Jakarta, bimasisla-- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam melalui Direktorat Pemberdayaan Wakaf siap menjalin kerjasama dengan negara-negara Islam dalam pengembangan wakaf. Hal ini merupakan langkah strategis bagi penguatan pengelolaan potensi perwakafan yang selama ini belum dikelola secara maksimal. Seperti halnya kerjasama dalam bidang lainnya, kerjasama perwakafan juga menunjukkan perkembangan yang baik, terutama dengan negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah.
Senin (12/1) bertempat di ruang kerja Dirjen Bimas Islam, jajaran Bimas Islam dipimpin langsung Prof. Dr. Machasin, Sekretaris Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, Direktur Pemberdayaan Wakaf Drs. Hamka dan jajaran Ditdaya Wakaf, menerima kunjungan Konselor Bidang Kebudayaan Kedutaaan Besar Republik Islam Iran, Dr. Hujjatollah Ebrahimian. Dalam sausana hangat, kedua belah pihak berdiskusi serius tentang potensi kerjasama dalam bidang pemberdayaan wakaf.
Dalam paparannya, Dirjen Bimas Islam kembali menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan pemeluk muslim terbesar, berkomitmen untuk terus mengembangkan konsepsi nilai-nilai keislaman rahmatan lil’alamin. Indonesia telah mengambil peran besar dalam menjabarkan Islam dan demokrasi misalnya, yang mana hal ini menjadi rujukan bagi negara Islam dalam menerapkan prinsip demokrasi yang aman dan damai.
Pada saat yang bersamaan, lanjutnya, Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan berbagai negara muslim, sehingga tak mengherankan jika hingga kini kerjasama bilateral tetap terjaga dengan baik.
“Kerjasama dalam pengelolaan wakaf selama ini telah terjalin baik dengan beberapa negara muslim, baik dalam hal manajemen, SDM maupun infrastruktur perwakafan. Kami pikir ini sangat positif bagi penguatan bimbingan masyarakat Islam,” tuturnya.
Terkait dengan kerjasama antara pemerintah Iran dan Indonesia khusunya dalam pengembangan masyarakat Islam, mantan Direktur PP UIN Sunan Kalijaga ini menyambut baik niatan tersebut. Menurutnya, area tugas Bimas Islam sangat luas, sehingga kerjasama dapat dilakukan di berbagai bidang selama menyangkut moderasi Islam.
“Kami sangat terbuka menerima kunjungan dari negara muslim manapun, dan kami siap bekerjasama dalam pengembangan model keislaman yang moderat,” tuturnya.
Menyikapi hal tersebut, Dr. Hujjatollah Ebrahimian menyatakan bahwa pihaknya siap bekerja sama dalam tukar pengalaman pengembangan wakaf. Menurutnya, Republik Islam Iran saat ini memiliki lembaga yang khusus mengelola perwakafan, infak dan shadaqah. Kerjasama ini menegaskan bahwa posisi Indonesia sangat penting, terutama dalam pengembangan model moderasi Islam.
“Kedatangan kami adalah dalam rangka silaturahim, menjajaki kemungkinan kerjasama yang lebih luas dalam pengembangan perwakafan. Karena Indonesia dan juga Iran memiliki komitmen yang sama kuatnya dalam perwakafan ini,” ungkapnya.
Ebrahimian menambahkan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki pengaruh yang kuat di dunia Islam. Tak mengherankan jika ada banyak budaya Indonesia yang juga dikenal di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Iran.
“Indonesia memiliki banyak tokoh besar seperti walisongo, juga pesantren dan perguruan tinggi Islam yang telah berkontribusi bagi dunia Islam. Kami pikir harus pula ditransformasikan bagi dunia Islam,” pungkasnya. (kangjeje:foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



