Oleh:
M. Fuad Nasar*
Al-Quranul Karim, penulis Barat menyebutnya the sacred book of Islam, adalah kalam (perkataan) Allah SWT dan merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad Saw dan membacanya bernilai ibadah. Kitab Suci Al-Quran terdiri dari 114 surah dan 6000-an ayat, diwahyukan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, semasa Nabi Muhammad di Mekkah dan Madinah, sebelum dan sesudah hijrah.
Wahyu pertama pada 17 Ramadhan tahun 610 M yaitu ayat 1 – 5 surah Al-‘Alaq menandai pengangkatan Muhammad menjadi Nabi dan Rasul utusan Allah. Dalam akidah Islam, Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir, tidak ada Nabi dan Rasul sesudah Muhammad. Umat manusia tidak memerlukan Nabi dan Rasul baru ataupun wahyu dari Tuhan sampai Hari Kiamat.
Kitab suci Al-Qur'an merupakan “at-Tanwir” (pencerahan) kepada hati dan pikiran umat manusia serta mencerahkan kehidupan masyarakat agar berkemajuan dan berkeadaban. Al-Qur'an menghimpun ajaran dan nilai-nilai universal untuk dipedomani oleh seluruh umat dan bangsa di dunia. Karena Al-Qur'an merupakan kalam Allah, maka keseluruhan ayat-ayatnya merupakan kebenaran mutlak dari Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Salah satu bukti bahwa Al-Qur'an murni berasal dari Allah ialah tidak seorangpun mampu membuat tiruan dan tandingannya.
Allah berfirman (terjemahannya): “Tha Ha. Kami tidak menurunkan Qur'an kepadamu supaya kau menderita. Tetapi sebagai peringatan bagi mereka yang takut (kepada Allah). Suatu wahyu dari Dia, Yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Allah) Maha Pemurah, Yang tegak kukuh di atas singgasana (kekuasaan). Kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, dan yang di antara keduanya, dan yang ada di bawah tanah. Jika kau berkata nyaring (bukan soal), sebab Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Allah, tiada tuhan selain Dia. Kepunyaan-Nya al-asma’ul husna – nama-nama yang indah.” (Q.S. Thaahaa [20]: 1 – 8)
Bacaan ayat-ayat Al-Qur'an surah Thaha itu, di masa lalu menyentuh hati Umar bin Khattab sehingga bergegas menemui Nabi Muhammad untuk menyatakan diri memeluk agama Islam yang semula sangat dia benci. Sejarah kemudian mencatat Umar bin Khattab, salah seorang sahabat utama Nabi yang setia dan terdepan dalam membela kehormatan agama.
Umat Islam tidak perlu kaget bahwa tantangan terhadap Al-Qur'an selalu ada di setiap masa, di sepanjang zaman. Sejak Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad 15 abad silam sampai kini dan masa mendatang selalu ada tantangan sebagaimana dimaksud. Selama itu pula akan semakin terbukti mukjizat dan kebenaran Al-Qur'an. Tantangan yang ditujukan terhadap Al-Qur'an memerlukan jawaban keimanan dan ilmu pengetahuan, tetapi sebagian dapat ditanggapi dengan logika dan akal sehat.
Narasi-narasi menistakan Al-Qur'an, dari mana pun, takkan mengguncang keimanan umat Islam yang mengakar kuat, namun dapat mengusik ketenangan antarumat beragama. Ketenangan umat beragama adalah salah satu fondasi persatuan bangsa di negara kita yang berdasarkan Pancasila ini, negara yang menghormati dan melindungi asas keyakinan beragama. Ketika ada saudara kita berpikir ekstrim dan secara terbuka menginginkan dihapus atau direvisinya sebagian ayat-ayat dalam Al-Qur'an dengan alasan tertentu, kita sebetulnya menghadapi sesuatu yang absurd, tidak masuk akal dan mustahil. Jangankan menghapus sebagian ayat suci, lembaran mushaf Al-Qur'an salah cetak saja pasti ketahuan dan tidak dapat diterima oleh umat. Wahyu Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat diubah atau diutak-atik oleh manusia dan negara.
Al-Qur'an hadir untuk menyapa semua makhluk di tengah keragaman pandangan hidup dan relasi antarbangsa di dunia. Kitab suci ini senantiasa terjaga selamanya dengan kekuasaan Allah. Segala tantangan terhadap Al-Qur'an tidak membuat umat Islam berkecil hati bahkan semakin mencintai Al-Qur'an dan memegang teguh keyakinan serta cerdas dalam menyahut problema masa kini. Perumpamaannya; penglihatan manusia yang terganggu tidak dapat merubah langit biru dan menghalangi cahaya matahari menerangi bumi.
Al Qur'an adalah kitab yang paling banyak dibaca dan dihafal di seluruh dunia. Kemajuan ilmu dan sains modern dari abad ke abad telah banyak membuktikan kebenaran ayat-ayat Al-Qur'an.
Al-Qur'an yang dicetak dan dibaca di Indonesia dan di seluruh dunia sama dengan yang dahulu dibaca dan dihafal oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Jazirah Arab. Artinya di seluruh dunia hanya satu Al-Qur'an sebagai sumber pokok ajaran Islam. Setelah Al-Quran, sumber pokok ajaran Islam ialah as-Sunnah. Hal ini tentu sebuah kebanggaan bagi kita umat Islam mewarisi kitab suci yang tidak pernah berubah atau tertukar ayat-ayatnya, apalagi dipalsukan atau dihilangkan, sampai akhir zaman.
Perkembangan populasi umat Islam yang pesat di seluruh dunia telah mendorong penerjemahan Al-Qur'an ke dalam berbagai bahasa. Setiap kurun waktu melahirkan penerjemah-penerjemah dan ahli-ahli tafsir dari berbagai bangsa yang mumpuni dari segi ilmu agama maupun bahasa. Ilmu Balaghah dan Ilmu Tafsir merupakan disiplin ilmu yang penting untuk memahami pesan dan keserasian Al-Qur'an.
Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, ulama dan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam artikel klasiknya yang masih relevan berjudul “Ummat Islam Indonesia Membutuhkan Tafsir Indonesia” (1973) mengemukakan, “Al-Quranul Hakim adalah Kitab Allah yang terakhir, tidak ada kitab sesudahnya, juga tidak ada kitab yang diturunkan bersamanya dan tidak pula ada kitab yang dapat menyainginya. Al-Qur'an adalah kitab yang dipelihara Allah sebagai undang-undang-Nya sejak permulaan diturunkan-Nya, sampai akhir masa. Allah memelihara Al-Qur'an sedemikian rupa, supaya Al-Qur'an menjadi kitab yang terus-menerus dipegang dan dipedomani hingga akhir zaman.”
Terjemahan dan tafsir Al-Qur'an sangat membantu umat Islam khususnya yang tidak menguasai bahasa Arab, sekalipun terjemahan dan tafsir tidak mungkin seratus persen menggambarkan isi Al-Qur'an. Karya terjemahan dan tafsir berperan dalam penyebarluasan ilmu agama Islam di tengah masyarakat.
Muhammad Asad, terlahir dengan nama Leopold Weiss, jurnalis Yahudi Austria yang masuk Islam, dalam karya magnum opus-nya tafsir the Message of the Qur’an menulis komentar tentang Al-Quran, ”Antara ayat pertama dan terakhir terkembang lebarlah sebuah kitab yang, melebihi gejala lain mana pun yang kita kenal, telah mempengaruhi secara fundamental sejarah agama, sosial, dan politik dunia. Tidak ada kitab suci lain yang pernah memiliki dampak langsung serupa atas kehidupan orang yang pertama kali mendengarkan pesannya dan melalui mereka dan generasi yang mengikutinya atas seluruh arus peradaban.”tulisnya dalam karya besar bertema tafsir Al-Quran bagi orang-orang yang berpikir. Menurut Muhammad Asad, pertanyaan kunci yang hendak dijawab Al-Qur'an ialah bagaimana seharusnya berprilaku agar meraih kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang.
“Katakanlah: Kalau sekiranya lautan tinta untuk (menuliskan) kata-kata Tuhanku, pasti lautan akan habis sebelum habis kata-kata Tuhanku, sekalipun mesti kami tambahkan (tinta) sebanyak itu.” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 109).
Abdullah Yusuf Ali dalam karya legendaris The Holy Quran: Text. Translation and Commentary memberi ulasan makna “kata-kata Tuhanku” dalam surah Al-Kahfi ayat 109 sebagai berikut: kata-kata, ayat-ayat dan kasih sayang Allah ada dalam segala ciptaan-Nya, dan tidak akan dapat sepenuhnya dituangkan dalam bahasa manusia, betapapun luas dan besar sarana kita yang mungkin dapat kita bayangkan.
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
*Sesditjen Bimas Islam



