Depok, Bimas Islam — Universitas Indonesia (UI) menjadi titik ketiga penyelenggaraan Bincang Syariah Goes to Campus yang mengangkat tema ekoteologi Islam. Dalam forum ini, Ustaz muda Gus Romzi Ahmad mengingatkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang syariah dan akidah, tetapi juga menyentuh aspek kebudayaan, peradaban, hingga ekologi.
Menurut Gus Romzi, banyak umat Islam masih memahami agama sebatas hukum dan doktrin ritual ibadah. Padahal, nilai-nilai Islam juga berkaitan erat dengan bagaimana manusia membangun peradaban, menjaga interaksi sosial, serta merawat jagat raya sebagai anugerah Allah. “Islam itu bukan hanya laws and doctrines, tapi juga al-hadharah wa al-thaqafah—Islam yang menyatu dengan kebudayaan dan peradaban manusia,” ujarnya.
Ia menegaskan, setiap aspek yang menyangkut hajat hidup orang banyak seharusnya diwarnai oleh nilai-nilai keagamaan. Dengan begitu, ajaran Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan hanya sebatas aturan ritual bagi individu. “Kalau bicara peradaban, idealnya nilai agama juga ada di sana,” tambahnya.
Dalam paparannya, Gus Romzi mencontohkan teladan Nabi Muhammad saw. yang memiliki relasi mendalam dengan makhluk hidup, termasuk tumbuhan. Ia mengutip kisah populer tentang pohon kurma yang biasa dijadikan sandaran nabi saat beristirahat. Ketika pohon itu ditinggalkan, ia menangis hingga kemudian nabi memeluknya.
“Kita bisa melihat bagaimana pelukan nabi terhadap pohon kurma itu layaknya pelukan seorang ayah kepada anaknya. Itu teladan luar biasa bahwa Islam sangat menghargai dan menyayangi tumbuhan,” tutur Gus Romzi.
Ia juga menyinggung larangan Nabi Muhammad kepada para sahabat agar tidak merusak lingkungan saat peperangan. “Dalam riwayat, nabi melarang membakar pepohonan, apalagi yang berbuah, meski dalam kondisi jihad sekalipun. Tidak boleh membunuh anak-anak dan perempuan, dan tidak boleh merusak tumbuhan sembarangan,” jelasnya.
Prinsip yang sama, menurut Gus Romzi, dilanjutkan oleh para khalifah setelah nabi. Bahkan, ada perjanjian tertulis yang menegaskan larangan merusak alam saat perang. Hal itu menjadi bukti bahwa Islam sejak awal menekankan etika lingkungan yang relevan hingga saat ini.
Gus Romzi menyebut prinsip-prinsip ekoteologi Islam harus terus disebarluaskan, termasuk melalui ruang akademik seperti UI. Ia berharap semangat peduli lingkungan tidak hanya datang dari kalangan Islam, tetapi juga dari umat beragama lain. “Agama-agama lain pun mestinya punya spirit serupa, bagaimana kita menjaga bumi bersama,” katanya.
Dalam konteks dakwah, ia mengingatkan agar umat tidak hanya fokus pada pembahasan doktrin keagamaan yang bersifat ritual. Agama juga perlu hadir pada ranah sosial yang menekankan kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab bersama menjaga kelestarian alam.
“Agama itu bukan sekadar mengajarkan ibadah ritual, tapi juga peduli pada masalah sosial, interaksi antar manusia, dan lingkungan. Ini yang harus kita hidupkan lagi dalam dakwah,” papar Gus Romzi.
Ia mengapresiasi inisiatif Majelis Ukhuwah Islamiyah UI yang menjadi tuan rumah kegiatan ini. Menurutnya, peran kampus sangat penting untuk menghadirkan wacana keislaman yang berdampak luas, hingga ke level internasional. “Semoga dari majelis ini syiar Islam bisa menyebar ke seluruh dunia, membawa pesan kemanusiaan dan ekologi,” ujarnya.
Di akhir paparannya, Gus Romzi mengajak mahasiswa, akademisi, dan tokoh agama untuk menjadikan isu lingkungan sebagai bagian integral dari dakwah dan kehidupan beragama. “Merawat bumi bukan hanya urusan ekologis, tapi juga ibadah yang bernilai spiritual. Kalau kita menjaga alam, sejatinya kita sedang menjaga amanah Allah,” pungkasnya.
An/Mr



