Serpong,bimasislam-- Mampu membaca, memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an adalah suatu keharusan bagi setiap umat Islam, karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam yang telah terjaga keutuhan isi kandungannya selama 14 abad, tidak terkecuali kepada mereka yang mengalami kekurangan pada indera penglihatannya. Bagi seorang tunanetra muslim, mampu membaca Al-Qur’an secara langsung bukan menjadi suatu kesulitan saat ini, karena telah ada Al-Qur’an yang dapat dicetak ke dalam huruf Braille, yaitu huruf yang sudah menjadi kesepakatan internasional adalah alat bantu tunanetra dalam membaca kalimat-kalimat tertentu.
Huruf Braille yang terdapat di dalam Al-Qur’an Braille memiliki simbol-simbol yang berbeda dengan huruf Braille latin. Huruf-huruf yang terdapat di Al-Qur’an yang dapat juga disebut huruf hijaiyyah telah memiliki simbol sendiri, sesuai kesepakatan para ulama tunanetra di dunia.
Saat ini, berdasarkan informasi dari berbagai sumber hanya ada 2 (dua) percetakan Al-Qur’an Braille di Indonesia yang kapasitas produksinya mencapai 100 set (1 set=30 Juz/Eksemplar) yaitu Yayasan Penyantun Wiyata Guna di Bandung dan Yayasan Raudhatul Makfufin di Serpong, Tangerang Selatan.
Pada Selasa lalu (19/5), bimasislam sempat berkunjung ke Yayasan Raudhatul Makfufin di Serpong, Tangerang Selatan. Yayasan yang didirikan oleh R.M Halim Shaleh guru para Tuna Netra pada tanggal 26 November 1983 ini menyediakan hasil percetakan dengan huruf Braille bagi tuna netra di Indonesia.
“Permintaan Al-Qur’an Braille cenderung meningkat dari penjuru nusantara. Sedangkan pencetakan Al-Qur’an Braille terbatas hanya 1000 s.d 2000 set pertahunnya.” Tegas Ade Ismail, pengasuh Yayasan Raudhatul Makfufin.
“Yayasan Raudhatul Makfufin telah mengembangkan penelitian, pelatihan tenaga, input data ayat dan terjemah serta editing dan pengkoreksian. Kegiatan tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dari tahun 1995-1999. Melalui penelitan ini menghasilkan suatu software metode penulisan Al-Qur’an Braille dengan menggunakan teknologi komputer yang pertama di Indonesia. Pada tahun 2011 Al-Qur’an Braille dan terjemahnya terbitan Yayasan ini telah mendapat tanda tashih dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama.” Ungkap perwakilan Indonesia pada ajang Qur’an Braille Conference di Istanbul Turkey pada Februari 2013 yang lalu.
“Saat ini ada sekitar 2 jutaan penduduk Indonesia yang mengalami tuna netra dan kecenderungannya semakin bertambah, hal ini disebabkan karena cacat bawaan sejak lahir, kecelakaan atau karena penyakit gangguan pada indera penglihatan. Oleh karena itu kebutuhan akan Al-Qur’an Braille sangat mendesak untuk diperhatikan oleh pemerintah.” Jelas Ade yang mengalami cacat tuna netra sejak lahir.
Sebelumnya, bimasislam juga berkunjung ke Yayasan Penyantun Wiyata Guna di Bandung (12/5). Harapan yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Percetakan Braille Yayasan Penyantun Wiyata Guna Bandung, Ayi Ahmad Hidayat,. “Selama ini, total Al-Qur’an yang telah diproduksi hanya sekitar 1000 set.” Sedangkan, jumlah penyandang tunanetra Muslim yang ada di Tanah Air sekitar dua juta orang. “Ini masih jauh dari kata memadai, Pemerintah harus memperhatikan kebutuhan kaum muslimin yang mengalami kekurangan pada indera penglihatannya ini.” katanya menegaskan.
Menurut keterangan Bapak Ayi, Yayasan Wyata Guna memiliki mesin Braille Press dari pabrik Thompson, Amerika. Mesin ini dihibahkan pada tahun 1952 hanya satu-satunya mesin yang ada di Indonesia dan sampai saat ini masih beroperasi dengan baik. “Mesin ini dapat memproduksi 100 set dalam 1 bulan.” Tegas Ayi.
Kita berharap semoga pemerintah dapat memproduksi lebih banyak Al-Qur’an Braille itu. Semakin banyak unit Al-Qur’an yang beredar maka memungkinkan tunanetra Muslim memahami dan mempelajari kitab sucinya dengan lebih baik. (jamarky/fhoto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



