Bogor, Bimas Islam — Penentuan arah kiblat di Malaysia dilakukan melalui prosedur baku yang menggabungkan ilmu falak, pengukuran geodesi, dan verifikasi lapangan. Standar tersebut dipaparkan dalam International Seminar on Islamic Astronomy and Rashdul Qibla on the Spot sebagai bagian dari upaya berbagi praktik baik antarnegara dalam meningkatkan akurasi arah kiblat bagi masyarakat.
Dosen Jabatan Fiqh-Usul dan Sains Gunaan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Mohd Saiful Anwar Mohd Nawawi menjelaskan, Malaysia menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) penentuan dan semakan arah kiblat yang dikeluarkan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). SOP tersebut menjadi pedoman bagi Jabatan Mufti Negeri dalam menetapkan arah kiblat masjid, surau, musala, hingga fasilitas umum.
“Setiap masjid atau surau yang akan dibangun wajib memperoleh kebenaran daripada pihak agama negeri dan menjalani proses pengukuran arah kiblat menggunakan kaedah yang telah distandardkan,” ujar Mohd Saiful Anwar dalam seminar internasional yang digelar Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Ditjen Bimas Islam, Rabu (15/7/2026).
Ia menerangkan, SOP tersebut mencakup lima tahapan utama, yakni pengambilan koordinat lokasi menggunakan teknologi GPS atau GIS, perhitungan azimut kiblat dengan perangkat lunak falak, verifikasi lapangan menggunakan teodolit atau metode Rashdul Kiblat, pengesahan hasil oleh Jabatan Mufti Negeri, hingga penerbitan Sertifikat Perakuan Kiblat sebagai bukti resmi.
Selain metode berbasis instrumen, Malaysia juga mengembangkan pendekatan edukatif yang mudah diterapkan masyarakat. Menurutnya, penentuan arah kiblat dapat dilakukan dengan memanfaatkan rasi bintang Orion (Buruj Belantik), Bintang Polaris, posisi matahari terbenam, hingga metode sederhana menggunakan ukuran jari tangan untuk memperkirakan sudut kiblat.
“Fenomena Istiwa A'zam menjadi antara kaidah paling tepat untuk menyemak arah kiblat kerana ketika itu matahari berada tepat di atas Ka'bah. Bayang-bayang objek yang tegak akan menunjukkan arah kiblat dengan sangat tepat,” katanya.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 fenomena Istiwa A'zam di Malaysia terjadi pada 28 Mei pukul 17.18 waktu setempat dan 16 Juli pukul 17.27 waktu setempat. Momentum tersebut dimanfaatkan melalui Program Satu Juta Kiblat Satu Ummah yang berlangsung selama bulan Muharam sebagai gerakan edukasi nasional agar masyarakat mampu memverifikasi arah kiblat secara mandiri.
Program tersebut melibatkan berbagai lembaga, mulai dari Jabatan Perdana Menteri, JAKIM, Jabatan Mufti Negeri, Universiti Malaya, Universiti Teknologi MARA, Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, hingga Persatuan Jurufalak Syarie. Menurut Mohd Saiful Anwar, kolaborasi lintas institusi menjadi kunci menghadirkan layanan arah kiblat yang akurat sekaligus mudah diakses masyarakat.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat mengatakan, pengalaman Malaysia memperlihatkan pentingnya sinergi antara otoritas keagamaan, akademisi, dan pemanfaatan teknologi dalam memastikan ketepatan arah kiblat. Praktik baik tersebut menjadi referensi berharga bagi penguatan layanan keagamaan di Indonesia.
“Seminar ini menjadi ruang saling belajar antarnegara. Indonesia, Malaysia, dan Singapura sama-sama memanfaatkan fenomena Rashdul Kiblat sebagai metode yang murah, mudah, dan memiliki tingkat ketelitian tinggi untuk mengkalibrasi arah kiblat,” ujar Arsad.
Ia berharap, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang seminar, tetapi diteruskan kepada masyarakat melalui edukasi dan pendampingan di daerah masing-masing. Menurutnya, penguatan literasi falak merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan keagamaan yang inklusif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Kegiatan ini merupakan rangkaian Peaceful Muharam 1448 H bertema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat” yang digelar Kementerian Agama. Melalui berbagai agenda edukatif, Ditjen Bimas Islam terus memperkuat literasi keagamaan masyarakat, sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar layanan keagamaan semakin mudah diakses, berdampak, dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



