Semarang, bimasislam— Zaman semakin maju. Perubahan budaya, perilaku, dan cara pandang remaja Islam berubah begitu cepat. Dahulu, remaja-remaja Islam masih teguh memegang nilai-nilai sosial dan agama. Sekarang, ditemukan banyak fenomena anak-anak remaja yang keluar dari koridor nilai-nilai agama. Tawuran, pergaulan bebas, gaya pop, dan budaya hedon menjadi hal yang biasa di lingkungan mereka. Karena itu, untuk membentengi remaja Islam dari kehidupan yang lepas dari akar-akar budaya, Pesantren Daarun Najaah Ngalian, Semarang, mengadakan Training Remaja Islam Gaul Ditinjau dari Psikologi Islam.
Senin (26/10), kegiatan training Remaja Islam Gaul dilaksanakan di Mushallah Pesantren yang dihadiri sekitar 100 santri, putra dan putri. Hadir sebagai pembicara tunggal, Dr. Thobib Al-Asyhar, M. Si, seorang penulis buku-buku remaja gaul, seperti Fikih Gaul, Sufi Funky, Remaja Berkarakter, Psikologi Islam, dan lain-lain. Tema yang diangkat dalam training ini adalah Remaja Islam Gaul, Apa dan Bagaimana.
Saat kegiatan berlangsung, peserta nampak sangat antusias. Dimulai dengan mengirimkan doa kepada kedua orang tua masing-masing, pembicara menyampaikan tentang bagaimana remaja Islam harus bersikap dan bergaul sesuai dengan nilai-nilai Islam. Berawal dari proses kehidupan awal sejak di rahim seorang ibu, ada perjanjian primordial dengan Allah, masa remaja, hingga akhir dari kematian.
“Remaja Islam gaul itu remaja yang mengerti akan tanggung jawab, tidak selalu mengikuti arus, lifestyle yang bertabrakan dengan nilai-nilai Islam. Coba lihat anak-anak TK sekarang sudah banyak yang pacaran. Anak SMP dan SMA banyak yang menggugurkan kandungan. Perilaku ngedrug (Narkoba) juga sudah menjadi fenomena. Ini adalah fakta yang harus dikenali, jangan sampai remaja Islam terbawa arus global seperti yang dapat merusak generasi. Meskipun kalian tinggal di pesantren, godaan hal seperti ini tidak menutup kemungkinan terjadi”, tegas dosen PPs Universitas Indonesia ini.
Lebih lanjut pengurus MUI Pusat ini mengatakan, untuk menjadi remaja Islam gaul, setidaknya harus melakukan beberapa hal, yaitu: pertama, tidak kuper namun perlu memilih dan memilah teman agar bisa mendorong remaja maju dan berkualitas. Kedua, menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi (menggunakan teknologi dengan benar). Jangan menggunakan teknologi hanya sekedar untuk hiburan. Menggunakan HP hanya untuk main media sosial.
Ketiga, menyukai tantangan yang positif. Untuk menjadi remaja yang tangguh harus menyukai tantangan, jangan lari dari masalah. Keempat, pandai memilih tontonan, bacaan dan aktifitas. Tontonan tidak selalu bisa menjadi tuntunan, maka bijaklah untuk memilih. Kelima, tidak malu belajar agama sebagai modal dasar bagi kehidupan di dunia. Keenam, terus berpikir positif dan meningkatkan kualitas diri. Kekuatan pikiran akan menntukan masa depan kita, maka janganlah sering berfikir negatif, sehingga dapat merusak masa depan.
Di akhir acara, para santri diminta unutk menguji bagaimana kekuatan pikiran. Mereka diminta untuk mengangkat tangan, memejamkan mata, menempelkan telunjuk dan jempol, dan konsentrasi penuh seakan-akan ada lem yang menempel. Saat mata mereka dibuka, ternyata ada yang menempel dan tidak bisa dibuka.
“Yang tidak bisa dibuka, itulah kekutan pikiran anda. Jadi jangan main-main dengan pikiran anda karena akan mempengaruhi jalan hidup anda”, tegas alumni UIN Jakarta ini. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



