Bimas IslamDirectorate General of Islamic Community Guidance

Intip Kisah Sukses di Balik Festival Seni Budaya Islam 2025 di Sultra

Kendari, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Festival Seni Budaya Islam dalam rangkaian Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Festival yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2025 ini menjadi ruang ekspresi seni yang memadukan nilai religius, budaya lokal, dan pesan perdamaian melalui musik kasidah.
 
Kegiatan tersebut menghadirkan enam grup kasidah terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia. Para peserta sebelumnya telah melalui proses seleksi ketat secara daring sebelum tampil di panggung utama STQH Nasional.
 
Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam, Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag, Wida Sukmawati, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari upaya pelestarian seni Islam di Indonesia.
 
“Seni kasidah asli Indonesia harus dilestarikan. Targetnya adalah bagaimana kasidah ini bisa diterima oleh berbagai kalangan—dari Baby Boomer hingga Gen Alpha—dan festival adalah salah satu strategi untuk itu,” ujar Wida dalam keterangannya di Kendari, Rabu (15/10/2025).
 
Menurutnya, kasidah memiliki kekuatan unik sebagai media dakwah yang menghibur sekaligus mendidik. Di tengah derasnya arus budaya populer, kasidah hadir sebagai alternatif seni yang membawa pesan kebaikan dan kerukunan tanpa kehilangan identitas lokal.
 
“Ajang ini juga lekat dengan nilai-nilai kerukunan dan perdamaian melalui medium kesenian, kebudayaan, dan musik,” tambahnya.
 
Festival ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas generasi. Tidak hanya generasi tua yang akrab dengan kasidah klasik, tetapi juga generasi muda—termasuk milenial dan Gen Z—ikut terlibat aktif dalam produksi, aransemen, dan penampilan di atas panggung.
 
Penilaian dalam festival dilakukan secara objektif oleh dewan juri dengan mempertimbangkan aspek musikalitas, pesan religius, kreativitas, dan penguasaan panggung. Para peserta juga didorong untuk mengangkat unsur budaya daerah masing-masing agar kasidah tampil sebagai cerminan keberagaman budaya Islam Nusantara.
 
Selain memberikan ruang apresiasi bagi para seniman, festival ini memperkuat semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, pesantren, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Kemenag berupaya meneguhkan peran seni dan budaya Islam sebagai sarana mempererat kerukunan serta memperluas dakwah yang ramah dan inklusif.
 
Wida menegaskan, keberhasilan festival ini menjadi momentum penting untuk memperluas jangkauan dakwah melalui kesenian.
 
“Melalui kasidah, kita ingin menunjukkan bahwa seni Islam itu indah, lembut, dan membawa pesan kedamaian. Ini cara kita berdakwah dengan cara yang sejuk,” pungkasnya.
 
Fn/Mr

Baca Selanjutnya

Lihat semua
Ada RISE dan KOSMIN untuk Perluas Akses Keagamaan Teman Tuli
Berita · 26 Okt 2026

Ada RISE dan KOSMIN untuk Perluas Akses Keagamaan Teman Tuli

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam Kemenag menyiapkan Ruang Inklusif dan Setara (RISE) dan pengembangan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) untuk mempermudah akses penyandang disabilitas, khususnya teman tuli, terhadap pemahaman ajaran Islam.

Bagaimana Ijtihad Ulama Berperan dalam Penetapan Status Halal Produk?
Berita · 26 Okt 2026

Bagaimana Ijtihad Ulama Berperan dalam Penetapan Status Halal Produk?

Menurut Fuad, bahan konsumsi dan produk pangan olahan berpotensi masuk kategori syubhat apabila asal-usul dan proses pengolahannya tidak dapat dipastikan. Ia menjelaskan, fatwa halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi dasar bagi Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dalam menerbitkan sertifikat halal.