Oleh:
Drs. H. Subiono*
Di dalam Alquran surat At-Taubah ayat 18 Allah SWT berfirman yang artinya “Hanyalah yang memakmurkan masjid - masjid Allah lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".
Dari firman Allah SWT di atas dapatlah di ambil kesimpulan bahwa masjid bagi orang islam adalah tempat yang istimewa, karena di masjid adalah tempat mereka yang beriman kepada Allah SWT berkumpul , beriman kepada hari akhir, mendirikan sholat, mengluarkan zakat dan mereka yang sudah memiliki nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah karena tidak ada ketakutan selain kepada Allah SWT.
Masjid sesungguhnya bagi umat Islam adalah tempat yang sakral, istimewa dan disucikan , disinlah umat Islam mendirikan sholat, beritikaf, menimba ilmu, menggembleng akhlak dan akidah, memupuk ukhuwah bahkan dimasjid pula Rasulullah SAW menentukan strategi da’wah dan strategi perang, sehingga tatkala Rasulullah SAW hijrah ke Madinah yang pertama kali di bangun adalah masjid yaitu masjid Quba.
Dengan demikian maka tidak heran tatkala ada peristiwa yang terjadi di masjid Al-Munawaroh di Bogor,Jawa Barat yaitu masuknya seekor anjing ke dalam masjid yang di bawa oleh seseorang perempuan berinisial SM yang mengakui bahwa dirinya orang non Islam, timbul beraneka ragam reaksi dikalangan umat Islam, ada yang gemas, marah, jengkel dan sikap-sikap lainnya.
Namun jika kita renungkan jika kita bersikap menyalahkan anjing, apalah artinya sebuah binatang, biyarpun dikatakan bahwa anjing itu adalah binatang yang memiliki insting yang tajam, toh namanya juga tetap anjing dan binatang yang tentu tetap tidak bisa membedakan apakahyang dia masuki itu rumah tempat tinggal, tempat karaoke, masjid dan tempat-tempat yang lainnya, namanya juga tetap binatang.
Oleh karena itu langkah bijaksananya bagi kita adalah tidak menyalahkan anjingnya, tetapi pemiliknya, dan sikap kita umat Islam adalah kemudian mensucikannya sesuai dengan tuntunan Islam karena kaki anjing, liur anjing, adalah najis mugholadhah, kalau masih ragu bila perlu kita ganti karpetnya dengan yang lebih bagus dan suci sehingga tidak ada keraguan bagi orang-orang yang sholat di dalamnya, kan masjid juga mempunyai kas dan juga mempunyai jama’ah.
Sedangkan kepada ibu SM si pembawa anjing kitapun tidak perlu mensikapi dengan emosional apalagi mengkaitkan dengan unsur-unsur sara’. Bukankah kalau benar apa yang disampaikan oleh Psikolog bahwa yang bersangkutan sedang menderita stres berat. Bukanlakah orang yang stres itu tingkatannya lebih tinggi dari tingkat orang-orang bodoh. Rasulullah SAW tidak pernah memarahi orang yang bodoh dan tidak ngerti apalagi orang yang stres bahkan mungkin setengah gila.
Bagaimana sikap kita terhadap orang yang mengotori masjid ini pernah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Di zaman Nabi ada seorang Badui tiba-tiba kencing di pojokan masjid, hal tersebut dilihat oleh para sahabat ketika itu dengan reaksi yang beraneka ragam, ada yang terkejut, ada yang sampai marah bahkan si Badui itu mau digebukinnya. Lantas Nabi melihatnya kemudian Nabi memerintahkannya kepada para sahabatnya untuk mengambil ember yang diisi air lantas beliau menyuruh menyiramnya. Si Badui yang tidak tahu sopan santun tersebut mengetahui bahwa tindakannya salah lantas pergi begitu saja tanpa di intrograsi, tanpa di marahi, apalagi digebukin habis-habisan sampai benyok.
Saya secara pribadi melihat kejadian tersebut dalam hati juga merasa jengkel dan marah dan pingin rasanya orang itu aku tonjokin muka nya sampai babak belur agar perbuatannya tidak di ulang lagi. Tetapi bukankah kita ini semua Orang Islam telah sepakat bahwa kita menjadikan Rasulullah SAW itu “Uswatun hasanah“ teladan yang baik buat kita bersama. Lantas kalau Rasulullah SAW saja tidak marah lantas mengapa kita yang jadi marah mensikapi kejadian tersebut, bahkan menghubung-hubungkan dengan peristiwa Sara yang barang kali belum tentu ada kaitannya.
Kita pun sebaiknya tetap ber khusnudzan bahwa perempuan pembawa anjing adalah sama dengan orang badui yang bodoh dan kita pun tidak usah menebak nebak apa sesungguhnya niataan yang terselubung dalam hatinya, karena urusan hati itu adalah urusan Allah SWT, justru kalau benar si perempuan pembawa anjing tersebut sedang stres berat kita doakan semoga cepat sembuh. Karena disinlah sesungguhnya letak keluhuran umat Islam yang senantiasa harus bersikap lemah lembut, penuh kesopanan, tidak mudah marah, tidak hanya kepada umat Isalam, tetapi juga kepda orang yang berbeda keyakinan dengan kita.
Bukankankan sikap gampang marah, gampang emosi adalah sikap yang tidak baik bagi kita. Karena Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita bahwa “Bukanlah orang yang paling kuat itu yang paling jago berkelahi, tetapi sesunggunya oirang yang paling kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya“
Semoga hati kita tetap dingin, meskipun otak panas membara, dan perilaku kita tetap mencerminkan ajaran Islam yang damai, sejuk, dan menjadi Rahmat bagi sekalian alam.Semoga.
*Penulis adalah Penghulu Madya KUA Kec. Arut Selatan kab. Ktw. Barat Kal-Teng



