Jakarta, Bimas Islam -- Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong Gerakan Wakaf Pegawai Bank Indonesia (BI) dapat menjadi salah satu contoh model penguatan ekosistem ekonomi syariah nasional. Menurut Menag, wakaf tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga instrumen strategis untuk membangun kesejahteraan, memperkuat solidaritas sosial, dan mendorong kemajuan peradaban umat.
Hal tersebut disampaikan Menag saat menghadiri peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai Bank Indonesia yang dirangkaikan dengan tausiyah "Muharram Murobbi" di Masjid Jami' Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta.
Menag mengapresiasi inisiatif Bank Indonesia yang meluncurkan Gerakan Wakaf Pegawai BI. Menurut Menag, gerakan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kesadaran kolektif untuk menjadikan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
"Wakaf bukan sekadar amal sosial, tetapi bagian dari pembangunan peradaban. Wakaf memiliki daya transformasi yang sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan sosial umat," ujarnya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Gubernnur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) menyerahkan bibit pohon asam jawa secara simbolis sebagai tanda komitmen bersama kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar (kanan), di Jakarta. Rabu, (24/6/2026).
Kegiatan tersebut ditandai dengan penyerahan bibit tanaman asam jawa secara simbolis dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, kepada Menag. Penyerahan bibit tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menumbuhkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, sejalan dengan filosofi wakaf yang manfaatnya terus mengalir lintas generasi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Gerakan Wakaf Pegawai BI merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional. Menurut Perry, wakaf memiliki potensi besar untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
"Program wakaf ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia," ujarnya.
Perry juga menambahkan, Bank Indonesia selama ini terus berupaya mendorong berbagai program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk melalui penguatan instrumen sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Sementara, dalam kegiatan yang diselingi tausiyah ini, Menag mengajak seluruh peserta kegiatan menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai sarana melakukan hijrah, tidak hanya pada level individual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kelembagaan.
Menag menjelaskan bahwa salah satu pesan utama hijrah Nabi Muhammad SAW adalah mentransformasikan masyarakat yang sebelumnya terikat oleh berbagai ikatan primordial menuju masyarakat umat yang lebih inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
"Kalau kita ingin cepat berkembang, mari kita hijrah dari konsep primordialisme menuju konsep umat. Masyarakat umat adalah masyarakat yang dibangun di atas nilai cinta kasih, visi bersama, dan orientasi kemajuan," ujarnya.
Menurut Menag, masyarakat modern tidak dapat lagi dikelola hanya berdasarkan kedekatan emosional, hubungan kekerabatan, ataupun kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, masyarakat yang maju harus dibangun di atas sistem merit, profesionalisme, dan tata kelola yang baik.
"Merit operation itu sangat penting. Dalam masyarakat makro, tidak bisa lagi menggunakan pendekatan like and dislike. Yang harus dikedepankan adalah meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan," tegas Menag.
Menag juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu menumbuhkan optimisme di tengah masyarakat. Seorang pemimpin, kata Menag, harus menjadi teladan, mampu menjaga harapan publik, serta menghadirkan energi positif bagi lingkungan yang dipimpinnya.
"Pemimpin harus menjadi imam yang mampu menghadirkan ketenangan, harapan, dan optimisme. Kepemimpinan yang baik akan melahirkan masyarakat yang kuat dan tangguh," ungkapnya.
Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa hakikat hijrah adalah proses perbaikan berkelanjutan. Karena itu, setiap individu maupun institusi dituntut untuk terus melakukan evaluasi dan pembaruan agar mampu menjawab tantangan zaman.
"Kalau kehidupan hari ini lebih baik daripada kemarin, itulah hakikat hijrah. Grafik kehidupan boleh naik turun, tetapi secara umum harus terus bergerak naik menuju kemajuan," tandasnya.
Melalui Gerakan Wakaf Pegawai BI, Menag berharap semangat filantropi Islam semakin mengakar di lingkungan masyarakat dan institusi negara. Dengan demikian, wakaf tidak hanya menjadi instrumen ibadah, tetapi juga motor penggerak pembangunan ekonomi syariah dan pemberdayaan umat di Indonesia.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



