Oleh:
Muhammad Nasril, Lc, MA*
Sebentar lagi Ramadan 1442 H akan tiba, menurut perhitungan awal Ramadan jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021.
Namun untuk kepastiannya menunggu keputusan pemerintah yang akan diumumkam oleh menteri agama melalui sidang itsbat pada 12 April mendatang.
Ramadan bulan yang dinanti umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ia menjadi tamu spesial, kehadirannya membawa berbagai kabar gembira serta mengandung keutamaan.
Pertemuan kita dengannya masih misteri, tidak ada yang tahu dan juga tidak ada jaminan bagi seseorang akan bertemu atau tidak dengan tamu agung tersebut. Oleh karena itu, kita senantiasa berdoa, memohon kepada Allah Swt agar diberikan kesempatan untuk dapat bertemu dengan Ramadan tahun ini.
Kondisi saat ini masih seperti tahun lalu, kita masih diuji dengan wabah penyakit yang hampir merata di seluruh dunia, yaitu virus Corona (Covid-19). Wabah yang telah merubah kehidupan masyarakat sebelumnya menjadi new normal.
Biasanya, saat memasuki pertengahan sampai akhir bulan Sya’ban gaung Ramadan sudah mulai menggeliat. Tapi tidak untuk dua tahun terakhir, kedatangan tamu istimewa itu terkesan seperti pergantian bulan lainnya, ia berjalan biasa saja.
Sungguh, wabah Covid-19 ini telah menyita perhatian semua pihak di seluruh dunia. Kondisi ini telah mempengaruhi psikologi masyarakat, khawatir, cemas dan rasa was-was terhadap penyebaran penyakit tersebut, sehingga saat ini mereka lebih fokus ke Covid-19 dan dampak ekonomi dari pada kegiatan lainnya, termasuk dalam penyambutan bulan Ramadan yang akan tiba sebentar lagi.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menjadi alasan kita untuk tidak menyambut bulan Ramadan secara istimewa. Apalagi menyambut kehadirannya tak perlu kerumunan orang, tak perlu tenaga seperti fisik main bola, ia hanya butuh pada persiapan individu, peningkatan spiritual, ekonomi, kesehatan dan juga perlu sedikit syiar melalui umbul-umbul bagi yang memungkinkan, isyarat Ramadan akan segera tiba.
Jangan malah terkejut saat datangnya Ramadan, seperti ungkapan yang biasa kita dengar “waduh, sudah mau Ramadan lagi,” yang menandakan kita tidak bersiap-siap pada bulan Sya’ban untuk menyambut Ramadan.
Saat ini kita dituntut beradaptasi dengan new normal, bagaimanapun kondisi kita hari ini, Ramadan adalah tamu agung, bulan spesial yang dinanti-nanti dan kita harus bersiap menyambutnya.
Tetap Istimewa Sambut Ramadan
Istimewa atau tidaknya kita saat menyambut Ramadan, tidak berpengaruh pada Ramadan itu sendiri. Ia tetaplah istimewa dan kita akan rugi. Biasanya kalau kita mengetahui tentang sebuah perjalanan yang akan ditempuh itu dengan jarak yang jauh, tentu kita akan mempersiapkan segala kebutuhan dengan persiapan yang sangat matang, sehingga perjalanan tersebut tidak mengecewakan.
Semestinya begitu juga yang harus dilakukan dengan datangnya bulan Ramadan, dengan persiapan yang matang, baik persiapan spiritual, fisik, ekonomi/keuangan dan ilmu tentang fiqh puasa meski kondisi hari ini dihantui wabah Covid-19.
Sehingga pada saat bertemu dengan Ramadan nanti, kita benar-benar telah siap dan akan memetik setiap butiran mutiara, hikmah dan keutamaan yang terdapat di dalamnya.
Kita umpamakan saja pada sebuah acara kenduri, meski dalam kondisi bagaimanapun, panitia atau keluarga sibuk mempersiapkannya, mulai dari menentukan jadwal yang tepat, membuat perencanaan yang matang, persiapan ekonomi yang jelas sampai pembagian job desk, sehingga terwujud tujuan suksesnya kegiatan tersebut.
Perencanaan dan persiapan matang dalam menyambut Ramadan adalah cara terbaik kita menyambut bulan suci ini, agar kita benar-benar siap bertemu dengannya dan dapat menyelami setiap keutamaannya. Di bulan Ramadan, pahala sunat seperti wajib, pahala berlipat ganda dan berbagai keutamaan lainnya, tapi kita malah menyambut tamu agung ini biasa saja, tanpa ada persiapan yang matang.
Padahal kita tahu, Ramadan memiliki berbagai keistimewaan dan keutamaan dibandingkan bulan-bulan lainnya, bulan diturunkan Al Qur'an dan di dalamnya terdapat satu malam lebih baik dari 1.000 bulan yaitu Lailatul Qadar.
Akan rugi rasanya kalau Ramadan berlalu begitu saja layaknya pergantian siang dan malam, tapi kita tidak bisa mengambil ibrah dari proses tersebut.
Berbagai keutamaan yang terdapat dalam bulan Ramadan tentunya sudah pernah kita ketahui baik melalui ceramah, bacaan, dan berbagai sarana media lainnya, tapi akan terasa tawar kalau keutamaan yang begitu besar tidak dinikmati.
Inilah yang menjadikan kita seharusnya bergembira, tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini, karena kebaikan begitu mudah dijalankan pada bulan Ramadan. Momen Ramadan sangat mendukung kita untuk melakukan amal dan kegiatan yang bermanfaat mulai pagi hari hingga malam. Isyarat sebagai bulan kebaikan dan peluang kejahatan tertutup, namun ia akan tetap seperti bulan-bulan yang lain kalau tidak ada usaha atau komitmen dalam menggapai kebaikan itu.
Agar tetap istimewa menyambut Ramadan di tengah pandemi, bersiaplah dari sekarang mulai dengan membersihkan hati dari segala penyakitnya, memohon ampun kepada Allah, perbanyak puasa, bekal ilmu fiqh puasa, zikir, doa, qiyamul lail, tilawah Al Qur'an, sedekah, dan silaturahim.
Semoga Allah memberkahi kita semua pada bulan Rajab dan Sya’ban serta diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam kondisi tanpa pandemi serta diberikan keberkahan Ramadan. Semoga kita bisa mengambil hikmah di balik musibah ini dengan menjadikan Ramadan kali ini lebih berkah bersama keluarga. Amin y Rabb. []
*Penghulu Muda pada KUA Kuta Malaka Aceh Besar



