Oleh:
Syafaat Mohamad*
"Manusia di dunia sejenak tidur belaka. Dan tersibak mata sejak tiba kematian." (Binhad Nurrohmat, Nisan Annemarie, 2020)
Hari-hari ini nyaris seluruh masyarakat dunia memasuki masa terjaga. Sikap terjaga itu konon hanya disadari ketika manusia berhadapan dengan kondisi kematian yang hadir di depan mata. Sebagaimana potongan lirik puisi Binhad Nurrohmat di awal pembuka yang kemudian akan menjadi pokok tulisan ini, dalam sebuah ungkapan klasik Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun pernah disampaikan serupa, “Al-Naasu niyaam, idzaa maatuu intabahuu”, manusia itu sekadar terlelap, ketika mati barulah ia terjaga.
Meski memang keterjagaan itu belum mencapai masa di mana satu manusia dengan manusia lainnya saling meratap kosong dengan kertak gigi yang silih beradu, namun getir tangan yang menggenggam erat nomor urut panggilan acap bergetar, mengisyaratkan acak kelu.
Adalah pandemi sebagai proses menyebarnya penyakit menular yang diantarkan dengan mudah dari manusia ke manusia lain, oleh Direktur Jenderal Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyusus telah dinyatakan resmi menjadi status terbaru dunia (11/3/2020), yang disebabkan virus Corona atau lebih dikenal dengan COVID-19. Genap satu bulan sejak lonceng WHO itu berbunyi, angka kematian manusia telah melampaui 100.000 orang, dengan tren peningkatan yang terus bertambah, tak terkecuali apa yang terjadi di negara Indonesia yang menurut tingkat kematian rata-rata berada di nomor dua dunia atau nomor wahid di Asia.
Kutipan puisi Binhad adalah sebagian alasan kenapa tulisan ini dibuat. Sebagian alasan lainnya tentu saja adalah suasana yang menjadi latar utama kenapa puisi Binhad di tengah musim pageblug ini dinilai relevan. Ketika memulai hari-hari mengarantina diri selama satu bulan penuh atau tepat sebelum bertemu Puisi Binhad, sejak awal saya memang ingin berdamai dengan kondisi pandemi. Saya memulai dengan hal-hal ringan yang umumnya mungkin juga orang lain lakukan, seperti menonton film Contagion (2011), The Physcian (2013) atau sesekali membaca kembali Novel Sampar (1985) yang tujuannya tetap menjaga akal dan kewarasan setidaknya dengan mengetahui bagaimana wabah itu bermula maupun bekerja.
Dalam Contagion misalanya virus MEV-1 yang menyerang otak saraf manusia berasal dari seekor babi ternak yang memakan potongan buah di tanah, bekas dari gigitan kelelawar yang sebelumnya nongkrong di atap kandang. Pada The Phsycian wabah yang dikenal dengan Black Death, dengan ganas menyebar melalui tikus-tikus sebagai the carrier mematikan dengan penanda luka busuk menghitam pada setiap jasad manusia yang menjadi korban. Sedangkan pada Sampar bencana justru dimulai dengan ditemukannya bangkai-bangkai tikus yang mati bergelimpangan di tiap-tiap sudut rumah penduduk kota, diiringi kemudian orkestra kematian dengan bergugurannya satu persatu warga dengan gejala yang hampir sama, batuk-demam, mulut berliur, pembengkakan di leher, hingga munculnya benjolan keras dengan pamungkas kelenjar getah bening yang kejang-meradang.
Saya akui, bahwa dari tiga ulasan ringkas yang merupakan buah sikap saya untuk berdamai dengan pandemi barulah mencapai tahap pengetahuan to’, dan belum beranjak pada level yang lebih. Hingga pada akhirnya, lepas beberapa hari membosankan seiring dengan menjalani panjangnya status WFH,
Buku Puisi Binhad yang saya pesan awal april lalu telah sampai di tangan. Sebenarnya saya tidak mengenal Binhad secara personal, dan perolehan atas kumpulan puisinya itu pun berasal dari percakapan perdana yang ia buka melalui media sosial.
Ada apa dengan Binhad? Ah jangan Binhad, lebih tepatnya ada apa dengan saya? Kenapa saya memilih untuk melanjutkan upaya pelarian di masa pandemi ini dengan membaca karya Binhad? Apakah atas dasar kedekatan, karena 168 pertemanan saya di FB dengannya itu sama? Atau mungkin karena seputar karya, tema, tebal halaman, harga yang pernah ia tawarkan di kotak masuk FB? Ah entahlah, yang saya tahu dirinya adalah seorang penyair, yang dalam kurun beberapa tahun ke belakang telah asyik mengabdikan kesehariannya di sebuah pondok pesantren di Timur Jawa. Sebagai orang yang juga nyantren, modal terakhir ini saya anggap cukup penting, dan syahdan mungkin cukup pula untuk menjadikanya sebagai penutup alasan? Ah sekali lagi, entahlah.
Kumpulan Puisi Binhad, yang berjudul Nisan Annemerie ini terbit pertama kali pada awal April 2020, dan entah disengaja atau tidak, masa lahirnya buku ini berbarengan dengan situasi kian meningginya angka positif korban Covid-19 di dunia yang telah mencapai angka 1 Juta pasien, atau jika di Indonesia telah masuk angka 1.790 pasien (data terakhir positif Covid19 dunia per 11 April 2020 sebesar 1,78 Juta, Indonesia sebesar 3.842 pasien). Wal hasil, bak botol ketemu tutup bahwa kehadiran buku puisi Binhad tersebut bertemu simpang dengan konteks kecemasan dan kegamangan psikologis maupun spiritual masyarakat dalam menghadapi pandemic Covid-19 yang hari ke hari kian menggurita.
Lewat Buku Kumpulan Puisi; Nisan Annemarie ini sebagaimana diantarkan secara apik oleh Martin Suryajaya adalah pelajaran berharga dari sebuah tradisi hidup yang ditulis dalam bahasa maut. Di sini maut menurut bacaan Martin atas Binhad tidak diartikan sebatas hari libur yang membosankan karena datang secara tiba-tiba (dalam konteks pandemic Covid-19, semua aktivitas publik diliburkan, ia datang dengan tiba-tiba, tanpa sedikitpun bocoran batas ujung kapan ia akan berakhir). Maut dalam kumpulan puisi Binhad hanya dapat memiliki arti sejauh ia dikenali. Hmmm, lantas bagaimana pula maut atau kematian itu bisa dikenali?
Covid-19 yang saat ini berhasil menancapkan kakinya di 34 Provinsi di Indonesia adalah pandemi yang memberikan tumpangan bagi malaikat kematian, yang bisa menyapa siapa saja. Untuk mengenali Covid-19, melalui Puisi Binhad adalah dengan mengenali maut atau kematian itu sendiri. Hah, kematian, dikenali? Gila ini kematian, penting bangets dah kayaknya doi.
Siapa sebenarnya yang memiliki kepentingan dengan kematian? Apakah benar manusia? Jika merujuk Puisi Binhad, maka jawabannya adalah iya.
“Manusia, terakhir menghuni Bumi, kelak mengubur mayatnya sendiri.” (Kuburan Terakhir, hlm.3: 2020)
Dari penggalan puisi di atas, Binhad membuat saya benar-benar terjaga, dan mungkin juga Tuhan. Lah, kenapa? Iya, selain Binhad dan saya memiliki dasar keyakinan yang sama, yaitu bahwa Tuhan adalah sang pencipta manusia, dan berkat Tuhanlah manusia dipilih sebagai khalifah di muka bumi. Dari sini saya lanjut berpikir, kira-kira apa tugas terakhir dari sang khalifatul fil ardhi itu? Dari puisi itu, tugas terakhir manusia adalah mengubur mayatnya sendiri.
Wa ba’du, bersama Binhad, saya benar-benar mendapatkan bocoran tentang bagaimana sebenarnya babak akhir dari perjalananan manusia itu akan terlewati. Ya mengubur mayatnya sendiri. Dan betapa, sungguh intim dan lengketnya kepentingan manusia terhadap kematian bukan? Manusia hidup di muka bumi hanya untuk mengubur mayatnya sendiri.
Cara manusia memahami kematian bagi Binhad, menjadi sangat penting dan perlu. Mengapa? Apakah karena selama ini manusia berhasil bersembunyi dan kemudian menghindar sekejap untuk lari darinya? Atau karena manusia berpikir bahwa ia memiliki perangkat penunda, seperti kota, mesin pendingin, halaman rumah, sudut kamar tidur? Menjawab itu Puisi Binhad kembali berucap:
“Cuaca gerah di kota menghisap telaga dan mengisi gelas dengan pecahan es Mesin pendingin menjadi juru selamat sebelum seisi kamar meleleh terbakar”, (Taring Iklim, hlm. 44; 2020).
Mendukung tangkapan saya atas puisi Binhad lainnya ini, saya coba menyitir kembali kata pengantar Martin di buku ini, yang menyebutkan, “maut adalah kerja yang terus diperbaharui”. Orang bukan hanya hidup berdampingan dengan kematian; orang hidup dari kematian. Apa yang coba dipengantari Martin, adalah juga pengingat dari kondisi manusia (wa bil khusus “manusia kota”) yang sudah terlalu lama hidup dan terasing dari maut. Di kota ujar Martin, maut datang seperti iklan. Seperti ketika kita tengah menonton Youtube, lalu ada jeda iklan lima detik, seperti itulah rutinitas kerja –semacam hari libur yang datang secara acak, kata Martin.
Wal akhir, saya mengakui dan sekaligus bersaksi bahwa selama belasan tahun ini saya adalah manusia urban, yang kadung lelap tertidur bersama lena rutinitas kerja lengkap dengan perangka(t)p AC Kereta Listrik, AC Kantor, AC Masjid, AC Room Deluxe, Kipas rumah, diperantarai status surat tugas dan surat perjalan dinas, diperdaya kerangka acuan kerja (KAK/TOR), juknas-juknis, perkan-perkin, runstra-rwnstra, instrumen questioner, target output dan outcome pelayanan publik, diselingi sendaguraui ha-ha-hi-hi, sembari menyisihkan spesies penjaga bernama maut atau kematian yang sebenarnya tak pernah beranjak jauh dari urat nadi.
Menutup tulisan ini, sebagai wasilah diri, saya ingin kembali mengutip satu Puisi Binhad dalam Buku Kumpulan Puisi Nisan Annemarie ini:
Kepada Kuburan Anonim
Kepada siapa kematian berkata,
saat jasad dingin terbujur asing.
Lahir di dunia bersanding nama,
lalu mati bernisan anonim.
*Tulisan lawas "Lukata" April 2020, untuk mengenang kembali kepulangan guru-sahabat A. Khoirul Anam Juni 2021 serta babak-babak ziarah yg selalu baru.
*Pelaksana pada Ditjen Bimas Islam



