Nusa Kambangan, bimasislam—Aid Mustaqim adalah seorang Penyuluh Agama Islam yang sangat bangga dengan profesinya. Agar selalu dapat mencerahkan umat, itu menjadi visinya. Bepegang pada prinsip untuk dapat memberikan manfaat untuk orang banyak dalam setiap keberadaannya, Aid menikmati keseharian tugas dan fungsinya sebagai penyuluh agama di Kabupaten Cilacap.
Diberikan kesempatan bertugas di lapas Nusa Kambangan memberi arti tersendiri dalam perjalanan dakwah penyuluh berprestasi ini. Aid memberikan bimbingan dan pembinaan keagamaan bagi para napi. Lelaki bersemangat ini menjalankan fungsi informasi, edukasi dan konsultasi keagamaan di Lapas.
Sejak tahun 2012 bersama sepeda motor kesayangannya, Aid berkeseharian naik perahu dari pelabuhan Sodong menuju pulau Nusa Kambangan. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat melewati hutan lebih kurang sepuluh kilo meter. Namun ini dijalani Aid dengan senang hati, meski disana masih banyak binatang buas.
Memang tidak mudah untuk mengajak para napi agar ikut pembinaan keagamaan. Meskipun mereka tidak menunjukkan pertentangan dan penolakan secara terang-terangan, tetapi Aid merasakan itu. “Pada awal masa tugas, saya membaca bahwa tidak semua dari mereka menerima saya”, tambah Aid. Berkaca dari pengalaman sang ayah yang juga sebelumnya menjadi tenaga pembina keagamaan di lapas, Aid mulai menyusun strategi dakwahnya disana.
Dakwah Aid disana tidak hanya bersifat klasikal saja, tetapi lebih kepada berdialog dan berdiskusi dengan para napi. Metoda dakwah yang digunakan Aid mampu meresap kedalam hati mereka. “Saya jadikan mereka sahabat, saya dengarkan curahan hati mereka”, Aid menyampaikan.
Namun kabar gembira dari hari ke hari makin dirasakan Aid. Perubahan ke arah kebaikan dari para napi menjadi ganjaran bahagia yang tak terkira bagi sang penyuluh. Termasuk timbulnya suasana kondusif dilapas, karena para napi sudah bisa menahan diri mengendalikan emosi. “Mereka sekarang sering baca alqur’an, menghafal surat pendek dan rajin shalat”, sambung Aid.
Berdakwah dilapas bukanlah hal yang mudah. Penyuluh harus mampu membaca situasi dan kondisi para napi. Napi sebagai orang yang sedang menjalani hukuman, mempunyai sikap dan temperamen yang kadang tak terduga. Disini penyuluh harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik dan Aid telah menunjukkan itu.
Aid Mustaqim senantiasa meningkatkan kompetensinya. “Membaca buku dan bersilaturahim menjadi hobi saya”, tutup Aid. Tidak heran kalau Aid pernah dinobatkan sebagai penyuluh berprestasi.
(lady/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



