Magelang, bimasislam—Pagi itu Hamidah bergegas menyiapkan berbagai peralatan yang akan dibawanya ke ladang. Bukan sembarang ladang, ini adalah ladang binaan yang ia kelola bersama ibu-ibu majlis taklim Dusun Nariban, Desa Progowati, Kecamatan Mungkid, Magelang. Ya, diangkat PNS sebagai penyuluh agama Islam, ia tak bisa dilepaskan dari masjlis taklim, masjid dan musholla. Walhasil, kecintaannya terhadap dakwah telah merasuki setiap langkahnya.
“Kami desain kegiatan majlis taklim tidak hanya mengaji, tapi juga bagaimana menggerakkan perekonomian,” tuturnya membuka perbincangan dengan bimasislam.
Hamidah adalah penyuluh fungsional senior yang kini dipercaya sebagai Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. SEjak 2007, ia mulai merintis program pemberantasan buta aksara kepada ibu-ibu di wilayah Kecamatan Mungkid. Tak ingin usahanya sia-sia, ia pun bekerja sama dengan perangkat Desa, PKK Desa dan ormas keagamaan menyelenggarakan. Sejak saat itulah ia mendirikan Kelompok Koperasi Majlis Taklim Keaksaraan Fungsional (KMTKF). Dengan anggota pertama sebanyak 28 orang, 60 % diantaranya adalah buta huruf dengan pekerjaan sehari-hari sebagai buruh kasar dan berpenghasilan minim.
Di awal pembentukannya, komperais ini bermodalkan simpanan pokok sebesar Rp 20.000 setiap anggota dan simpanan wajib Rp 2.000 setiap bulan. Perlahan tapi pasti, usaha ini mendapat perhatian dari berbagia pihak untuk ikut serta mengembnagkannya. Salah satunya berasal dari BAZNA Provinsi Jawa Tengah. Hingga tahun 2016, aset koperasi telah mencapai angka Rp. 18.000.000.
“Kami memberdayakan ibu-ibu majlis taklim untuk berbagai usaha, sepetri pertanian, peternakan, warung sembako, jualan gorengan, produksi rempeyek kacang. Nah, bagi warga yang tadinya buruh kasar, mereka diberikan modal dari koperasi untuk membuka usaha baru,” ujarnya penuh semangat.
Perempuan kelahiran 1964 ini optimis, langkahnya besar ini sangat berguna bagi upaya penyuluhan di masyarakat. Agar langkah ini lebih fokus, ia bersama jajarannya melakukan pendampingan sebulan sekali dengan agenda kegiatan keuangan (angsuran, tabungan, simpanan wajib), evaluasi, penyampaian informasi baik yang berhubungan dengan program maupun informasi lain, serta tak lupa materi pemberantasan buta huruf melalui metode calistung. Lama pertemuan 2 jam, setiap kegiatan dimulai pukul 15.30 sampai pukul 17.30
Markhamah Kini Tak Lagi Resah
Namanya Markhamah(57). Sehari-hari kini ia berladang di atas tanah yang modalnya dibantu oleh KMTKF. Markhamah bertutur, awalnya ia mendapat pinjaman dana sebesar Rp.600.000,-. Dana tersebut ia belikan dua kambing kecil dapat dua akhirnya beranak pinak yang hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari hari masih bisa untuk kurban setiap tahunnya.
Tahun berikutnya ia mendapatkan pinjaman dana koperasi Rp. 300.000 ,- untuk menyewa sawah setahun luas 500 m atau setengah kesuk. Di ladang inilah ia menanam berbagai palawija, khususnya cabai.
“Alhamdulillah setiap tiga hari sekali saya bisa panen rata rata 17 Kg cabai merah. Saya kini bisa menyelesaikan pembangunan rumah dan untuk menyewa sawah yang lebih luas lagi,” tuturnya dengan senyum bahagia.
Seperti halnya Markhamah, Salmah (49)juga mendapat pinjaman dari koperasi sebesar Rp.200.000 untuk ia gunakan modal usaha rempeyek kacang. Usaha kecilnya ini berhasil menggerakan ekonomi keluarga setelah produk rempeyeknya ini mendapat respon positif dari warung-warung di sekitar rumahnya. Bahkan, kini ia juga melayani pesanan dari luar desa dan pesta-pesta.
“Alhamdulillah sangat membantu kebutuhan sehari-hari kami. Rata-rata sehari saya menghabiskan 10 Kg tepung.” tuturnya di seal-sela kesibukannya berdagang.
Bagi Hamidah, Markhamah dan Salmah adalah contoh hasil kerja keras semua pihak dalam menggabungkan penyuluhan dan pemberdayaan ekonomi. Di tangannya, Majlis Taklim tak melulu tentang mengaji, namun juga berfungsi sebagai penggerak ekonomi, meski itu dalam skala kecil.
(Alatief-Jaja Zarkasyi/foto:pokjaluhmagelang)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



