Jakarta, Kemenag — Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama menerima kunjungan Ma’had Aly Takhassus Ilmu Falak Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus dalam kegiatan Rihlah Falakiyah, Selasa (15/9/2026). Kunjungan dipimpin Mudir Ma’had Aly TBS Kudus Ahmad Faiz dan diikuti 45 peserta yang terdiri atas muhadir dan mahasantri.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, rihlah falakiyah menjadi ruang bagi civitas akademika Ma’had Aly untuk memperluas wawasan mengenai pengembangan dan layanan ilmu falak yang dijalankan Kementerian Agama.
“Sebuah kebahagiaan dan ungkapan syukur kami haturkan atas rihlah falakiyah dari civitas akademika Ma’had Aly TBS Kudus yang dipimpin langsung oleh Mudir Kiai Ahmad Faiz beserta para mahasantri, khususnya yang memiliki takhassus Ilmu Falak,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Arsad menjelaskan, tugas dan fungsi Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, termasuk peran Kementerian Agama dalam bidang hisab rukyat. Salah satu layanan yang berkaitan langsung dengan masyarakat adalah penetapan awal bulan kamariah melalui sidang isbat.
“Di antara program di bidang Hisab Rukyat yang cukup dikenal di masyarakat adalah penetapan awal bulan kamariah, yang saat ini telah memiliki dasar hukumnya melalui PMA Nomor 1 Tahun 2026,” katanya.
Selain penetapan awal bulan kamariah, Arsad menyampaikan sejumlah layanan dan program lain yang dikembangkan Direktorat Urais dan Bina Syariah. Di antaranya konsultasi syariah dalam format digital serta penyebarluasan pengetahuan falak melalui media sosial, termasuk capaian 1.448K rashdul kiblat yang menjadi bagian dari edukasi masyarakat mengenai penentuan arah kiblat.
Menurut Arsad, pengembangan layanan tersebut menunjukkan bahwa ilmu falak tidak hanya berkaitan dengan kajian keilmuan, tetapi juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pertukaran pengetahuan antara lembaga pendidikan falak dan Kementerian Agama dinilai penting untuk memperluas pemanfaatan ilmu tersebut.
Sementara itu, Mudir Ma’had Aly Takhassus Ilmu Falak Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus Ahmad Faiz mengatakan, rihlah falakiyah ke Kementerian Agama menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasantri. Kunjungan tidak hanya diarahkan untuk mempererat silaturahmi, tetapi juga memberikan gambaran mengenai penerapan ilmu falak dalam pelayanan keagamaan.
“Rihlah ini menjadi sarana bagi para mahasantri untuk menambah wawasan, khususnya tentang ilmu falak dan bagaimana ilmu tersebut dilaksanakan dalam layanan Kementerian Agama,” ujar Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz menjelaskan, Ma’had Aly TBS Kudus memiliki perhatian khusus terhadap pelestarian dan pengembangan ilmu falak. Perhatian tersebut diwujudkan melalui pendidikan ilmu falak serta kegiatan rukyatul hilal yang dilakukan secara langsung, termasuk pelaporan hasil pengamatan.
Hal itu sejalan dengan pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan pentingnya menghidupkan kembali ilmu-ilmu Islam klasik, termasuk ilmu falak. Menag menyebut ilmu falak sebagai bagian dari warisan intelektual Islam yang perlu terus dipelajari dan dikembangkan. Menurutnya, ilmu falak bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan astronomi, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Menurutnya, penguasaan ilmu falak perlu berjalan beriringan dengan keterampilan menggunakan instrumen. Karena itu, pengalaman belajar secara langsung dan mengenal praktik layanan hisab rukyat menjadi bagian penting dalam memperkaya kompetensi para mahasantri.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama para mahasantri. Diskusi membahas pelaksanaan rukyatul hilal, penerbitan data ephemeris, pemanfaatan teknologi dalam pengembangan ilmu falak, serta peluang keterlibatan Ma’had Aly TBS Kudus dalam kegiatan Yas’alunaka ‘Anil Ahillah atau Catch The Moon pada kesempatan mendatang.
Ahmad Faiz juga menyampaikan apresiasi atas bantuan dana untuk pengadaan alat falak yang telah diterima Ma’had Aly TBS Kudus. Ia berharap komunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Agama terus terjalin sehingga informasi, pengalaman, serta dukungan pengembangan instrumen dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran dan praktik ilmu falak di lingkungan Ma’had Aly.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



