Jakarta, bimasislam--Indonesia dikenal luas sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tidak hanya itu, Indonesia juga kini sejajar dengan negara-negara dengan tingkat demokrasi yang terbaik. Hal ini didasarkan pada keberhasilan umat Islam dalam berdemokrasi, padahal di beberapa negara ummat Islam sangat resisten dengan demokrasi. Pola keberagamaan yang dikembangkan kaum muslimin Indonesia berkontribusi besar terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia.
Hal ini dikemukakan Burhanuddin Muhtadi, Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan direktur INDIKATOR Politik dalam paparannya di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Bimbingan Masyarakat Islam, (23/5).
Hanya saja, imbuhnya, kelompok agamawan sebaiknya tidak terjun ke politik praktis karena urusan politik itu antara halal dan haram bedanya sangat tipis. Bahkan Muhammad Abduh mengatakan: audzu billahi minas siyasah was siyasiyyin (aku berlindung dari politik dan politisi).
Terkait hal tersebut, Burhan menunjukkan hasil penelitian, bahwa 60% masyarakat muslim lebih percaya pemimpin yang demokratis ketimbang pemimpin yang otoriter. Hanya 20% saja yang setuju bahwa Indonesia harus dipimpin oleh sosok yang otoriter. Pada saat yang bersamaan, mayoritas masyarakat juga lebih memilih ormas Islam yang moderat daripada yang mengedepankan kekerasan.
Kondisi ini menjadi modal besar bagi Bimas Islam untuk membangun kualitas kehidupan beragama, mengingat infrastruktur telah tersedia.”Ormas Islam, penyuluh agama Islam, majelis taklim, BAZNAS, BWI dan lainnya, ini semua potensi Bimas Islam sebagai modal untuk melakukan langkah-langkah pembinaan. Saya pikir ini akan memudahkan bagi Bimas Islam, dengan syarat mampu menjalin kemitraan yang baik,” tuturnya.
Pada saat bersamaan, Mantan Presma IAIN Jakarta (kini menjadi UIN Jakarta-red) juga menyarakan agar jajaran Bimas Islam menjalin kemitraan yang strategis dengan media massa untuk menunjang pembangunan kualitas kehidupan beragama melalui image building. Baginya, betapapun besar dan banyak program dan prestasi Bimas Islam, takkan berarti jika masyarakat tidak mendengar atau membacanya.
“Media massa itu penting dalam building image. Ketika saya keliling eropa, mereka lebih banyak mendengar tentang sisi radikal ormas Islam kita ketimbang sisi humanisnya. FPI itu tidak melulu berbuat kekerasan, banyak juga loh mereka melakukan hal-hal humanis. Padahal, hanya sedikit mereka yang radikal ketimbang yang moderat. Nah, di sinilah kita harus lebih giat menyampaikan hal-hal positif melalui media,” pungkasnya. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



