Makassar, Bimas Islam -- Pendakwah muda Husein Ja’far Al-Hadar atau Habib Ja’far memaparkan tiga prinsip Islam sebagai pedoman menjaga lingkungan. Di hadapan lebih dari 5.000 peserta, ia menyebut tiga prinsip tersebut telah diajarkan Nabi Muhammad saw., yaitu iman, rahmat, dan akhlak.
Hal itu disampaikannya dalam acara Bincang Syariah Goes To Campus bertajuk “Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom” di Masjid Agung Sultan Alauddin, Kampus II UIN Alauddin Makassar, Senin (22/9/2025).
“Iman menjadi fondasi penting yang membuat ibadah terasa ringan. Tanpa cinta kepada Tuhan, ibadah hanya akan menjadi rutinitas belaka. Anak muda perlu meneladani kisah Ashabul Kahfi yang beriman teguh kepada Allah,” ujar Habib Ja’far.
Habib Ja’far mengaitkan pesan tersebut dengan kebijaksanaan ekologi (eco wisdom). Menurutnya, keimanan tidak hanya berwujud pada ayat-ayat qauliyah di Al-Qur’an, tetapi juga pada ayat-ayat kauniyah di alam semesta.
“Seseorang yang beriman pasti menjaga alam karena ia tahu alam adalah pertanda keberadaan Allah,” tuturnya.
Ia mengisahkan dialog seorang Zindiq dengan orang beriman yang menunjukkan kemustahilan keteraturan alam terjadi tanpa pencipta. Dalam kisah itu, orang beriman datang terlambat karena harus menyeberangi sungai.
“Ketika ditanya penyebab keterlambatan, ia menjawab bahwa ia sampai di seberang karena sebuah pohon jatuh tiba-tiba menjadi perahu sehingga dapat digunakan untuk menyeberang,” papar Habib Ja’far.
Penganut pandangan zindiq langsung menyanggah cerita tersebut dan menilai tidak masuk akal. Orang beriman itu kemudian menegaskan, jika pohon jatuh tiba-tiba menjadi perahu saja dianggap mustahil, maka lebih tidak masuk akal lagi bila bumi dengan segala keteraturan dan keindahannya ada tanpa pencipta.
Untuk itu, Habib Ja’far menegaskan bahwa bumi sebagai simbol manifestasi keberadaan Tuhan sebagai pencipta. “Menjaganya berarti menjaga keimanan kepada Tuhan, diri sendiri, sekaligus berdakwah kepada orang lain,” ungkapnya.
Nilai kedua, imbuh Habib Ja’far, yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah rahmat. Ia mencontohkan kisah Nabi yang menegur seseorang agar turun dari untanya yang sedang beristirahat. “Sebagaimana engkau istirahat, unta itu juga mau istirahat. Itulah rahmat Nabi kepada alam semesta,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai ketiga yang dibawa Nabi adalah akhlak yang agung, termasuk kepada tumbuhan dan binatang. Habib Ja’far menyebut, Nabi pernah mengingatkan agar manusia tidak menzalimi makhluk hidup, bahkan di situasi genting sekalipun.
“Kata Nabi, seandainya kiamat terjadi dalam satu detik lagi dan ada bibit tumbuhan di tanganmu, maka tanamlah. Sepenting itu, bahkan di kondisi genting sekalipun Nabi mengingatkan agar tumbuhan tidak terzalimi,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, yang hadir mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi antusiasme mahasiswa mengikuti kegiatan ini.
Ia menyebut, kegiatan Bincang Syariah Goes To Campus menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya menjaga bumi melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan. “Ini bagian dari dakwah yang kontekstual dan berdampak,” tandasnya
Bincang Syariah Goes To Campus merupakan rangkaian Bissful Mawlid 1447 Hijriah yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag. Program ini telah bergulir sejak 24 Agustus 2025 dengan pembuka CFD Mawlid Funwalk dan akan berakhir pada 2 Oktober 2025 melalui agenda penutup Ngaji Budaya: Haflah Maulid al-Rasul di UIN Walisongo Semarang.
Wcp/Mr



