Jakarta, bimasislam-- Al-Qur’an telah memberi semangat (spirit) yang luar biasa kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjalankan tugasnya yang sangat berat, baik sebagai pemimpin agama dan pemimpin masyarakat. Sebagai pemimpin agama, beliau telah mampu memperbaiki dan meluruskan ideologi dan keyakinan umat yang menyimpang dan menyempurnakan akhlak yang mulia. Sebagai pemimpin masyarakat, beliau telah mampu membawa masyarakatnya yang multietnik dan multiakidah menjadi masyarakat yang bersatu, berdaulat, dan berbudaya di Negara Madinah.
Demikian disampaikan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta saat memberi uraian hikmah dengan tema ”Spirit Al-Qur’an dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an Tingkat Kenegaraan Tahun 2014 di Istana Negara, Jakarta (16/7).
Thib Raya, menegaskan bahwa peringatan Nuzul Al-Qur’an merupakan kesempatan yang baik bagi kaum muslimin di tanah air untuk merenungkan, menghayati dan menyegarkan kembali ingatan akan pesan-pesan Allah swt. di dalam Al-Qur’an.
”Al-Qur’an adalah pegangan hidup, dan petunjuk yang mengarahkan mereka ke jalan yang benar sehingga mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”,ujar Thib Raya.
Al-Qur’an, lanjut Thib Raya menerangkan bahwa ada beberapa sifat buruk dari manusia yang dapat merusak hubungan persaudaraan itu dapat memecah semangat persatuan, dan memutuskan semangat persaudaraan. Ketiga sifat buruk itu ialah sifat merendahkan, mencela, dan mengejek pihak lain. Sifat buruk yang lain lagi adalah prasangka (kecurigaan), menggunjing, dan mencari-cari keburukan orang lain. Sifat-sifat buruk itu dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Oleh karena itu, Thib Raya mengingatkan bahwa setiap orang atau sekelompok orang boleh memiliki cita-cita dan tujuan yang luhur dan berlomba-lomba untuk mencapainya, tetapi cara-cara yang ditempuh untuk mencapainya haruslah dengan cara-cara yang baik dan benar.
“Al-Qur’an menegaskan bahwa satu kelompok agama tertentu tidak diperbolehkan memaki kelompok lain karena mereka menyembah sembahan-sembahan selain Allah. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberi spirit saling menjaga hubungan antarumat beragama”,terang Thib Raya.
Thib Raya memberi kesimpulan bahwa Al-Qur’an tidak akan dapat menjadi petunjuk, dan Al-Qur’an tidak akan “membumi” dan tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata, jika Al-Qur’an tidak dipelajari, tidak dibaca, tidak dipahami, tidak dikaji, dan tidak diamalkan.
“Oleh sebab itu, marilah kita membumikannyadengan cara: kita mempelajari, membaca, memahami, dan mengkajinya, lalu kita mengamalkannya”, pungkas Guru Besar Bidang Tafsir ini. (syam/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



