Yogyakarta, bimasislam-- Di kaki bukit Gunung Merapi hari Minggu (3/4) kemarin, bimasslam menemui seorang salah seorang Penyuluh Teladan Nasional Tingkat. Seorang ibu, Azizah namanya, yang melakukan pembinaan lingkungan hidup dengan bahasa agama. Pertemuan pengajian yang rutin diadakannya diisi dengan pemberian keterampilan pengolahan sampah menjadi cinderamata yang menarik.
Berada di daerah binaan rawan bencana, Penyuluh Teladan Nasional Terbaik III Tahun 2015 ini begitu tekun memberdayakan ibu-ibu di Desa Pucanganom, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Pandeglang. Dibantu Ibu-ibu PKK Desa Pucanganom, perempuan yang berperawakan mungil dan lincah ini mampu menyulap barang-barang bekas makanan dan minuman yang biasanya terbuang percuma menjadi cinderamata yang berharga dan bernilai jual tinggi.
30 orang ibu yang bernaung dalam Kelompok Pucangsari yang pengangguran dengan kreasinya mampu diberdayakan menjadi perempuan-perempuan yang bertangan kreatif dengan pola Bank Sampah. Di tangan mereka, bekas kotak minuman dan bungkus makanan mampu menjadi Tas Kecil, Gantungan Kunci, juga Bros yang cantik dan bernilai seni tinggi. Dari hasil itu, mereka mendapatkan manfaat produktif dengan berpenghasilan kecil-kecilan.
Bagi Azizah, hal ini bukan hanya semata-mata karena tugas dan fungsinya sebagai Peyuluh Agama. “Ini dunia yang menyenangkan dan membanggakan. Kita mampu memanfaatkan barang-barang yang tak berharga menjadi bernilai ekonomi tinggi. Kami mampu memberdayakan masyarakat dari apa yang ada di sekitar kita dan tak bermodal tinggi. Kami jalankan semuanya dengan keceriaan”, ungkapnya dengan jujur.
Keberadaan Penyuluh Agama Islam yang sedang menempuh Studi S2 di UMY Yogyakarta ini diakui manfaatnya oleh Kepala Desa setempat dan Ketua Kelompok Pucangsari. “Saya sebagai Kepala Desa mendukung sepenuhnya apapun yang dibutuhkan oleh Bu Azizah untuk memberdayakan masyarakat sini”, demikian tegas Agus Supriyono saat pertemuan bersama dengan bimaislam.
Begitu juga pengakuan Bu Puji Dwi Rahayu, Ketua Kelompok Pucangsari, saat ditanya perbedaan suasana saat sesudah dan sebelum kehadiran Penyuluh Agama di kampung tersebut. “Sangat berbeda Pak”, ujarnya. Kami semakin mengerti bahwa apa yang kami lakukan lewat Kelompok Bank Sampah Pucangsari ini sesungguhnya merupakan ibadah kami kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Bagaimana tidak, tambahnya, dengan Bank Sampah kami terbantu secara ekonomi sekaligus membangun masyarakat yang sehat tanpa sampah. (Edijun)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



