Solo, bimasislam— “Kami mengungsi dari Ketapang sampai di tempat ini diperlakukan istimewa sama aparat. Sejak di Kalimantan hingga kami turun dan sampai di tempat ini dijaga ketat dengan senjata terkokang seperti teroris”. Demikian pernyataan Nur Kholiq, pengungsi asal Kudus saat berbincang santai dengan bimasislam di Asrama Haji Donohudan, Solo (28/).
Nur Kholiq melanjutkan bahwa banyak isu di luar yang menyudutkan pihaknya. Menurutnya, para pengikut Gafatar hanya ingin hidup tenang dan memperbaiki nasibnya. Pilihan mereka hijrah (pindah) dari kampung ke pulau Kalimantan karena di sana memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan murah, serta subur.
“Kami sering ditanya, kenapa mau pindah ke Kalimantan. Di sana banyak lahan kosong, murah, dan tanahnya subur. Kami ingin perbaikan nasib dengan menggarap lahan-lahan penduduk. Mereka sangat baik menerima kami. Bahkan banyak dari anggota Polri, TNI, yang minta ke kami untuk menggarap lahan mereka. Penduduk sana ramah dan menerima kami dengan tangan terbuka”, urainya.
Ketika ditanyakan proses kepindahannya ke Kalimantan, alumni MTs Muhammadiyah Kudus ini menjelaskan bahwa pihaknya ada koordinatornya. Kepindahan mereka ada yang mendampingi hingga Nur Kholiq sekeluarga sampai di sana. Biaya kepindahannya atas modal sendiri dari hasil penjualan seluruh aset di kampung.
“Perpindahan ada yang menjadi koordinatornya. Setelah seluruh aset kami jual, dan minta surat pengantar pindah dari Kabupaten Kudus, kami berangkat dengan pesawat. Baru kali ini kami naik pesawat ke Kalimantan beserta anak-anak kami.” Imbuhnya.
Alasan lain yang dikemukakan oleh pengungsi Gafatar adalah masalah sistuasi sosial dan pendidikan yang tidak layak bagi pembangunan generasi bangsa. Khaliq menggambarkan bagaimana kehidupan anak-anak sekolah sekarang ini yang tidak memiliki karakter yang baik. Banyak anak-anak SD, SMP, dan SMA yang merokok dan hidup bebas. Pada saat yang sama mereka belajar tentang moral di sekolah, sehingga situasi ini menjadi ancaman generasi di masa mendatang.
“Kepindahan kami ke Kalimantan juga didasarkan pada alasan sosial. Bagaimana anak-anak sekolah begitu bebasnya, merokok, pergaulan laki-laki perempuan seperti tidak ada batas. Kami tidak ada yang merokok, anak-anak kami didik agar mereka memiliki karakter yang kuat. Jika ada yang bilang kami tega menarik anak-anak untuk tidak bersekolah, bukan berarti kami tidak peduli kepada mereka. Coba saja mereka diadu dengan anak-anak sekolah seumuran mereka. Anak-anak itu kami didik dengan cara homeschooling”, katanya dengan penuh percaya diri.
Saat disinggung soal keyakinannya, warga Kudus yang nampak aktif ini mengatakan bahwa mereka meyakini adanya kebenaran universal. Menurutnya, para nabi yang mendapatkan wahyu dan ajaran Tuhan itu sama, sejak nabi Adam hingga Muhammad. Karena ajaran Tuhan bersifat ajeg, sehingga mustahil Tuhan akan merevisi ajaran-Nya sendiri melalui agama-agama. Karena itu, tambahnya, ajaran Tuhan ada di setiap agama samawi yang mengajarkan kebaikan, seperti tidak boleh mencuri, tidak boleh berbohong, tidak boleh berzina, tidak boleh menyembah berhala, dan lain-lain.
“Bagi kami, seluruh ajaran para Nabi itu sama. Nggak mungkin ajaran Tuhan pada setiap Nabi berbeda-beda, karena Tuhan mustahil merevisi ajaran-Nya sendiri. Sehingga kami meyakini adanya kebenaran universal. Di antara kami bukan hanya datang dari Islam, tetapi ada Kristen, Hindu, Buddha, bahkan ada juga etnis China (Tionghoa). Terdapat ajaran yang kami harus pegang teguh, tidak boleh menyembah berhala, tidak boleh berbohong, tidak boleh berzina, jujur, dan lain-lain. Di Indonesia sudah terlalu banyak orang pintar, seperti profesor, doktor, kyai, ulama, tetapi sedikit yang bener”, ujarnya.
Saat bimasislam menyatakan bahwa jujur dan baik merupakan ajaran Tuhan yang ada dimana-mana, Kholiq menimpali bahwa hal tersebut juga bisa disebabkan karena faktor ajaran. Nabi Ibarahim, katanya, telah mengajarkan tentang kebenaran, sehingga pada setiap agama yang tidak bisa menerima ajaran yang lain disebabkan karena faktor kebencian. Dalam Alquran dengan tegas dikatakan bahwa Ibrahim adalah seorang yang lurus lagi seorang muslim.
“Kalau membicarakan soal keyakinan kami sangat panjang ceritanya pak. Ajaran Tuhan itu tetap dan tidak ada bedanya antara agama satu dengan yang lain. Sehingga dari semua agama-agama ada kebenaran universal yang diajarkan oleh nabi Ibrahim yang mengatakan dirinya sebagai muslim”, urainya.
Itulah diskusi santai bimasislam dengan pengungsi Gafatar. Dalam obrolan langsung, mereka enggan disebut sebagai pengungsi eks Gafatar. Gafatar sudah lama tidak ada dan bubar. Menurutnya mereka lebih senang disebut sekumpulan individu-individu yang masing-masing bertanggung jawab.
Bimasislam juga bertanya apakah dia masih beragama Islam, dengan tegas dijawab: “KTP saya masih Islam”.
Saat bimasislam ingin membuktikan bahwa mereka telah meninggalkan ajaran pokok Islam, khususnya shalat lima waktu dengan menanyakan kepada penyuluh agama yang sedang bertugas, dikatakan bahwa mereka memang telah meninggalkan shalat lima waktu.
“Para pengungsi Gafatar tidak ada yang beribadah di masjid Asrama ini pak selama di sini, kecuali beberapa. Jadi berdasarkan wawancara dengan mereka, ajarannya telah meninggalkan ajaran pokok Islam, khususnya shalat lima waktu. Hampir semua mereka dari kampung-kampung yang beragama Islam. Dari sisi kemanusiaan, kasihan sih mereka itu”, tegas Umma, penyuluh agama Islam, kepada bimasislam. (thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



