Liriknya yang sarat dengan perumpamaan, memberi panduan etika dan kebijaksanaan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui makna simbolik yang tersembunyi dalam setiap kata dan kalimatnya, lagu ini menjadi cerminan filosofi budaya Sunda sebagai bagian dari kearifan lokal bangsa Indonesia.
Vokalis Hadrah dari HIQMA UIN Jakarta, Ruly Masruroh mengatakan, syair Eling-Eling Umat sarat dengan pesan keagamaan yang dikemas dalam bahasa Sunda.
“Syairnya mengajak kita untuk salat, sesuai arti judulnya, sadarlah wahai umat,” terangnya kepada wartawan.
Sementara itu, Kasubdit Kemasjidan Kemenag, Akmal Salim Ruhana menambahkan, tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi ‘Eling-Eling Umat’ juga memiliki peran penting dalam menjaga dan mewariskan kearifan lokal. “Sebagai bagian dari tradisi lisan, syair ini menjadi jendela bagi generasi muda untuk memahami serta menghargai kearifan lokal,” ungkapnya.
Pesan tersembunyi dari lirik tersebut, imbuh Akmal, tidak hanya meningkatkan kebijaksanaan, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Eling-Eling Umat bukan sekadar lagu, tetapi sebuah petualangan untuk memahami, menerapkan, dan melestarikan kearifan lokal yang menginspirasi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Wcp/Mr



