Serang, bimasislam— Pada tanggal 23 Desember 2016 yang lalu, bimasislam melakukan kunjungan kerja ke sebuah KUA di wilayah Banten. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat langsung layanan KUA dan bertemu dengan Sang Kepala serta stafnya sebagai upaya meningkatkan peran KUA di tengah masyarakat. Berikut ini profil seorang kepala KUA yang biasa dipanggil Cak Narto.
Pembawaannya kalem. Bicaranya pelan dan hati-hati. Filosofi hidupnya sederhana, bermanfaat bagi orang lain. Satu hal yang patut ditiru darinya adalah sifat empatinya kepada sesama. Selain itu, dia tidak suka berbuat neko-neko hanya karena ingin memenuhi ambisinya. Itulah alasannya kenapa dia beralih profesi dari seorang pebisnis minyak tanah yang menggiurkan menjadi abdi negara. Kini ia melayani masyarakat dengan sepenuh jiwa, meski kondisi medan yang berat.
Namanya tidak panjang, Sunarto. Lulusan Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997 ini adalah Kepala KUA Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten. Provinsi Banten sebenarnya bukanlah daerah yang asing baginya sejak dulu. Semenjak kuliah di Ciputat (IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, red), pria kelahiran Lamongan Jatim ini sudah tinggal di Serang bersama saudaranya. Selain kuliah, dia juga membantu kakaknya berbisnis minyak tanah di wilayah Banten dan sekitarnya.
Menurut pengakuannya, dirinya ogah meneruskan pekerjaan lamanya karena lingkungan yang tidak kondusif. Dulu, bisnis sektor energi, katanya, penuh dengan lumuran noda. Kalau tidak nyogok untuk mendapatkan DO (Delivery Order), yang dilakukan adalah mengurangi takaran minyak sebelum dijual kepada pelanggan. Jumlahnya pun berjibun dengan keuntungan berlipat-lipat. Tidak heran, pengusaha minyak rata-rata memiliki uang melimpah, sehingga apa-apa yang diinginkan dengan mudah terpenuhi. Itulah kenapa dirinya tidak mau melanjutkan bisnisnya meskipun pernah menguasai distribusi minyak tanah sebanyak 18 truk tangki per hari atau sekitar 90.000 liter.
“Coba bayangkan, saya dulu belajar agama di pesantren yang mengajarkan bagaimana memegangi nilai-nilai agama. Lalu saya kuliah di Fakultas Syariah IAIN Jakarta. Siapa yang betah kalau setiap hari berdagang minyak dengan lingkungan yang keras, jauh dari nilai-nilai agama. Dulu saya banyak uang dari hasil usaha ini, namun saya akhirnya tinggalkan semuanya karena saya tidak ingin hidup ini tidak berkah. Belum lagi kalau saya melihat masyarakat sini yang masih jauh dari maju, kemiskinan dimana-mana. Makanya saya putuskan meninggalkan bisnis itu dan memilih menjadi pegawai negeri. Meski gajinya kecil, tapi senang bisa melayani masyarakat”, tuturnya.
Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sebenarnya tidak pernah dibayangkan lelaki kelahiran tahun 1973 ini. Ada idealisme yang membuncah saat dirinya pada akhirnya diterima dan diangkat menjadi seorang PNS. Selain ingin mengaktualisasikan ilmunya yang didapat di bangku kuliah, Cak Narto mencoba berkontribusi bagi lingkungannya. Dengan didukung pengalamannya selama 9 tahun sebagai penghulu di KUA KUA daerah “pinggiran” Kab. Serang. Saat ini ia dipercaya sebagai Kepala KUA Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten.
Kecamatan Lebak Wangi sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibu kota provinsi, Serang. Kira-kira bisa ditempuh selama 40 menit dengan perjalanan mobil. Hanya saja lokasinya belum sepenuhnya diaspal atau dibeton, sehingga perjalanan bisa lebih dari satu jam. Untuk sampai di lokasi harus menggunakan motor atau mobil dengan gardan tinggi karena melewati jalanan bebatuan yang tidak rata. Jalannya pun perlu ekstra hati-hati dengan memilih dan memilah bidang jalan yang kira-kira bisa dilalui agar goncangan kendaraan tidak merusak gardan dan suspensi. Jangan tanya kalau musim hujan tiba, dipastikan kubangan-kubangan air menjadi ancaman nyata bagi pengendara yang melewatinya.
Saat bimasislam mengunjungi ke kantornya, memang nampak sekali kecamatan ini belum terurus dengan baik. Infrastrukturnya yang masih minim dengan masyarakatnya yang tergolong tertinggal ada kesan bahwa wilayah kecamatan ini terisolir. Bagaimana dengan wilayah kerjanya? Dari 10 desa (kelurahan) dalam wilayah kecamatan ini, masih ada 3 desa yang belum bisa diakses dengan kendaraan roda dua. Bahkan ada satu desa yang hanya bisa ditempuh dengan menyeberangi sungai dengan sewa perahu eretan.
Itulah kondisi alam wilayah kerja Cak Narto sebagai penghulu, sekaligus Kepala KUA Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang. Saat ditanya jerih payah dalam melayani pencatatan nikah di wilayahnya, dirinya mengaku cukup berat pada musim hujan tiba. Beberapa kali dirinya harus mandi dua kali sebelum sampai ke tempat tujuan karena melewati sungai yang pasang, jalanan becek, dan desa yang dituju terkena banjir.
“Beberapa kali saya harus menyeberangi desa tempat pernikahan yang terkena banjir dengan angkat sepatu. Selain becek berlumpur, juga banjir karena luapan sungai Ciujung. Kalau sudah begitu saya harus mandi lagi di rumah kenalan (P3N) sebelum sampai di tempat tujuan. Tidak mungkin saya membatalkan janji karena sudah ditunggu oleh shahibul hajat meski harus ditempuh dengan susah payah.” Ujarnya sambil tertawa kecil..
Menurutnya, menjadi Kepala KUA di kecamatan ini membutuhkan kesabaran ekstra. Selain kondisi medan dengan pembangunan infrastruktur yang buruk, juga harus mampu beradaptasi dengan kultur setempat. Apalagi dia berasal dari Lamongan Jawa Timur yang sudah pasti berbeda tradisi dan kebiasaan masyarakatnya. Salah satu yang sangat mencolok dari kondisi masyarakat Lebak Wangi adalah banyaknya anak-anak muda yang menjadi TKI/TKW di Timur Tengah. Hampir bisa dikatakan mayoritas anak-anak mudanya merantau menjadi tenaga kerja di luar negeri, atau menjadi buruh pabrik di luar kota. Hal ini bisa dimaklumi karena wilayah ini tergolong masyarakat dengan kondisi ekonomi lemah.
Satu kondisi yang juga menjadi perhatiannya adalah banyaknya masyarakat yang tidak memiliki buku nikah, meskipun sudah puluhan tahun berumah tangga. Berdasarkan informasi, wilayah kecamatan ini merupakan hasil pemekaran dari gabungan desa-desa yang terisolir karena dipisahkan oleh sungai Ciujung, sehingga masyarakat enggan mencatatkan nikahnya di KUA. Bisa jadi pula memang mereka ogah berurusan dengan administrasi negara, atau bagian dari tingginya tradisi pernikahan di bawah umur yang tidak dibolehkan oleh peraturan perundang-undangan, sehingga mereka memilih untuk nikah sirri dan selanjutnya pergi untuk menjadi seorang TKW.
Melihat kondisi tersebut, saat ditanya bimas islam tentang program unggulannya selama menjadi kepala KUA, Cak Narto menyebutkan diantaranya adalah Program Pembinaan Remaja untuk pencegahan pernikahan anak. Bentuk programnya berupa kerja sama dengan SMP atau SMA serta organisasi Forum Anak yang ada di Kecamatan Lebak Wangi dalam bentuk sosialisasi tentang regulasi pernikahan dan pentingnya menyiapkan pernikahan baik secara mental maupun non mental. Menurutnya, jumlah pernikahan anak di kecamatan ini tergolong tinggi. Ada semacam kebiasaan, anak-anak lulusan SMP/MTs, atau SMA/MA terburu-buru menikah tanpa dicatatkan di KUA dan tidak lama setelah itu merantau menjadi TKI/TKW atau buruh pabrik. Kebiasaan ini sudah terjadi lama, sehingga banyak sekali pasangan nikah yang tidak memiliki buku nikah.
Sejurus dengan itu, Cak Narto kemudian mengintensifkan program Nikah Massal secara gratis dengan menjalin kemitraan dengan UPT BKBPMP dan Pengadilan Agama Kabupaten Serang. Goal-nya jelas, program ini untuk membantu, sekaligus mengajak masyarakat yang sudah menikah sirri dapat tercatat di KUA dan memiliki buku nikah. Banyak kejadian pasangan suami istri yang mau naik haji ternyata tidak memiliki buku nikah. Menurutnya, dari 100 pasang keluarga, hanya 20 pasang yang memiliki buku nikah. Tentu, jika nikah tidak tercatat ini dibiarkan akan berdampak serius ke depan bagi masyarakat, khususnya pasangan muda.
Program lain yang juga didorong oleh Cak Narto adalah pencegahan dan perlindungan remaja dari narkoba masuk kampung, bentuknya menjalin kerjasama informasi, konsultasi dan penyuluhan dengan PPTP2A polsek setempat.Kemudian program Gerakan Maghrib Mengaji dengan bekerja sama dengan para tokoh agama. Program ini merupakan kelanjutan dari program nasional untuk mengembalikan budaya leluhur dalam membangun karakter dan kemampuan membaca al quran bagi catin dan remaja Islam. Cak Narto mengaku bahwa kegiatan ini mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Salah satu cara yang dilaksanakan yaitu dalam bentuk pembagian mushaf Al-Quran kepada masjid, majlis taklim dan mushalla dari wakaf calon pengantin.
Tentu masih banyak program rutin yang dilaksanakan bersama staf-nya di KUA Lebak Wangi, seperti Kursus Calon Pengantin (Catin), pengelolaan administrasi wakaf, bimbingan manasik haji, dan masih banyak lagi. Catatan penting yang ditekankan Cak Narto kepada para stafnya adalah agar mereka melayani masyarakat dengan baik, transparan, dan bebas pungutan selain dari apa yang diatur oleh peraturan perundang-undangan. Dengan membersihkan diri dari pungli berarti kita membersihkan diri dari penghasilan yang subhat apalagi haram.
Sebagai pelayan masyarakat Islam, khususnya di bidang perkawinan, seorang penghulu atau kepala KUA juga harus mampu menjaga kebersihan diri, baik fikiran, perbuatan maupun ucapan. Secara spiritual, prilaku penghulu/kepala KUA akan berpengaruh secara langsung terhadap kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga pasangan yang dinikahkan. Demikian pandangan pria yang juga aktif mengamalkan 2 (dua) thariqah sekaligus ini, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Naqsyabandiyah (TQN) dan Syattariyyah di bawah bimbingan seorang guru mursyid di Jawa Timur.
(Thobib Al-Asyhar)



