Keluarga Sakinah dan KUA Teladan 2015
Jakarta, bimasislam— Pasangan asal Sulawesi Tengah, Mohamad Ma’ruf Bantilan (73) dan Nursyidah Kasim (70) terpilih sebagai juara pertama penganugerahan keluarga sakinah teladan tingkat nasional 2015 yang digelar Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama. Pasangan ini mengungguli peserta lain dari seluruh Indonesia dengan raihan nilai mencapai 624. Pasangan yang dikaruniai 4 anak, 6 cucu dan 2 cicit ini telah melewati usia pernikahan selama 45 tahun, rentang masa yang tentu tidak sebentar. Apa dan bagaimana pasangan ini menjalani kehidupan berumah tangga sehingga layak mendapatkan gelar juara dari penilaian dewan juri yang sangat ketat? ditemui bimasislam disela perhelatan penganugerahan gelar juara, pasangan ini bercerita tentang rahasia menjaga keharmonisan dalam berumah tangga.
“Kunci berumah tangga itu adalah, kita harus memahami bahwa suami istri merupakan dua insan yang berbeda, baik secara psikologis, maupun secara pengalaman. Untuk memahami perbedaan itu dibutuhkan toleransi dan saling pengertian di antara keduanya, itu yang harus dipahami sejak awal sebelum menyusul pada hal-hal lain seperti bagaimana kita berkomunikasi, bagaimana kita memecahkan masalah,, dan sebagainya.”
“Yang paling pokok adalah toleransi dan saling pengertian atas perbedaan suami dan istri. Sebuah negara akan aman dan tenteram, jika rumah tangga penduduknya terawat dengan baik, sebab keluarga adalah embrionya negara, embrionya masyarakat yang lebih luas.”
“Mensinergikan diri kita dengan pasangan bukanlah hal yang gampang, banyak variabel yang harus kita sikapi, misalnya kita harus memecahkan masalah dengan kepala dingin, bagaimana cara kita berkomunikasi, dan sebagainya. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah, jika rumah tangga tengah menghadapi masalah, selesaikanlah dengan musyawarah, jangan diputuskan melalui voting (antar keluarga), sebab voting itu merupakan pemaksaan kehendak. Perasaaan itu tidak bisa dirumuskan dengan angka-angka. Selesaikanlah masalah itu dengan musyawarah. Jika masalah belum selesai, mari cooling down, nanti saat hati dan pikiran sudah kembali jernih lanjutkanlah musyawarah. Namanya berkeluarga tentu tujuannya menyatukan insan yang berbeda, bukan berkeluarga jika semuanya sama.”
“Selagi air keruh, tunggu keruhnya turun, saat dimana air kembali bening baru kembali bicara. Jika sedang emosi jangan pernah ambil keputusan, sebab kita tak akan sampai pada keputusan yang tepat jika diambil dalam keadaan emosi. Jika rumah tangga menemui air yang keruh, jika perlu shalatlah dahulu, berdzikirlah, setelah itu barulah kembali bertukar pendapat.”
Demikian pula setiap istri hendaknya memahami bahwa khidmat pada suami adalah ibadah. Dunia ini adalah perhiasan, seindah-indah perhiasan adalah istri yang shalihah. Ciri khas istri yang shalihah adalah kesetiaan dan khidmatnya pada suami, kalau dipandang suami ia menyejukan, kalau diperintah ia patuh, sekalipun misalnya, ia memiliki penghasilan lebih tinggi daripada suaminya.
Berkaitan dengan manajemen keuangan rumah tangga, sepakatilah bahwa uang itu milik kita bersama, bukan ini milikku dan itu milikmu. Sekalipun harta istri adalah milik istri, hendaklah para istri memahami bahwa membantu suami, termasuk dalam urusan keuangan, adalah ibadah kepada Allah. Terakhir, Taatilah perintah Allah dan Rasul-Nya, niscaya rumah tangga akan bahagia. (ska/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



