Jakarta, bimasislam— Sebagai negara demokrasi dengan pemeluk Muslim terbesar di dunia, Indonesia banyak menjadi rujukan Negara-negara lain. Hal ini karenakeberhasilan Indonesia dalam menempatkan Islam dan demokrasi secara berdampingan. Tidak hanya dunia Barat, sejumlah negara Muslim kinijugatertarik untuk belajar tentang Islam di Indonesia.
Pada Kamis (30/4) Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam menerima kunjungan para ulama Afghanistan. Bertempat di Ruang Sidang Lt. 3 Gedung Kemenag Jl. MH Thamrin No. 6 Jakarta, Dirjen Bimas Islam didampingi Sekretaris dan sejumlah pejabat eselonII dan III, menerima kunjungan delegasi Afghanistan yang terdiri dari ulama pada KementerianWakaf, Kementerian Pendidikan,dan Majelis Ulama Afghanistan.
Abdul Ghofur sebagai fasilitator dari The Asia Foundation (TAF) menjelaskan maksud kunjungannya ke Indonesia. Menurutnya, TAF memiliki komitmen untuk memberikan wawasan kepada para ulama Afghanistan tentang moderasi Islam, khususnya di Indonesia. Kunjungan ini difokuskansebagai sharingpengalaman tentang demokrasi, peran ulama di Indonesia dalam pembangunan Indonesia, serta isu-isu sosial keagamaan lainnya seperti pluralisme dan gender.
“Para ulama Afghanistan sangat tertarik untuk mengenal Muslim Indonesia,pengalaman Indonesia ini harus ditransformasikan ke seluruh dunia Islam, agar moderasi benar-benar terwujud,” tuturnya.
Para ulamaAFghanistan merasaperlu menggali bagaimanaperan Kementerian Agama dalam mengelola keberagamaan di tengah keragaman Indonesia, hal yang sama dihadapi pemerintah Afghanistan.
Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Machasin, MA,menyambut hangat kehadiran para ulama Afghanistantersebut, terutama dalam rangka berbagipengalaman dalam membangun keberagamaan. Menurutnya, Indonesia memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan bagi seluruh pemeluk agama dalammenjalankan keyakinan sesuai dengan agamanya masing-masing. Karena Indonesia dibangun di atas keberagaman, sehingga keberagaman agama ditempatkan sebagai unsur perekat, bukan sebagai musuh.
Dikatakan Machasin, sekalipun Indonesia merupakan negara Islam terbesar di dunia, tetapi Indonesia menghormati kebebasan dalam beragama.
“Secara historis perlu diakui pula bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan oleh penganut agama-agama lain. Di awal kemerdekaan sempat ada keinginan untuk mendirikan negara agama, tapi kemudian usulan itu diformulasikan ke dalam lima sila sebagai dasar Negara yang disebut Pancasila” terang mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Agama itu. (Jeje/Syam/Ska/foto: bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



