Depok, Bimas Islam — Universitas Indonesia (UI) Depok menjadi titik ketiga pelaksanaan Bincang Syariah Goes to Campus yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama, Senin (29/9/2025). Sebelumnya, kegiatan serupa telah berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Alauddin Makassar. Tahun ini, kegiatan dikemas dalam tema Blissful Mawlid: Membumikan Shalawat, Merawat Jagat.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa tema tersebut menegaskan kebahagiaan umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad saw. yang tidak hanya diekspresikan secara ritual, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian sosial dan lingkungan. “Blissful itu artinya bahagia yang luar biasa. Kebahagiaan itu kita wujudkan dengan merawat jagat, menjaga bumi, dan menjadikan maulid sebagai spirit untuk peduli terhadap isu-isu kebangsaan,” ujarnya.
Menurut Abu, kampus menjadi ruang strategis untuk mengembangkan diskursus Islam yang relevan dengan persoalan kontemporer. Ia mencontohkan, tantangan pernikahan anak muda yang tercatat menurun drastis. Dari sekitar 70 juta penduduk usia menikah, hanya 1,5 juta pasangan yang menikah tercatat secara resmi pada 2025. “Ada 34,6 juta yang menikah tapi tidak tercatat. Nikah siri itu sah secara agama, tapi tidak tercatat di bumi, sehingga istri dan anak tidak terlindungi secara hukum. Kami ingin mendorong agar pernikahan tercatat di langit dan di bumi,” jelasnya.
Abu juga menyinggung pemberdayaan zakat dan wakaf sebagai instrumen filantropi Islam yang potensial untuk menghapus kemiskinan. Zakat, kata dia, telah mendukung program beasiswa dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program kampung zakat. “Kami ingin mustahik naik kelas menjadi muzaki. UI dengan segala potensi keilmuan dan SDM bisa berperan menjadi nadzir wakaf untuk mengelola aset demi kepentingan publik,” tuturnya.
Ia menambahkan, Bimas Islam kini juga mengemban tugas memperkuat peran penyuluh agama untuk menyuarakan isu-isu kesehatan masyarakat seperti stunting dan tuberkulosis. “Kami hadir di masjid, musala, majelis taklim, untuk mendakwahkan nilai agama sekaligus menyampaikan program pemerintah dengan bahasa yang mudah diterima. Ini bagian dari ikhtiar menjadikan agama sebagai energi kebaikan,” kata Abu Rokhmad.
UI menurutnya, adalah mitra strategis Kemenag. "Kehadiran kami di sini bukan hanya seremonial, tapi untuk membuka kolaborasi ke depan dalam riset, edukasi, dan dakwah yang berdampak nyata bagi umat,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengungkapkan, isu ekoteologi kini menjadi salah satu prioritas Bimas Islam. Ia mencontohkan, bencana banjir di Bali baru-baru ini tak lepas dari berkurangnya kawasan resapan air yang berubah fungsi menjadi kawasan bisnis. “Lingkungan kita tidak lagi ramah seperti dulu. Karena itu, agama perlu hadir dengan perspektif ekoteologi, mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” jelasnya.
Menurut Arsad, Bincang Syariah Goes to Campus menjadi wahana efektif untuk mempertemukan mahasiswa dengan para ulama, akademisi, dan influencer keagamaan. “Kita ingin isu-isu agama tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi dikaitkan dengan problem lingkungan, sosial, dan kemanusiaan yang sedang kita hadapi bersama,” katanya.
Arsad menambahkan, selain isu lingkungan, Bimas Islam juga mengembangkan program Nikah Fest di Masjid Istiqlal. Program ini memfasilitasi pasangan muda yang siap menikah namun terkendala biaya. “Ada 100 pasangan yang telah menikah melalui program ini. Bahkan BAZNAS juga membantu biaya usaha pasca menikah. Ini bagian dari ikhtiar menjaga generasi muda agar siap membangun keluarga sakinah,” ungkapnya.
Selain itu, Bimas Islam juga menggandeng para masjid travelers dan influencer untuk mengampanyekan konten-konten positif tentang masjid di media sosial. “Respons generasi muda sangat baik. Mereka merasa tertantang untuk memasukkan nilai-nilai religius dalam konten digital mereka,” kata Arsad.
Dengan kolaborasi bersama kampus seperti UI, Arsad berharap, gerakan ini semakin mengakar. "Kita ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga peduli lingkungan, sosial, dan keagamaan,” pungkasnya.
Kepala Subdirektorat Hisab Rukyat dan Syariah, Ismail Fahmi, menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang memperkenalkan kerja-kerja teknis Bimas Islam. Salah satunya penyelenggaraan sidang isbat penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, yang menggabungkan metode astronomi modern dengan fikih. “Sidang isbat adalah contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan syariah berjalan seiring untuk kepentingan umat,” jelasnya.
Ismail menyebut, mahasiswa UI diharapkan dapat berperan dalam pengembangan kajian hisab rukyat, mengingat kampus ini memiliki sumber daya riset dan teknologi. “Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dalam riset dan penguatan literasi astronomi Islam, agar generasi muda melek sains sekaligus paham fikih,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pencatatan nikah bagi generasi muda. Menurutnya, tren nikah tidak tercatat harus disikapi serius. “Kita ingin memastikan pernikahan sah secara agama dan sah secara hukum negara, agar hak-hak perempuan dan anak terlindungi,” kata Ismail.
Menurut Ismail, Bincang Syariah Goes to Campus di UI ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru. "Bahwa Islam tidak berhenti di masjid, tapi hadir menjawab isu-isu sosial, lingkungan, dan keluarga. Itu inti dari dakwah yang berdampak,” pungkasnya.
An/Mr



