Bogor, Bimas Islam — Dosen Program Kader Ulama (PKU) Masjid Istiqlal, Abdel Aziz Abbaci, menjelaskan pentingnya keseimbangan antara konsep tanzih dan tasybih dalam memahami Tuhan. Hal itu disampaikannya dalam Seminar Refleksi Pemikiran Menteri Agama bertajuk “Gagasan Islam Harmoni, Keadilan dan Kemanusiaan” yang digelar di Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ), Ciawi, Bogor, Rabu (29/4/2026).
Menurut Abbaci, dalam tradisi tasawuf, Tuhan tidak dapat dipahami hanya melalui satu pendekatan. Ia menjelaskan bahwa tanzih menegaskan keagungan Tuhan yang tidak serupa dengan apa pun, sementara tasybih memungkinkan manusia mengenal Tuhan melalui sifat-sifat-Nya.
“Kalau kita hanya melakukan tanzih, kita tidak punya hubungan dengan Tuhan. Tapi kalau hanya tasybih, kita berisiko menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Maka keduanya harus seimbang,” ujar Abbaci.
Ia menambahkan, keseimbangan tersebut menjadi jembatan bagi manusia untuk mengenal Tuhan tanpa terjebak dalam pemahaman yang ekstrem. Dalam pandangannya, manusia memang tidak dapat menjangkau hakikat Tuhan secara langsung, tetapi dapat mendekat melalui pemahaman sifat-sifat Ilahi.
Abbaci juga mengulas konsep wahdatul wujud dalam perspektif Ibn Arabi, yang memandang Tuhan sebagai realitas yang sekaligus transenden dan imanen. Menurutnya, kedua aspek tersebut tidak bisa dipisahkan dalam memahami tauhid secara utuh.
Ia menegaskan bahwa banyak kontroversi dalam tasawuf muncul akibat kesalahpahaman terhadap istilah-istilah sufistik. Salah satunya adalah ungkapan “ana al-haq” yang disampaikan Al-Hallaj.
“Ungkapan ‘ana al-haq’ bukan berarti seseorang mengaku sebagai Tuhan, tetapi bentuk penafian diri. Yang hadir adalah kebenaran Tuhan, bukan ego manusia,” jelasnya.
Dalam paparannya, Abbaci juga menguraikan bahwa tasawuf tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis. Ia membedakan antara tasawuf nazari yang membentuk cara pandang (worldview) dan tasawuf amali yang membimbing praktik spiritual sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa puncak spiritualitas dalam tasawuf adalah mencapai maqam ubudiyah, yaitu kondisi ketika manusia menyerahkan kehendaknya sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kondisi ini, manusia menjadi refleksi dari nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan.
Abbaci juga mengaitkan tasawuf dengan isu kemanusiaan, termasuk relasi gender. Ia menjelaskan konsep jalal (maskulin) dan jamal (feminin) sebagai dua sifat Ilahi yang harus hadir dalam diri setiap manusia untuk mencapai kesempurnaan.
Menurutnya, setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi untuk memantulkan sifat-sifat Ilahi tersebut. Perbedaan hanya terletak pada dominasi, bukan pada nilai atau derajat kemanusiaannya.
Selain Abbaci, seminar ini juga menghadirkan KH. Husein Muhammad sebagai narasumber yang membahas isu kesetaraan gender, serta dimoderatori oleh Alif Jabal Kurdi. Kegiatan ini dihadiri akademisi, peneliti, dan pegiat keagamaan.
Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam keynote speech mengungkapkan, Islam adalah agama yang terbuka dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal. Ia mengajak umat untuk tidak bersikap eksklusif dalam memahami agama.
“Islam itu agama yang terbuka. Semua yang tidak bertentangan dengan substansi ajaran Islam, pada hakikatnya adalah bagian dari Islam,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, Islam sebagai al-Islam merupakan ajaran universal yang telah dibawa para nabi sejak awal. Karena itu, umat Islam perlu melihat agama sebagai nilai yang inklusif dan tidak semata-mata identitas formal.
Menag juga menekankan pentingnya transformasi cara beragama dari reaktif menjadi proaktif. “Kita perlu mengedepankan rasionalitas, keterbukaan, serta dukungan data dalam merespons dinamika sosial agar ajaran agama tetap relevan dan membawa kemaslahatan,” tandasnya.
An/Mr



