Wajo, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama untuk pertama kalinya menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Hisab Rukyat di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (20/12/2025) ini mendapat sambutan positif dari peserta dan pemangku kepentingan, sekaligus menjadi penanda komitmen pemerataan literasi hisab rukyat di daerah.
Bimtek Hisab Rukyat dihelat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis para praktisi falak, santri, serta aparatur Kementerian Agama dalam metode penentuan waktu-waktu ibadah berbasis hisab dan rukyat. Kegiatan ini juga menjadi ruang penguatan relasi antara sains astronomi dan kebutuhan syariat umat Islam.
Peserta dari Balla Falak Makassar, Fathur Rahman Baasyir, menilai pelaksanaan Bimtek di Wajo sebagai momentum penting bagi kebangkitan ilmu falak di Sulawesi Selatan. "Di Sulawesi Selatan juga terdapat pesantren yang mengajarkan falak, seperti di Bone. Harapannya, pemerintah dapat memberi perhatian lebih agar kurikulum falak berkembang di pesantren-pesantren Sulsel,” ujar Fathur.
Ia juga berharap pelatihan serupa ke depan dapat dilaksanakan dengan durasi yang lebih panjang serta porsi praktik yang lebih banyak, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung di lapangan.
Sementara itu, peserta dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Wasilah, mengungkapkan, Bimtek Hisab Rukyat memberi perspektif baru dibandingkan pelatihan keagamaan lain yang pernah diikutinya. Menurutnya, kegiatan ini menegaskan pentingnya ilmu astronomi dalam praktik keberagamaan.
“Melalui kegiatan ini kami memperoleh ilmu baru. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat terbuka terhadap sains. Ilmu astronomi tidak boleh diabaikan karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan syariat,” kata Wasilah.
Menanggapi antusiasme peserta sekaligus menutup rangkaian kegiatan, Kepala Subdirektorat Hisab Rukyat dan Syariah, Ismail Fahmi, menegaskan bahwa Bimtek Hisab Rukyat di Wajo merupakan bagian dari strategi penguatan dan pemerataan ilmu falak secara nasional.
“Hisab rukyat bukan sekadar ilmu teknis, melainkan pilar penting dalam menjaga ketertiban dan keseragaman pelaksanaan ibadah. Karena itu, kegiatan seperti ini akan terus kami dorong agar tidak terpusat di satu wilayah, tetapi berkembang di berbagai daerah,” ujar Ismail.
Fn/Mr



