Jaja Zarkasyi
Dua tahun belakang, saya banyak membaca cerita anak-anak muda yang penuh inspirasi. Mereka bukan sekedar hadir untuk sebuah eksistensi, melainkan terlahir untuk mencipta inovasi dan melayani. Tak ada ragu dalam langkah kaki yang sepertinya terus bergerak, meski di kanan dan kiri terbentang beragam keterbatasan. Sebaliknya, keterbatasan mendorongnya untuk lebih kreatif dan tak jarang menjadikannya jembatan untuk yang lain.
Ini adalah kisah para Aparatur Sipil Negara (ASN), dahulu kita menyebutnya PNS. Mungkin sebagian orang masih apatis terhadap eksistensinya, mengingat ada banyak “pengalaman” kurang mengenakan saat mengurus keperluan di lembaga pemerintahan. Tak jarang, kesan malas, bodoh, ga jelas, disandang para PNS.
Layaknya manusia sebagai makhluk yang dinamis, saya justru masuk dalam fase optimisme yang mulai menanjak. Optimsime ini tidak lahir dalam ruang hampa, atau sekedar menenangkan diri. Ada banyak alasan untuk optimis, meski masih dalam skala yang belum terlalu besar. Namun, harapan akan lahirnya birokrasi yang melayani dan profesional sepertinya sedang menuju kesana.
Pertengahan 2014, Kementerian Agama meluncurkan regulasi baru tentang biaya pencatatan nikah, biasa disebut dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak Nikah dan Rujuk (PNBP NR). Sebuah terobosan untuk memotong berbagai “turbulensi” administrasi, menempatkan Kantor Urusan Agama (KUA) berada dalam sorotan. Kini, bukan hanya tata kelola administrasi yang semakin membaik, namun juga lahir sosok-sosok penghulu yang hadir dengan berbagai inovasi dalam melayani masyarakat.
Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, setiap Calon pengantin diharuskan menanam pohon di wilayah konservasi, mereka penyebutnya pepeling, artinya pengingat, kependekan dari Pengantin Peduli Lingkungan, sebuah program yang digulirkan pemerintah daerah Kuningan. Di Jawa Timur, ada layanan berbasis online bagi pengurusan pendaftaran nikah, tepatnya di KUA Tandes, Kota Surabaya. Di Kabupaten Natuna, ada KUA Pulau Tiga yang setiap hari harus menerjang ombak lautan demi sebuah peristiwa pencatatan nikah. Dan, masih banyak kisah-kisah lainnya.
Di ujung Selatan Sukabumi, Jawa Barat, ada kisah tentang kiprah Penyuluh Agama Islam (PAI) yang gigih membela konservasi alam, tepatnya di Kecamatan Ciracap. Mereka tidak sekedar berceramah, namun bermitra dengan pemerintah daerah menjaga konservasi alam melalui kegiatan keagamaan. Di Magelang, ada sosok perempuan hebat, Azizah namanya, menggalang Bank Sampah dan Koperasi Syariah berbasis Majelis Taklim. Di Kepulauan Riau, ada Maryono yang rela memoles Kijang Kapsul tua sebagai perpustakaan keliling ke desa-desa yang tak terjangkau. Di Pandeglang, tepatnya di Dusun Ciluluk, sosok Kyai Nur Zen begitu akrab dengan masyarakat, meski tanpa listrik dan MCK, memberi pendidikan secara gratis. Padahal ia sendiri hanyalah seorang honorer.
Rasanya luar biasa bisa mengenal mereka, meski sebagian tak sempat saya jumpai hanya melalui surat elektronik atau berita dari kawan-kawan peliput. Ada semangat yang begitu kuat mendorong saya untuk lebih bersemangat, memompa optimisme yang terlanjur meluntur saat matahari bergerak menuju sore yang penuh dengan kemacetan. Alhamdulillah, inspirasi mereka adalah motivasi saya untuk tetap menjaga optimisme.
Birokrasi Tanpa Basa basi
Mereka bukan sekedar hadir untuk absensi, menerima gaji, menghabiskan anggaran atau bahkan bersenang-senang. Tanpa pantauan dan pengawasan, sejujurnya dapat saja mereka bermalas-malasan. Toh, gaji akan tetap dibayar meski tak ada pekerjaan yang diselesaikan. Apalagi berada jauh di pedalaman atau kepulauan, ada banyak alasan untuk menolak bekerja; ombak yang terus mengganas, tak ada moda transportasi, tak ada fasilitas.
Lebih dari sekedar rutinita. Mereka hadir untuk melayani dengan sejuta rencana dan semangat, mencipta berbagai inovasi agar masyarakat terbina, agar generasi muda dapat mengenal agama, agar agama tidak sebatas aktivitas peribadatan namun juga sosial kemasyarakatan. Di sinilah mereka lahir untuk membawa perubahan, menggerakan spirit agama mengajak masyarakat berhijrah menuju kehidupan yang lebih tertib, tertata dan taat.
Kisah mereka mengajarkan bahwa birokrasi bukanlah sekedar basa basi. Birokrasi hadir tidak untuk menggugurkan kewajiban, tidak sebatas syarat kelengkapan pemerintahan, tidak hanya dijalankan apa adanya. Birokrasi hadir untuk terus berinovasi melahirkan berbagai pelayanan prima, memastikan masyarakat menjumpai negara hadir dalam setiap aspek kehidupan. Saat masyarakat membutuhkan, di situlah negara hadir lebih luas, tidak sebatas menggugurkan kewajiban.
Berbagai kegiatan dan program inovatif itu telah memperkaya ruang publik kita dengan kosa baru tentang arti birokrasi. Kini kita dapat menemukan berbagai arti birokrasi sebagai gerakan melayani, semangat berbagi, optimisme menembus keterbatasan, totalitas pengabdian tanpa batas, inovasi tanpa henti. Di ruang publik, bahasa agama tak lagi melulu berbicara hubungan vertikal manusia dengan Allah, namun mendorong manusia melakukan mobilitas lebih tinggi dalam mengaktualisasikan arti khalifah lebih luas. Tak mengherankan, jika kini penyuluh agama Islam juga berbicara tentang bank sampah, konservasi alam, perdamaian, kerukunan dan isu-isu sosial lainnya.
Birokrasi yang Ramah
Tugas kita adalah mentransformasikan nilai-nilai kebaikan itu kedalam dunia kerja. Kita tak perlu malu untuk belajar dari para ASN di pedalaman dengan dandanan dan fasilitas yang serba terbatas. Mereka telah mengajarkan kita arti melayani. Dalam kesederhanaan, mereka memberi arti untuk sebuah pengabdian, menciptak makna dan sejarah bagi kehidupannya. Tidak hanya untuk diri dan keluarganya, namun juga masyarakat luas yang heterogen.
Tugas lainnya adalah menciptakan ruang publik dalam birokrasi yang lebih ramah terhadap berbagai inovasi dan ide-ide kreatif. Keterbukaan informasi sebagai wujud akuntabilitas dan transparansi birokrasi dapat diwujudkan dengan memberi ruang yang luas bagi inovasi program dari seluruh ASN, tanpa terkecuali. Dengan keterbukaan itu kita akan memiliki bank ide dan inovasi yang dapat diterapkan secara tepat sasaran dan target. Lebih dari itu, ruang publik ini juga akan mendorong ASN lebih berdayaguna, bertanggung jawab dan kompetitif, sehingga berdampak baik bagi pelayanan kepada masyarakat.
Merawat asa adalah tugas selanjutnya. Semangat dan inovasi yang mereka lahirkan harus kita rawat dengan memberi dukungan, baik secara moral maupun berupa kebijakan. Bisa saja langkah inovatif itu memotivasi aparatur lainnya untuk ikut mengisi ruang publik dengan berbagai pelayanan terbaik. Karena itulah, semangat yang tengah membumbung itu jangan sampai padam, harus terus dihidupkan dengan berbagai langkah dan kebijakan.
Saya yakin, birokrasi yang ramah terhadap ide dan inovasi adalah birokrasi yang sehat. Sebaliknya, birokrasi yang acuh, kurang mendengar atau bahkan cenderung anti saran adalah pertanda tengah sakit. Karena kita butuh birokrasi yang ramah untuk Indonesia bahagia. Wallahu a’lam.
Jaja Zarkasyi, ASN pada Ditpena Islam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



