dengan kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Secara sederhana, manusia membutuhkan ruang untuk bertindak dengan kesadaran, merasa mampu, dan memiliki hubungan yang mendukung. Bagi kita, ini menjadi pengingat: merawat semangat membutuhkan latihan kemampuan sekaligus lingkungan yang sehat. Kemauan pribadi perlu ditopang kesempatan belajar dan relasi yang menghargai.
Tetapi bagaimana bila lingkungan belum memberi dukungan itu? Mulailah dari langkah yang masih terjangkau. Buat catatan singkat pada akhir hari: apa yang dipelajari dan apa yang perlu dibicarakan besok? Catatan itu membantu membedakan kemajuan nyata dari perasaan tertinggal. Dalam sepekan, mungkin pekerjaan belum berubah, tetapi kemampuan menyelesaikannya sudah bertambah. Pertumbuhan kecil layak dikenali, meskipun belum menjadi pencapaian yang diumumkan.
Minta umpan balik yang spesifik. Cari rekan diskusi yang dapat dipercaya. Pelajari satu keterampilan yang tertunda. Bila beban melampaui kemampuan, sampaikan batas dan kebutuhan bantuan. Mengambil jeda juga bagian dari menjaga mutu kerja. Kita tidak harus membuktikan nilai diri dengan selalu tersedia untuk semua orang.
Di ruang pengabdian ASN, persoalan ini memiliki dimensi publik. Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 memuat nilai dasar ASN, termasuk kompeten, harmonis, dan kolaboratif. Nilai tersebut terasa nyata saat kita membantu rekan belajar, menghargai perbedaan, dan memberi ruang kontribusi. Ketika beban kerja timpang, pembenahan pembagian tugas ikut menjaga mutu pelayanan. Masyarakat membutuhkan aparatur yang mampu bekerja bersama, termasuk ketika hubungan di dalam kantor sedang diuji.
Untuk memahami pengalaman, kita perlu memisahkan kejadian dari penafsiran. Gagasan yang tidak dibahas adalah kejadian; anggapan bahwa semua orang meremehkan kita adalah kesimpulan yang masih perlu diuji. Adakah informasi yang terlewat? Apakah waktu penyampaian kurang tepat? Pertanyaan seperti ini memberi jarak antara rasa sakit dan keputusan. Pengalaman tetap berharga, tetapi akan lebih menolong ketika diperiksa dengan jernih. Kita dapat belajar tanpa harus membenarkan setiap perlakuan orang lain.
Tentu, bercermin tidak selalu nyaman. Mungkin orang lain memang keliru. Mungkin cara kita menjelaskan juga perlu diperbaiki. Tidak setiap penolakan berarti ada yang iri; tidak setiap hambatan muncul karena seseorang menghalangi. Memeriksa kemungkinan itu membuat kita lebih bebas mengambil langkah. Kita dapat mempertahankan prinsip sambil mengubah cara berkomunikasi. Kita juga dapat meminta penjelasan tanpa lebih dahulu mengadili niat orang lain.
Lalu, bagaimana menjaga diri ketika ucapan seseorang telanjur menyakitkan? Sedih dan kesal bisa muncul tanpa diminta. Kita tidak perlu merasa gagal karena mengalaminya. Yang dapat dilatih ialah respons setelahnya: menunda balasan, membatasi percakapan yang merusak, atau mencari dukungan. Ada pintu dalam diri yang perlu dijaga. Orang lain boleh mengetuk; kita belajar menentukan seberapa jauh penilaian mereka diberi ruang untuk mengatur arah hidup kita.
Mengenali diri menjadi penting di sini. Apa nilai yang ingin kita pertahankan ketika sedang marah? Apa yang membuat kita bangga pada proses sendiri? Harga diri perlu berpijak pada pengenalan yang jujur atas kemampuan dan kekurangan. Satu komentar tidak merangkum seluruh perjalanan. Satu hari yang buruk juga tidak membatalkan kebaikan yang telah kita kerjakan. Kita berhak pulih, sambil tetap bertanggung jawab atas pilihan berikutnya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah [94]: 5–6). Kita dapat membaca pengingat itu sebagai ajakan menjaga harapan sambil berikhtiar. Saat jalan terasa sempit, kemungkinan pertolongan tetap perlu dicari: melalui percakapan yang jujur, pembelajaran, atau keberanian memperbaiki keadaan. Menyebut pengalaman sebagai tempaan tidak membenarkan perlakuan yang merugikan. Harapan justru membantu kita bergerak, termasuk mencari bantuan ketika persoalan tidak mampu ditangani sendiri.
Kembali kepada pegawai tadi. Menjelang tidur, ia mungkin masih mengingat rapat yang mengecewakan. Tetapi ia juga ingat rekan baru yang akhirnya memahami alur pekerjaannya. Besok, ia akan membicarakan pembagian tugas dan mencatat kontribusi dengan lebih tertib. Hari itu tidak berubah menjadi indah seketika. Meski demikian, ada manfaat yang telah diberikan dan langkah yang mulai terlihat. Ia belum memperoleh semua jawaban, tetapi tidak lagi menyerahkan seluruh penilaian dirinya kepada satu rapat.
Barangkali kedewasaan tumbuh seperti itu: perlahan, melalui keputusan sehari-hari. Kita belajar menjaga diri, menyampaikan batas, dan tetap hadir untuk pekerjaan yang bermakna. Kita bangga pada proses tanpa merasa paling benar. Hari yang berat tidak harus menjadi hari yang sia-sia, jika ada pelajaran yang dibawa pulang dan manfaat yang ditinggalkan. Semangat inilah yang perlu kita hadirkan dalam pengabdian. Mari terus percaya dan mencintai Kementerian Agama dengan ikut merawat pelayanan yang jujur, saling menghargai, dan terus membaik. Besok mungkin masih menantang. Kita melangkah dengan lebih mengenal diri dan tujuan pengabdian.
*Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Agama



