Oleh:
Syafaat*
Beberapa tempat mengklaim Makam Dewi Sekardadu, Ibunda Sunan Giri, seperti di Dusun Kepetingan Desa Sawohan Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo, ada juga yang mengklaim berada di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan yang lebih dikenal lagi yang berada di Dusun Gunung Anyar, Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, dengan mengingat tempat ini berdekatan dengan makam Sunan Giri.
Masyarakat Gresik meyakini kalau makam Dewi Sekardadu dulunya justru berada di Blambangan yang sekarang dikenal dengan nama Banyuwangi. Konon makam Dewi Sekardadu berada di sebuah bukit. Mengingat jarak Kota Gresik dan Banyuwangi yang cukup jauh maka Sunan Giri bermunajat kepada Allah agar makam Dewi Sekardadu beserta bukitnya dipindahkan ke kota dimana beliau mengajarkan Islam pertama kali. Tempat dimana makam berada kemudian dinamakan Desa Gunung Anyar.
Di Banyuwangi sendiri, sebagai tempat kelahiran Sunan Giri, juga ada sebuah makam yang diyakini sebagai makam Dewi Sekardadu yang dikenal dengan makam Putri Atika atau Buyut Sayu Atika yang berada di Bukit Giri Kelurahan Giri Kecamatan Giri. Konon penamaan daerah dengan nama Giri ini dengan mengingat bukiut tempat dimakamkannya Buyut Sayu Atika yang diyakini merupakan ibunda dari Sunan Giri.
Mas Ayu Atika atau disingkat Sayu Atika diyakini sebagai nama Asli Dewi Sekardadu yang merupakan anak dari Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan pada awal abad ke- 14.berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, sebutan Dewi Sekardadu merupakan sebutan dari Putri kerajaan Blambangan sebagai Sekar Kedaton (Bunga Keraton), parasnya nan elok sebagai putri raja, Sayu Atika lebih sering disebut dengan panggilan Sekardadu, sebutan yang lebih singkat dari kata Sekar Kedaton, dengan penambahan kata Dewi di depannya sebagai penghormatan kepada putri yang dihormati, karenanya nama Dewi Sekardadu lebih dikenal daripada Sayu Atika, disamping Sayu Atika memang cantik, dia juga sangat cerdas, perpaduan kecerdasannya dengan suami kelak menurun kepada anaknya.
Sayu Atika merupakan isteri dari Syeh Maulana Ishak yang merupakan ayah dari Sunan Giri, salah satu wali songo yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa. Penikahannya yang dilakukan karena takdir sayembara yang diumumkan Menak Sembuyu, Raja Blambangan yang juga ayah kandung Dewi Sekardadu, penuh dengan liku dan intrik politik. Eatau pagebluk pandemi yang melanda Kerajaan Blambangan waktu itu yang juga menimpa Sekarkedaton, dibuat sayembara oleh sang Raja, bahwa siapapun yang dapat menyembuhkan putrinya, maka akan dijadikan menantunya.
Beberapa tabib telah dikerahkan dan beradu untung menyembhkan Dewi sang Sekarkedaton yang terkenal sangat cantik, kecantikan para gadis di ujung timur Pulau Jawa ini memang cukup di kenal sejak dulu kala, hal ini tidak berlebihan dengan mengingat kesuburan tanahnya yang dapat menyerap dengan sempurna sinar matahari sejak pagi, daerah di ujung timur pulau jawa ini dapat memberikan nilai gizi yang cukup bagi para penduduknya, wajar jika para gadisnya sangat elok dan cantik, terlebih putri raja. Tak heran jika sang raja sangat risau dengan kesehatan sang sekar kedaton.
Syeh Maulana Ishak, seorang pemuda dari tanah sebrang berhasil menyembuhkan buah hati dari menak Sembuyu, dan sebagaimana janji Sang Raja, maka dinikahkanlah dengan sang putri. Dalam akad nikah yang diinginkan Syeh Maulana Ishak yang mensaratkan adanya wali nikah yang seagama, menyentuh hati sang raja untuk memeluk Agama Islam, begitu juga dengan sang putri.
Intrik politik dalam kerajaan, terlebih dengan tahta kerajaan membuat konflik keluarga Yang membuat sang raja berpaling kembali, hal ini mengingat kekuasaan Raja yang dapat dirongrong para punggawanya jika mengikuti sang menantu, hingga terusirlah Syeh Maulana Ishak dari Istana, meninggalkan Sang Isteri yang sedang mengandung putranya.
Ketakutan akan kehilangan kekuasauan dari lingkaran Istana menyebabkan intrik untuk menyingkiran putra dari Syeh Maulana Ishak, berbagai fitnah dilakukan hingga putra yang dilahirkan Dewi sebagai Sekarkedaton juga harus disingkirkan dari istana. Sang bayi tersebut harus menemukan takdirnya sendiri ketika harus dibuang hingga ketengah lautan.
Kisah dari bayi pewaris tahta Blambangan telah jelas diceritakan, yakni menjadi seorang wali dengan julukan Sunan Giri, namun kisah tentang sang ibunda sampai saat ini ada beberapa versi, terutama tentang makam dari ibinda sang Wali, karena rasanya tidak mungkin jika seseorang mempunyai makam lebih dari satu.
Sebagian orang mempercayai bahwa Dewi Sekardadu hanyalah julukan dari Sayu Atika yang makamnya berada di Gumuk Giri (bukit giri) yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah Kelurahan dan Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Sebagian lagi mempercayai bahwa makam tersebut bukanlah makam Dewi Sekardadu, karena telah dipindahkan oleh Sunan Giri, agar sang putra tidak terlalu jauh jika berziarah ke makam ibundanya.
Perbedaan dalam cara pandang forklor (cerita rakyat) merupakan hal yang biasa, sebagaimana beberapa daerah di Jawa Timur yang mengkalaim makam Dewi Sekardadu. Bagi yang percaya bahwa Mas Ayu Atika atau Sayu Atika merupakan nama asli dari Dewi Sekardadu, mereka mempunyai dasar keyakinan tentang hal itu, begitu juga yang meyakini bahwa Sayu Atika atau Buyut Atika bukanlah Dewi Sekardadu dengan mengungkapkan berbagai bukti juga harus dihormati, mereka mengungkapkan argumen bahwa nama Atika merupakan nama pada zaman yang jauh setelah Dewi Sekardadu, tepatnya ketika Ibukota Blambangan sudah berada di Kota Banyuwangi.
Makam Buyut Atika yang berada dekat dengan Kota Banyuwangi berada diatas Bukit Giri, dari bukit ini kita bisa memandang kota Banyuwangi dari ketinggian. Sejarah Kerajaan Blambangan yang dinamis, berpindah pindah dari Teluk Pampang hingga ke Kota Banyuwangi saat ini dan kurangnya catatan peninggalan yang dapat dijadikan rujukan, mengakibatkan kurang akuratnya sebuah sejarah, namun cerita rakyat yang berkembang juga harus kita hormati, terlebih berkaitan dengan Sunan Giri yang lahir dari Dewi sekarkedaton kerajaan Blambangan.
Sejarah Kerajaan Blambangan sampai saat ini masih manjadi misteri, terlebih adanya beberapa versi yang berkembang. Sampai saat ini belum diketahui Siapa nama Asli Menak Sembuyu, sebagaimana masih menjadi perdebatan tentang Minak Jinggo sebagai Raja Blambangan yang melegenda. Begitu juga dengan Dewi Sekardadu yang diyakini makamnya ada di beberapa tempat dan mereka sangat yakin kebenarannya dengan beberapa argumen.
*Penulis adalah ASN pada kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.



