Mataram, bimasislam—Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke XXVI sudah dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo pada Sabtu (30/07) laludan ditutup pada Sabtu malam (6/8). Mengangkat tema "MTQ Nasional Upaya Mewujudkan Revolusi Mental dalam Pemantapan Nilai-Nilai Islam Rahmatan Lil Alamin", MTQN yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat ini mengusung perubahan. Setelah hampir tujuhhari berlangsung, ada banyak cerita mengharukan dan penuh inspirasi. Salah satunya adalah sosok M. Arsyad (26), peserta cabang tilawah cacat netra putera. Didampingi sang ibu, Arsyad menjawab pertanyaan para wartawan.
Air mata Aisyah tumpah di sela-sela wawancara dengan tim wartawan di Media Center, Jumat (7/8). Perempuan yang telah berpisah sejak 25 tahun lalu dengan sang suami, tak kuasa menahan haru atas keberhasilan sang anak, M. Arsyad, mewakili Provinsi Kalimantan Selatan dalam Cabang Tilawah Cacat Netra Putera. Baginya, bukan keterbatasan sang anak yang membuatnya harus menumpahkan air mata. Namun perjuangan tak kenal lelah sang anak untuk belajar al-Qur’an sungguh membuatnya salut. Meski sejak usia 9 bulan tak lagi mendapat kasih sayang seorang ayah, Arsyad tumbuh dengan penuh optimisme.
Sejak bayi, Arsyad memiliki kebiasaan menjelang tidur. Tangannya selalu dalam posisi adzan atau sholat. Sang ibu pun melihat kebiasaan ini sebagai tanda bahwa si kecil memiliki kelebihan. Atas arahan dan perhatian sang kakak, ia pun mulai membiasakan memutar bacaan al-Qur’an sebagai pengantar tidur sang buah hati.
“Saya coba perlahan-lahan memutar kaset. Dia nyenyak sekali tidurnya. Ga rewel kalau diputarkan bacaan al-Qur’an”, ujarnya sambil beruari air mata.
Menginjak usia balita, Aisyah mulai mengenalkan Arsyad dengan guru mengaji. Di bawah bimbingan Ustad Anwar, Arsyad mulai belajar al-Qur’an melalui kaset. Beberapa surat pendek direkam dan diputar, lalu Arsyad mengulang dan menghafal. Menginjak usia 7 tahun, Arsyad disarankan untuk belajar khusus kepada guru bidang qiraah., sejak saat itulah Arsyad mulai sibuk dengan belajar al-Qur’an.
Ditanya perihal hobby sang anak, Aisyah menyebut Arsyad memiliki hobby lain, yaitu bermusik. Di sela-sela istrahat di kamar, Arsyad biasa memainkan gitar atau piano. Dan keahlian ini diperoleh secara alamiah, tanpa kursus.
“Jarang main di luar. Seringnya main musik atau kumpul dengan om dan bibinya,” ujarnya.
Di usia yang ke-26, Arsyad memiliki semangat yang luar biasa. Saat ditanya motivasinya mengikuti MTQ, Arsyad merendah. Baginya, MTQ bukan tujuan. Ia ingin berbagi semangat dengan kawan-kawan lain di seluruh Indonesia. Tak ada hambatan untuk berdakwah, karena baginya tak ada kesia-siaan dalam ciptaan Allah.
“Saya hanya menjalani perintah al-Qur’an. Karena itu saya tetap semangat,” tuturnya tanpa merasa minder.
MTQN XXVI melombakan 18 golongan, terdiri atas enam golongan cabang Tilawah Al-Quran (dewasa, remaja, anak-anak, tartil, cacat netra, serta qiraah sab’ah); lima golongan cabang Hifzh Al-Quran (1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz, dan 30 juz); tiga golongan cabang Tafsir Al Quran (bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris), serta empat golongan cabang Khath Al-Quran (naskah, hiasan mushaf, dekorasi, dan kontemporer). Cabang Tilawah Cacat Netra adalah bentuk apresiasi bagi para cacat netra yang juga memiliki kemampuan hafalan dan tilawah secara baik. Melalui MTQ, sebuah pesan hendak disampaikan bahwa siapapun dapat meraih prestasi, dan dapat memotivasi masyarakat untuk memberi ruang apresiasi bagi penyandang disabilitas. Selamat berjuang Arsyad.
(jaja&syam)



