Jepara, bimasislam– Perbedaan keyakinan tidak lantas menjadikan masyarakat memiliki jarak dalam beraktifitas, mereka justeru menjadikan perbedaan sebagai rahmat, sebagai alasan hidup berdampingan.
Adalah masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Mereka telah sejak lama membuktikan bahwa merawat perbedaan itu sederhana tapi dampaknya sangat nyata.
Selama puluhan tahun masyarakat Desa Tempur hidup dalam keragaman agama. Minimal terdapat 3 agama di sana, yakni Islam, Kristen dan Budha. Simbol kerukunan bisa dilihat secara nyata melalui tiga bangunan suci yaitu Masjid, Gereja serta satu Tempat Ibadah umat Budha.
Kedua rumah ibadah dan satu tempat ibadah itu berada dalam satu area, jaraknya tidak sampai 10 meter dari masing masing lokais. Hal ini membuktikan bahwa toleransi beragama masyarakat Indonesia berjalan dengan baik, paling tidak yang terlihat di Desa Tempur.
Keindahan pemadangan tiga bagunan yang saling berhadapan itu menampah eksotisme desa Tempur yang merupakan wilayah pegunungan Muria. Alamnya masih asri layaknya hutan lindung. Mereka hanya menempati beberapa lereng gunung dan berdampingan dengan kehidupan hayati di sekitarnya.
Masyarakat Desa Tempur dikenal sangat ramah kepada tamu yang datang dari luar, baik mereka yang sudah dikenal maupun tamu Asing, dengan satu catatan tamu itu menunjukkan nilai nilai kesopanan. Kebiasaan menghormati tamu mereka tunjukkan melalui jamuan makan.
“Tolong pulangnya ditunda sebentar karena di dapur sedang masak, makan dulu baru silahkan melanjutkan perjalanan“, kata Sugianto, salah seorang warga Desa Tempur yang sempat kami kunjungi kediamannya (5/10).
Sambil menikmati semilir angin pegunungan, Sugianto menceritakan kalau kerukunan umat beragama di Desanya senantiasa terjaga karena seluruh masyarakat mengutamakan saling pengertian daripada perelisihan.
“Di sini para pemuka agama, aparat desa dan anak muda selalu menekankan petingnya saling pengertian dan tidak membiasakan masalah kecil menjadi besar“, terang santri lulusan Pesantren dari Kajen, Pati.
Meski mayoritas penduduk Desa tempur adalah umat Muslim, penganut agama lain tidak merasa terganggu. Hal itu terbukti dari tidak adanya masalah serius yang pernah terjadi meski Masjid, Gereja dan Tempat ibadah Umat Budha bediri sejajar.
Keistimewaan lain dari masyarakat Tempur adalah kehebatannya dalam mengolah sumber daya alam, yakni perkebunan kopi. Masyarakat Tempur dianugerahi tanah yang subur serta iklim yang tepat sebagai syarat utama penghasil biji kopi unggulan.
Sejak beberapa Tahun terahir banyak industri rumahan yang mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi jenis Robusta dan Arabica. Keaslian dan cita rasa tinggi Kopi asal Desa Tempur bahkan sudah langganan dikirim ke beberapa kedai kopi di kota kota Besar di Indonesia, bahkan beberapa mampu menembus pasar ekspor.
Secara geografis, desa Tempur merupakan wilayah pegunungan dengan mayoritas berprofesi sebagai petani. Profesi lain adalah pekerja meubel, seni ukir dan sebagian perempuan menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Sehari hari masyarakat menggunakan transportasi darat yakni sepeda motor dan kendaraan roda empat sebagai sarana aktifitas.
Jarak desa Tempur dari Kabupaten Jepara berkisar 61 km, dapat ditempuh kurang lebih 2,5 jam menggunakan kendaraan motor. Meski letaknya diapit beberapa gunug besar, Desa Tepur selalu ramai dikunjungi wisatawan. Tercatat ada beberapa lokasi wisata yang menjadi favorit, di antaranya Bukit Bejagan, Candi Angin, Kebun Kopi, Puncak Gajah Mungkur, Sumur Batu dan Pancuran Kali Lumut yang berlokasi di Dukuh Duplak desa Tempur.
Keistimewaan lain dari Desa Tempur adalah jumlah mushalla dan masjid yang berdiri di hampir sudut desa baik berukuran kecil maupun besar. Dilihat dari ketinggian seperti Desa seribu menara.
(syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



